Cuma 3 dokumen ini, saya bisa ke 7 negara bagian Amerika gratis!

Bisa mengunjungi Amerika adalah salah satu bucket list saya. Ga usah dijelasin panjang lebar kali ya, kenapa saya pengen ke sana. Karena banyak orang juga pengen bisa mengunjungi negara super power itu. Buat saya, karena budaya (film, musik) dan teknologi yang sudah merajalela di kehidupan kita.

Sebelumnya saya pasang beberapa gambar tempat tekenal Amerika di kamar. Tapi belum tau kapan dan bagaimana bisa kesana. Eh.. ga nyangka bisa secepet dan semenyenangkan ini. Mungkin ngaruh juga kali ya ketika orang-orang di circle saya sudah pada ke sana semua, jadi doanya makin kuat. Continue reading “Cuma 3 dokumen ini, saya bisa ke 7 negara bagian Amerika gratis!”

Life Event: Graduated from Bina Sarana Informatika

Yay! Akhirnya melewati fase ini. Banyak banget pengalaman dan perjalanan sebelum akhirnya lulus.
Sebelum lulus, gw sudah pernah bekerja secara professional di dua perusahaan. Pekerjaan pertama sebagai web developer selama 2 tahun di Bandung, pekerjaan yang menjadi mimpi gw sejak masih sekolah di SMK. Kemudian coba kerja ke Jakarta dengan role yang lebih general, sebagai project officer di Kibar. Pengalaman bekerja di Jakarta memberikan banyak pelajaran dan pandangan baru mengenai kehidupan dan karir yang akan terus bermanfaat buat gw. Continue reading “Life Event: Graduated from Bina Sarana Informatika”

TechLeader: The Beginning

Hari ini LeapUp untuk pertama kalinya bikin TechLeader workshop bekerja sama dengan Ganesha Pratama. Di dalam program ini ada tiga pendekatan yang dilakukan. Yaitu Technology, Leadership dan Entrepreneurship.

1. Why Technology?
Technology yg dimaksud di sini spesfik untuk digital tech dan informasi teknologi. 
Jika pada abad 19 adalah mengenai revolusi industri, electricity dan disrupting agriculture menjadi lebih canggih. Abad 20 adalah mengenai engineering, mesin-mesin yang memudahkan banyak hal keseharian kita seperti mulai adanya lemari es dan mesin cuci.

Continue reading “TechLeader: The Beginning”

Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World

Beberapa bulan yang lalu, temen saya Gilang pernah ngasih tau mengenai Blinkist.com, sebuah web yang menyediakan summary dari buku nonfiksi. Dengan Blinkist, kita menjadi lebih cepat mengambil intisari dari buku yang ingin kita baca. Salah satu rangkuman dari buku yang saya baca adalah bukunya Robert T. Kiyosaki, yaitu Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World dimana ia terkenal dengan sejak bukunya Rich Dad, Poor Dad yang rilis tahun 1998.

Continue reading “Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World”

Indonesia is The Next China, a Speech from Man of Ideas

Sejak Leap Up membantu project revamp website barunya Marketeers.com, tiap bulan saya berkesmepatan untuk membaca majalah Marketeers. Edisi Juni 2016 ini, topik utama yang dibahas adalah mengenai China 2.0, soal bagaimana perusahaan dari Tiongkok melakukan transformasi dari yang sebelumnya terkenal dengan harganya yang murah dan kualitas murahan, yang kini menjadi perusahaan yang harga terjangkau namun dengan kualitas bersaing.

Selain temanya sangat menarik, yang paling menarik buat saya adalah bagian rangkuman speech Pak Mochtar Riady di Jakarta Marketing Week bulan lalu. Saking sukanya, saya berkali-kali baca bagian itu. Karena suka, saya ingin menyalinnnya di sini, sehingga sewaktu-waktu bisa saya baca kembali dan pembaca Blog saya juga bisa membacanya. Speechnya sangat inisghtful dan positif! Silahkan disimak.

Continue reading “Indonesia is The Next China, a Speech from Man of Ideas”

The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey

I have just finished a book today. It’s “The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey” which I bought for only IDR 70k at Big Bad Wolf Book Sales.

This book contains the cyrstallized wisdom of one of the great teachers of our time, Dr. Stephen R. Covey. Compiled from various books and articles. Arranged under the decisive principles of life such as intergrity, life balance, vision, love, leadership and so on.

Too many great wisdom I got today from this book. These are my favorites:

“The key is not prioririze what’s on your schedule, but to schedule your priorities”

“Happines, like unhapiness, is a proactive choice”

“The key of life is not accumulation. It’s contribution”

“The greatest risk is the risk of riskless living”

“People are working harder than ever, but because they lack clarity and vision, they aren’t getting very far”

“Seek first to understand. Then to be understood”

“In the Industrial Age, leadership was a position. In the Knowledge Age, leadership is a choice”

“If you want to be trusted, be thrustworthy”

#book #leadership #stephenrcovey #sebarkansemangatmembaca #metagraf

Cross-posted with my instagram account @sutisnamulyana

Inilah kenapa financial literacy penting dipelajari sekarang!

Gw pernah denger mitos bahwa orang Sunda itu cenderung boros dan ga bisa nabung. Gengsinya tinggi dan mengutamakan penampilan. Makanya saking pengen gaya, ya ga ada uang buat ditabung. Tanpa bermaksud sara dan generalisasi tentunya, tapi gw memang mengiyakan mitos itu.

Dulu pas gw ngontrak di rumah sebelumnya, gw punya tetangga. Mereka adalah keluarga jawa yang merantau di Sumedang. Meski kita tetanggan, gaya hidup kita beda. Mereka serba berkecukupan tapi tetap sederhana, beda dengan gw yang gaya hidupnya udah daei dulu agak neko-neko. Seperti misal gadget harus standar terbaru dan baju harus dari distro. Tetangga saya itu adalah penjual bubur kacang dan punya usaha menyewakan becak tapi suami dan istri sudah naik haji. Beneran loh sinetron tukang bubur naik haji tuh kejadian sama tetangga gw. Nah keluarga gw sampe sekarang belum ada yang naik haji, atau setidaknya umroh lah. Belum ada!

Dari menarik kesimpulan pribadi bahwa, perbedaan itu ada karena perbedaan dari mengelola uang. Dan gw ingin keluar dari mitos orang Sunda diatas yang sempat gw yakini.

Pas berkunjung ke Big Bad Wolf Book Sales di ICE – BSD City, gw menemukan satu buku tipis dengan judul “Save Your Money!” Bebas Utang, Banyak Uang. Dari judulnya aja gw ga mikir lagi bahwa ini buku yang gw butuhkan.

Financial literacy (sederhananya melek soal finansial/keuangan) menjadi sangat penting buat gw, karena gw harus bisa menjaga cash flow perusahaan yang sedang dirintis. Meski dibantu sama istri, tetap saja pengetahuan kita soal keuangan dan akuntansi masih di bawah rata-rata. Ditambah gw juga harus ngerti gimana mengelola keuangan keluarga, management utang yang beberapa kasih harus dilunasi.

Buku yang gw beli 5000 rupiah ini memberikan tambahan insight buat gw belajar financial literacy, diantaranya:

1. Utang
itu ada dua jenis. Ada yang jenisnya konsumtif, ada yang produktif. Kalo komsumtif itu adalah sesuatu yang ketika lo beli, harganya akan terus turun. Misal gadget, elektronik, makanan, pakaian dll.

Kalo yang produktif, adalah yang bersifat investasi. Harganya kedepannya akan naik dan terus memberi manfaat. Seperti tanah, emas dll.

Beberapa barang yang gw punya, banyak yang hasil ngutang. Seperti Smartphone Nexus gw pas beli harga 5 juta, dicicil 12x, laptop Macbook Air harga 15 juta-an dicicil 4x. (Thanks to my prev bos to help me on these). Meski masuk ke barang konsumtif, itu tetep gw jadikan produktif, karena berdampak langsung sama produktivitas gw dalam bekerja. Bayangkan aja kalo misal gw masih pake laptop yang lama…

Kalo kita punya cicilan, jangan lebih dari 36% dari pendapat per bulannya supaya bisa stabil.

2. Pengeluaran
Ini juga jenis kan macem-macem ada yang wajib, primer, nabung/investasi, sekunder. Gw kadang uang habis di hal yang sekunder ketimbang konsisten dengan investasi.

Gw pribadi harus lebih bijak dan menimbang-nimbang ketika membeli sesuatu karena sadar gw harus merencanakan masa depan (dana pendidikan pribadi, anak, rumah, dana pensiun dsb). Jika tidak dikelola dari sekarang, gw tidak akan pernah merasa cukup, seberapa besarpun pendapatan gw.

3. Rencana Pelunasan Utang
Untuk yang satu ini, gw sudah agak mending. Karena dari sejak dulu gw punya tabel monitoring untuk utang. Jika lo belum punya bisa mulai bikin. Dengan begini, kita jadi punya gambaran jelas berapa lagi yang harus dibayar, kapan harus dilunasi dan jika mau mempercepat pelunasa harus seperti apa.

Karena gw anaknya Google banget, gw bikin monitoring utangnya di Spreadsheet. Sebetulnya kalo lo ga terbiasa, bisa juga cek aplikasi related to utang management seperti lunas.in misalnya.

Mudah-mudahan istikomah ya belajar financial literacy-nya.

Ditulis di bus Primajasa perjalanan Cileunyi-Lebak Bulus.
Cover photo: finlitkids.com

Give and Take: A Revolutionary Approach to Success

Akhir pekan ini, gw lagi mood untuk baca dan nulis. Kemarin dari abis sholat subuh akhirnya bisa kelarin Work Rules dan langsung nulis summarya supaya bisa gampang kalo suatu saat butuh lagi isi bukunya. Hari Minggu ini moodnya masih ada dan akhirnya gw beresin buku Give and Take: A Revolutionary Approach to Success (ini juga hasil pinjeman udah lama banget, sempet dititip lama di kosan temen di Jakarta pas pindahan lagi ke Sumedang).

Buku ini ditulis oleh Adam M. Grant seorang profesor muda di Wharton School of the University of Pennsylvania dan tentu saja seorang penulis. Selain buku ini, buku lain yang lumayan terkenal adalah Originals: How Non-Conformists Move the World. Kentara banget sih kalo yang nulis adalah akademisi. Bukunya penuh dengan data hasil berbagai research yang relevan dengan bahasan. Tapi menurut gw bukunya agak boring sih. Meski di sini banyak ceritanya, tetep agak kaku. Dan sama sekali ga ada gambar. Ada diagram-pun kalo ga salah cuma satu. Makanya gw banyak skip sih di beberapa bab. Meskipun begitu, banyak pelajaran penting di buku ini.

Yang membuat gw tertarik untuk membaca buku ini adalah karena judul dan bahasannya sesuai dengan apa yang diajarkan islam melalui berbagai keterangan tentang membantu, memberi dan berbuat kebaikan untuk orang lain.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Di buku ini, dijelaskan bahwa ada 3 kategori/style manusia berinteraksi.

  1. Giver adalah tipikal orang yang ketika membantu mungkin tidak terlalu memikirkan cost-benefit analysis bahwa apakah yang dia berikan sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Atau bahkan ketika membantu tidak mengharapkan timbal balik apapun.
  2. Taker adalah tipikal orang yang ingin mendapatkan sesuatu lebih banyak daripada yang bisa dia berikan dan meletakan kepentingan pribadi diatas orang lain. Takers percaya bahwa dunia sangat kompetitif, “dog-eat-dog” place. Mereka merasa bahwa untuk sukses, dia harus lebih baik daripada yang lain. Untuk membuktikan kompetensinya, mereka self-promote dan make sure mereka mendapatkan credit dari semua effort yang dilakukannya.
  3. Matcher adalah tipikal orang yang mengharapkan sesuatu yang seimbang antara apa yang dia dapatkan dengan apa yang dia berikan. Mereka memegang teguh prinsip keadilan dalam membantu orang lain.
3 kategori itu tidak hanya untuk orang-orang yang melakukan sedekah atau ikutan social project, tapi juga untuk kita yang bekerja di sebuah organisasi maupun bermasyarakat. Dari ketiga ketagori itu, mana yang menurutmu yang menjadi paling sukses di karir/kehidupan?
Di awal bab penulis menceritakan kisah tentang entrepreneur yang sedang mencari dana dan seorang investor. Dikisahkan bahwa investor di cerita itu adalah seorang giver. Dan karena dia giver, dia mendapatkan hasil yang kurang begitu menguntungkan. Di cerita ini seolah menunjukan bahwa menjadi giver akan berada di disadvantage situation. Dan tahukah kamu bahwa itu benar adanya! Seorang giver berada di paling bawah tangga kesuksesan pada berbagai bidang penting.
Taker dan matcher berada di level rata-rata tangga kesuksesan. Lalu siapa yang berada di level teratas tangga kesuksesan? Dia adalah giver! Ko bisa gitu ya? Bisa.. karena givers itu bisa dibilang ada dua jenis. Nih gw bikinkan diagramnya.
Ini satu-satunya diagram di bukun ini yang ditampilkan sangat sederhana

Gw coba rangkum bedanya ya:

  1. Selfless givers adalah orang yang mengutamakan kepentingan orang lain tapi sangat menyimpan kepentingan diri pribadinya jauh dibawah itu. Mereka memberikan waktu dan energi mereka tanpa memperdulikan kebutuhannya.
  2. Otherish givers adalah tipe givers yang paling baik. Mereka membantu orang lain, bahkan tanpa pamrih namun tetap memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dirinya. Insted of pusing dengan self-intreset dan other-interset, mereka kadang mengintegrasikan keduanya sehingga menjadi sesuatu yang lebih baik. Misal nih kita mau berbuat baik untuk bantu anak jalanan belajar membaca. Selfless giver mungkin saja melakukannya pulang sekolah/kuliah/kerja, padahal belum makan dan ada beberapa janji ketemu orang. Yang akhirnya meski melakukan hal yang baik, kita mengorbankan hal baik lainnya.  Otherish mungkin punya strategi yang baik untuk melakukan hal itu, dia akan membantu anak jalanan itu setelah makan dan komunikasi untuk reshcedule janjian sama orang.
Dan kategori orang yang levelnya paling tinggi di tangga kesuksesan adalah mereka yang otherish givers.

Jika sebelumnya kita tahu bahwa yang ngedrive kesuksesan adalah hal-hal yang fokus kepada diri kita seperti passion, hard work, talent dan keberuntungan. Kini tidak hanya itu. Kesuksesan sekarang juga ditentukan dari bagaimana kita berinteraksi dengan yang lain. Buku ini coba membuktikan bahwa dengan berbuat baik dan menjadi giver tetap bisa menjadi sangat sukses. Untuk cerita lebih dalam mengenai apa yang ada di buku ini, silahkan beli di toko terdekat atau pinjem temen. hehe

Islam telah mengajarkan kabaikan ini sejak lama, Barat baru belakang ini saja menyadari hal ini. Dan sudah seharusnya lah kita menerapkan dan mempromote hal ini lebih dari yang dilakukan mereka. Menanggapi pandangan Barat yang sesuai dengan islam menurut gw bagus, karena mereka selalu membuktikannya dengan hasil research. Menjadi pelengkap referensi kita bahwa sikap giver bisa menjadi giver yang sukses apapun profesi kita.

Karena penulis juga adalah Ph.D. in organizational psychology, ga heran kalo di dua bukunya, dia bikin online assesstment, dan gw sudah coba ngambil dan ini hasilnya.

Mudah-mudahan bener ya kenyataannya! Amin

Jadi kamu giver, taker atau matcher?