Banda: Pala, Kejayaan Masa Lampau dan Mental Terjajah

”Cita rasanya melayarkan ribuan kapal. Aromanya mengundang negara-negara Barat datang ke Nusantara”. Demikian Jack Turner menggambarkan bagaimana rempah Nusantara menggoda dan memikat dalam bukunya, Spice, The History of A Temptation (2004).

Akhirnya Sabtu kemarin bisa nonton film dokumenter Banda the Dark Forgotten Trail. Alasan final kenapa kekeuh mau nonton, karena saat Popcon Asia 2017, saya menghadiri talkshownya dan beli komik Bara — yang merupakan adaptasi dari dokumenter ini. Komik Bara yang digarap sama Kosmik ini, well executed banget dari segi penceritaan maupun visual. Jadinya bikin saya lebih penasaran untuk nonton filmnya.

Film ini memang berhasil mematahkan stereotype mengenai film dokumenter yang membosankan. Audiovisual nya maksimal dan sangat padat dengan fakta sejarah. Dan yang terpenting, film ini berhasil bikin saya sebagai penonton jadi pengen lebih tau dengan sejarah bangsa Indonesia.

Pala Banda
Pala Banda. Dok: Kompas

Berikut beberapa informasi dari film yang menarik buat saya highlight:

  • Indonesia di masa lampau sangat kaya akan sumber daya dan menggiurkan dan menyebabkan peperangan hebat antara Belanda dengan Inggris
  • Pala pernah menjadi komoditas yang sangat berharga di mata dunia, bahkan lebih berharga dari emas
  • Pada Perjanjian Breda, Pulau Run di Banda, Maluku Tengah, ditukar dengan Manhattan di New York City, Amerika Serikat
  • Genocide pertama di Nusantara terjadi di Banda. Dari 15.000 orang yang tinggal di Banda, menyisakan 1.000 orang saja
  • Banda menjadi tempat penting dalam sejarah Indonesia yang pernah dijadikan tempat pengasingan tokoh bangsa seperti Bung Hatta dan Sutan Sjahrir
  • Belanda menganggap Banda sebagai tempat yang penting dengan dibangunnya belasan benteng besar
  • Belanda pernah melakukan pembunuhan sadis kepada saudagar kaya dengan cara mengikat kaki dan tangan korban dan diikatkan kepada 4 kuda. Kuda dibuat lari ke 4 arah yang berbeda, sehingga tubuh korban terbagi.
  • “Melupakan sejarah, sama dengan mematikan masa depan bangsa ini”

Film ini membuat saya beripikir kembali tentang menjadi lebih dewasa sebagai anak bangsa

  • Harus mempelajari terus sejarah bangsa, sehingga bisa mengambil pelajaran darinya. Soal Jalur Rempah bisa dicek di Kompas dan Jalurrempah.com.
  • Berusaha menghilangkan mental terjajah yang selalu mengagungkan negara lain dan meniru budaya mereka. Tapi dengan tetap berpikir terbuka.
  • Sejarah Jalur Rempah Indonesia harus lebih diangkat dan menjadi potensi wisata sejarah
  • Produk rempah Indonesia harus diolah menjadi added-value product, ketimbang hanya menjual mentah

 

Yang belum nonton filmnya harus segera! Dan beli juga komik Bara di Kosmik.

 

Komik Bara
Komik Bara

Featured photo: Erlita Pratiwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *