Amerika: Tanah makmur yang tidak adil

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kesan awal saya terhadap Amerika adalah kemewahan, Hollywood, Broadway dan Silicon Valley. Namun ketika saya merasakan langsung, Amerika tidak bisa hanya dilihat dari sudut itu. Amerika adalah negara dengan GDP paling tinggi di dunia, namun mungkin banyak yang ga ngeh kalo Amerika juga adalah salah satu negara dengan ketidaksetaraan (inequality) paling tinggi di dunia, terutama dalam ukuran kesejahteraan. Artinya gap si kaya dan si miskinnya bagaikan moon to the earth back. Saya menyaksikan langsung satu area di Hartford, CT yang lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan, adalah area yang paling miskin. Ironis!

Dampak nyata dari ketidaksetaraan itu adalah tingkat pengangguran yang tinggi (6.2%), hampir setara dengan di Indonesia. Sebanyak 43.1 juta orang (13%) berada di garis kemiskinan yang berdampak pada 15.8 juta keluarga tidak mendapat akses makanan yang cukup (food insecurity). Saat tau fakta ini, saya agak ga nyangka. Mungkin karena kesan awal saya terhadap Amerika yang menganggap bawah mereka baik-baik saja. Padahal, inqueality dan food insecurity menjadi PR besar buat mereka!

Untuk dapet gambaran lebih banyak soal kemiskinan di Amerika, coba cek video berikut.

Saya sempat ditunjukan sama salah satu dosen ketika sesi di kelas. Kemiskinan di Amerika menurut saya adalah tipe kemiskinan yang berbeda. Tidak seberantakan di Indonesia. Terus menurut saya dan data yang didapat, kenapa food insecurity nya besar, salah satunya karena 82% orang Amerika itu tinggalnya di perkotaan. Istilah nya kalo di kampung tuh makanan gampang didapat. Tinggal berkebun aja! Lalab plus sambal doang jadi orang Sunda mah. Ga bakal ada term food insecurity segala. Hehe

Terus faktor immigrasi pun berkontribusi pada masalah kemiskinan di Amerika. Karena Amerika adalah negara dengan populasi imigran terbesar. Ya mirip lah sama kasus kemiskinan di Jakarta dan kota besar lainnya, yaitu banyak pendatang yang datang ga bawa skills, akhirnya ga bisa kerja, dan berakhir homeless.

Nah, selain bisa lihat langsung kemiskinan di Amerika. Hal penting lainnya yang saya dapet adalah bagaimana mereka berupaya menyelesaikan permasalahan itu. Setiap minggu, peserta program dijadwalkan untuk terlibat di kegiatan pengabdian masyarakat, salah satunya di FoodShare. Itu semacam food bank yang menerima dan mengumpulkan bahan makanan, yang kemudian didistribusikan ke organisasi lain yang mengolahnya menjadi makanan untuk disantap orang-orang yang membutuhkan.

whatsapp-image-2016-12-05-at-10-07-04-pm
Selesai community service di FoodShar. Photo credit: Ming

Selain ke FoodShare, saya juga berkunjung ke organisasi non-profit serupa, yaitu Billings Forge Works, Convenant Soup Kitchen dan DC Central Kitchen di Washington DC. Yang saya selalu salut sama mereka adalah.. segala sesuatu dikelola, dijalankan dengan serius dan terorganisir. Bahkan sampe memperhatikan branding! Ini baru namanya bekerja untuk sosial dengan membawa semangat bisnis.

15128854_10209280187739467_1468236764767537227_o
Mobilnya DC Central Kitchen

Di FoodShare, kita bantuin mengelompokan bahan makanan yang berasal dari berbagai tempat. Pada umumnya pendonor mereka adalah perusahaan besar seperti Walmart. Saya jadi belajar ngebedain berbagai jenis daging. Tempatnya FoodShare luas dan professional, seperti layaknya gudang mini market. Keren!

whatsapp-image-2016-12-05-at-10-07-04-pm-1
Yang cewe dari Cambodia, satunya orang Sumatera. Yang mendadak jadi cuci-cuci begituan. Photo credit: Teman YSEALI
whatsapp-image-2016-12-05-at-10-08-10-pm
Gudangnya FoodShare

Dijalankan dengan serius seperti itu saja, PR mereka masih banyak. Nah kita yang belum seserius itu gimana? Mudah-mudahan besok-besok kita serius juga deh. Amin

*Jadi posting ini bukan soal ketidakadilan karena saya harus sapu-sapu di depan salah satu gereja Willimantic ketika pengabdian masyarakat. Kapan lagi bisa sasapu di Amerika atuh!

Baca lebih lanjut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *