Work Rules: Checklist to transform team & workplace

Google menginspirasi gw di banyak hal. Dan Alhamdulillah sejak terpilih jadi Google Student Ambassador gw semakin mengenal Google lebih dekat dan mendapatkan akses ke berbagai hal yang berhubungan dengan Google yang sering juga gw catat di blog ini.

Gw yakin, Google tidak hanya menginspirasi gw, tapi juga jutaan orang di seluruh dunia. Selain berbagai inovasi produknya, yang membuat gw kagum adalah bagaimana mereka memperlakukan orang-orangnya.  Google mendapatkan pengakuan #1 Best Company to Work For di berbagai negara, #1 Top Diversity Employer dan the best company for women in technology.

Sebagai Google fan boy, gw ingin mempelajari lebih dalam bagaimana Google dijalankan dan bagaimana memperlakukan karyawannya. Hal itu sangat relevan karena saat ini gw sedang merintis perusahaan, Leap Up. Hasil pinjem buku Work Rules dari ce Febria, akhirnya gw beresin dalam waktu sebulan 2 minggu. Lama banget sih beresinnya, karena bulan February kemarin banyak interupsi dan karena ini bukunya bahasa Inggris, jadi sambil buka kamus sesekali. hehe

Buku ini ditulis oleh Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operations nya Google. Semacam kepala HRD lah kalo di Indonesia mah. Buku ini memang bicara soal Google dari sudut pandang dia sebagai HR, tapi lewat buku ini kita bisa kenal lagi culture-culture yang diterapkan Google seperti keterbukaan dan freedom. Buku ini pas banget dibaca sama founder startup, karena bisa mulai menerapkan ide dan inovasi people operation Google meski di tim yang masih kecil.

Gw tuliskan beberapa point penting dari setiap chapter untuk sebagai reminder pribadi maupun pembaca blog gw:

Chapter 1

Work rules.. for becoming founder

  1. Choose to think of yourself as a founder
  2. Now act like one
“..My job as a leader is to make sure everybody in the company has great opportunities, and they feel they’re having a meaningful impact and are contributing to the good of society..” Salah satu quote dari Larry yang menggambarkan bagaimana seorang leader seharusnya berpikir.

Chapter 2


Work rules.. for building a greate culture

  1. Think of your work as a calling, with a mission that matters
  2. Give people slightly more trust, freedom, and authority than you are comfortable giving them, if you’re not nervous, you haven’t given them enough


Chapter 3

Work rules.. for hiring

  1. Given limited resources, invest your HR dollars first in recruiting
  2. Hore only the best by taking your time, hiring only people who are better than you in some meaningful way, and not letting managers make hiring decisions for their own teams.
Cara mereka rekrut orang sangat ninja. Mereka tidak kompromi pada kualitas dan hiring decision ditanggapi sangat serius.

Chapter 4

Work rules.. for finding exceptional candidates

  1. Get the best referrals by being excruciatingly spesific in describing what you’re lookimg for
  2. Make recruiting part of everyone’s job
  3. Don’t be afraid to try crazy things to get attention of the best people
Point 2 itu beneran. Sekitaran bulan Januari/Febuary gw dibantuin sama salah satu kenalan Googler yang kantornya di Singapore untuk apply suatu posisi. Dan dia yang langsung referalin. Seminggu kemudian ada balasan bahwa gw belum memenuhi kualifikasinya mereka. Mhh.. first try lah wajar! Terus ga lama dari itupun temen gw direferalin untuk jadi Language Specialist. Jadi Googler tuh kalo misal yang direferalin masuk, mereka bakal dapet bonus.


Chapter 5

Work rules.. for selecting new employees

  1. Set a high bar fo quality
  2. Find your own candidates
  3. Acsess candidates objectively
  4. Give caniddates a reason to join


Chapter 6

Work rules.. for mass empowerment

  1. Eliminate status symbols
  2. Make decision based on data, not based on the managers’ opinions
  3. Find ways for people to shape their work and the company
Budaya ga enakan organisasi di Indonesia seharusnya bisa disolve dengan menerapkan rules 2 di Chapter 6. Jadi, meski opini dari manager, tetap harus ada data yang menunjang. Dengan begitu karyawan di bawahnyapun bisa mempunyai kesempatan untuk pendapatnya didengar.


Chapter 7

Work rules.. for performance management

  1. Set goal correctly
  2. Gather peer feedback
  3. Use a calibration process to finalize ratings
  4. Split reward conversations from development conversations
Chapter ini pengen gw coba. Meski anggota team masih sedikit tapi seharusnya segala sesuatunya harus diukur.


Chapter 8

Work rules.. for managing your two tails

  1. Help those in need
  2. Put your best people under a microcope
  3. Use surveys and checklist to find the truth and nudge people to improve
Di bab ini insightnya adalah prioritaskan perhatikan kepada anggota tim dengan performance paling baik dan paling buruk. Yang paling baik tentu adalah assets, jangan sampai dengan kontribusinya yang besar, ia merasa tidak diapresiasi. Yang paling buruk belum tentu tidak berbakat, mungkin saja rolenya sekarang kurang cocok, bisa jadi di role yang lain dia adalah performer yang paling baik.



Chapter 9

Work rules.. for building a learning institution

  1. Engage in deliberate practice: Break lessons down into small, digestible pieces with clear feedback and do them again and again
  2. Have your best people teach
  3. Invest only in courses that you can prove change people’s behavior
Chapter yang ini relevan dengan yang pernah gw tulis, soal learning organization. Dan sebelumnya gw juga pernah baca artikel blog yang insightful di blognya Zenius tentang Deliberate Practice (DP).


Chapter 10

Work rules.. for paying unfairly

  1. Swallow hard and pay unfairly. Have wide variations in pay that reflect the power law distribution of performance
  2. Celebrate accomplishment, not compensation
  3. Make it easy to spread the love
  4. Reward thoughtful failure
Gw serasa didukung bahwa menggaji karywan dengan nominal yang beda untuk title role yang sama tapi kontirbusinya beda itu sah saja.



Chapter 11

Work rules.. for paying efficiency, community, and innovation

  1. Make life easier for employees
  2. Find ways to say yes
  3. The bad stuff in life happens rarely.. be there for your people when it does.
Di chapter ini ada cerita-cerita treatmen yang dilakukan Google kepada karyawannya yang baru saja punya anak. Ini sangat perlu untuk menunjukan bahwa kita sebagai company care mengenai hidupnya karyawan.


Chapter 12

Work rules.. for nudging toward health, wealth and happiness

  1. Recognize the difference between what is and what ought to be
  2. Run lots of small experiments
  3. Nudge, don’t shove


Chapter 13

Work rules.. for screwing up

  1. Admit your mistake. Be transparent about it
  2. Take counsel from all directions
  3. Fix whatever broke
  4. Find the moral in the mistake, and teach it


Chapter 14

Work rule

  1. Give your work meaning
  2. Trust your people
  3. Hire only who are better than you
  4. Don’t confuse development with managing performance
  5. Focus on two tails
  6. Be frugal and generous
  7. Pay unfairly
  8. Nudge
  9. Manage the rising expectations
  10. Enjoy! And then go back to No. 1 and start again


Masih pengen tau? Silahkan cek slidenya Laszlo Bock atau blog Google for Education mengenai Work Rules. Atau masih pengen tau lebih lanjut? Silahkan beli di toko buku terdekat!

“Anak Dusun Keliling Dunia”, Saya juga harus bisa!

Memang tidak semua orang desa/dusun mempunyai mimpi yang besar seperti keliling dunia. Bahkan untuk bermimpi saja banyak dari mereka yang tidak berani, atau bahkan ga kepikiran. Tapi beda dengan anak dusun yang pertama kali saya kenal lewat blognya yang menginspirasi.
Nama anak dusun itu adalah I Made Andi Arsana, yang kini sekarang namanya ditulis I Made Andi Arsana, Ph.D. Saya panggil saja Pak Andi.
Pertama kali menemukan blognya Pak Andi, ketika itu saya sedang mencari informasi beasiswa Australia. Entah kenapa saya mencari informasi semacam itu, padahal saya baru saja galau dari gagal mendapatkan beasiswa dan gagal lolos seleksi Politeknik Negeri Bandung. Ah saya pikir, meskipun masih belum relevan dengan saya saat ini, setidaknya saya tahu dulu ada beasiswa apa saja untuk bisa menuntut ilmu di Australia. Dan waktu itu blognya Pak Andi sempat viral karena tulisan yang menampar mahasiswa. Sejak saat itu, saya subscribe blognya Pak Andi di akun Feedly saya.
Setelah beberapa lama mengenal dan mengikuti tulisannya di blog, pertengahan tahun 2015 kemarin saya bertemu dengan Pak Andi di kantornya di UGM. Beliau adalah Kepala Kantor Urusan Internasional UGM yang ruangannya bersebelahan dengan  Direktorat Pengembangan Usaha & Inkubasi (Dit PUI) UGM yang saat itu saya kunjungi untuk persiapan kegiatan Innovative Academy, program dimana saya incharge ketika masih bekerja di Kibar. Ketika bertemu, saya seperti fans yang ketemu dengan artis idolanya. Sayangnya saya lupa ngajak selfie! Mudah-mudahan pertemuan selanjutnya bisa selfie ya, Pak. Hehe
Saya baru saja menyelesaikan membaca buku Anak Dusun Keliling dunia yang ditulis oleh Pak Andi. Saya beli akhir Januari kemarin secara online. Saya awalnya mau beli juga buku Berguru ke Negeri Kangguru, tapi kehabisan stok karena bukunya sedang rame-ramenya menjelang pembukaan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS).
Beberapa hal yang saya maknai dari buku “Anak Dusun Keliling Dunia”:

Kekuatan Mimpi

Seperti yang ditulis di bagian epilog di bagian terakhir buku ini, bahwa kekuatan mimpi yang didukung oleh usaha gigih bisa mewujudkan mimpi itu dan memberikan pengalaman luar biasa. Jangan dulu untuk takut bermimpi, mari sama-sama belajar dan mengupayakan untuk mewujudkan mimpi-mimpi indah itu. Kamu bisa menyaksikan bagaimana anak dusun seperti Pak Andi yang berasal dari keluarga penambang bisa menaklukan berbagai negara dunia karena kegigihannya dalam berkarya. Kisah perjalanan hidup yang digambarkan lewat buku ini adalah benar-benar zero to hero yang patut kita teladani.

Kekuatan & Inspirasi Menulis

Di beberapa bagian buku, Pak Andi menunjukan dampak dari power of writing, bahwa dengan menulis bisa mengkoneksikan dan mendekatkan kepada berbagai kemungkinan dan kesempatan. Saya juga mengenal beliau karena tulisannya.
Saya selalu mencari mentor menulis, meskipun tidak selalu harus bertemu dengan mentornya. Mereka adalah orang-orang yang menginspirasi dan meyakinkan saya bahwa menulis adalah bagian penting yang harus dijalankan sebagai umat berilmu. Salah satu goal yang harus saya capai adalah menghasilkan sebuah buku yang bisa menjadi warisan pemikiran dan ilmu yang saya dapat. Saya lumayan mulai konsisten menulis di blog ini sejak akhir tahun 2013, dan saya akan berusaha semakin konsisten dan melakukan peningkatan. Sehingga bisa mencapai goal menulis buku di waktu yang tepat.

She is Nobody

Pagi itu menjadi pagi yang haru sekaligus penuh semangat untuk saya, ketika membaca bagian She is Nobody dalam buku itu. Pak Andi ketika itu menceritakan seorang hero di dalam kegiatan loka karya yang dihadiri calon-calon pemimpin Asia Pasifik. Hero untuk Pak Andi adalah Ibunya, ia ceritakan Ibunya yang kuat dengan sangat apik.
Izinkan saya mengutip sepenggal tulisan itu di sini

Early in the morning at arount 04.00 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice fields as if she learned the footpath by hearth. … She did it everyday for the live of her family. She is presistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.”  

Saya juga merasa bahwa Ibu saya adalah pahlawan saya. Ia tidak berpendidikan, tapi ia cerdas dengan membiarkan anaknya terbang dengan sayapnya sendiri, ia ingin anaknya terbang lebih jauh. 

Well Prepared

Meski Pak Andi sudah puluhan kali melakukan presentasi di tingkat internasional, ia selalu melakukan latihan dengan serius sebelumnya. Ini harus dicontoh! Beberapa kali ketika harus memberikan presentasi atau tampil didepan publik, terkadang saya suka stress karena di H-1 baru mempersiapkan materi hingga subuh, padahal kegiatanya pagi hari. Tapi beberapa momen seperti saat harus presentasi di Philippines saya persiapkan dengan matang, karena menggunakan bahasa inggris dan saya tidak bisa banyak melakukan improvisasi.
Setiap mengunjungi negara baru, Pak Andi selalu merencanakan dengan detail tempat yang akan dikunjungi dan transportasi yang digunakan. Ga seperti saya yang mengalami tragedi kehabisan jadwal kereta dan bingung cara beli koin di Kuala Lumpur, diperparah dengan 2 teman saya dari Kamboja dan Philippines yang sama ga ngertinya
Kamu anak dusun yang mau keliling dunia juga? Mari mencapai mimpi bersama!

Apakah organisasi kamu mengembangkan budaya belajar?

Pada posting sebelumnya, gw bahas sebuah buku soal coaching di sebuah organisasi. Meski judul bukunya seperti itu, tapi muatan bukunya sebetulnya lebih banyak mengenai management secara general. 
Kita kemarin sepakat bahwa manusia adalah asset terpenting bagi sebuah perusahaan. Dan kita perlu mengelolanya secara manusiawi, menggunakan hati dan rasa. Salah satunya dengan menumbuhkan budaya coaching.
Insight yang menarik yang gw dapatkan dari buku itu adalah mengenai learning. Learn is our responsbility! Untuk supaya organisasinya maju, manusianya juga kudu maju. Learner mental harus ditumbuhkan di dalam organisasi. Karena lingkungan yang pembelajar, sangat penting peranannya bagi kemajuan organisasi itu sendiri.
Ada istilah yang disebut dengan learning organization. Apa kata Wikipedia mengenai istilah ini?

A learning organization is the term given to a company that facilitates the learning of its members and continuously transforms itself. Learning organizations develop as a result of the pressures facing modern organizations and enables them to remain competitive in the business environment.

Setelah saya baca lebih lanjut di halaman Wikipedia, saya menemukan keterangan Peter Senge mengenai learning organization yang dirangkum dalam bukunya The Fifth Discipline. 5 disiplin itu diantaranya systems thinking, personal mastery, mental models, shared vision dan team learning.
Untuk mengembangkan budaya belajar di dalam organisasi kita, ide langkah konkrit yang menurut gw bisa dilakukan adalah membiasakan alokasi membaca buku di kantor, lalu membahasnya barengan. Ini pernah gw terapkan pas di kerjaan sebelumnya, ketika sedang bertugas di Surabaya. Waktu itu saya minta anggota tim gw untuk membaca artikel berbeda tiap orangnya yang berhubungan denga tech-startup, kemudian setiap sebelum bekerja kita bahas bareng, saling diskusi dan berbagi. Sayang belum bisa berjalan secara konsisten. Mudah-mudahan bisa diterapkan kembali di organisasi baru gw.
Coaching culture juga revelan untuk merujudkan hal tersebut. Karena kalo kita bisa belajar dari teman, dari rekan kerja, kita merasa lebih nyaman ketimbang misalnya kita belajar dari guru formal.
Sok ah, mulai konsisten menjadi life-long learner dimanapun kita berada!

    The good life is built with.. good relationship

    Another insight dari videonya TEDx. Soal kehidupan dan bagaimana kita memaknainya. Judul dari videonya adalah “What makes a good life? Lessons from the longest study on happiness“. Robert Waldinger adalah director Harvard Study of Adult Development. Beliau adalah generasi ke-4 dimana researchnya sudah berjalan selama puluhan tahun dan salah satu research terlama yang pernah dilakukan sepanjang sejarah.

    Dari research yang panjang, beliau menyampaikan 3 point penting mengenai pelajaran dari hasil reseachnya mereka.

    1. Social connection sangat bagus untuk membuat kita lebih happy dan lebih sehat secara psikologi maupun fisik. Jika dibandingkan dengan orang-orang yang lebih isolated, yang social connectionnya bagus pasti lebih senang hidupnya. Nah makanya penting untuk membuat social connection positif dengan community sesuai dengan minat kita.
    2. Quality of close relationship is matters. Hubungan dengan keluarga dekat seperti dengan orangtua, istri dan anak menentukan seberapa bahagia hidup kamu. Sudah terlihat jelas gimana dampak dari keluarga yang kurang harmonis terhadap kebahagiaan anaknya. 
    3. Good relationship protect our body and brain. Sudah dibuktikan dengan hasil researchnya Havard Study ternyata kebahagian berada di lingkungan yang memiliki relationship bagus, berdampak langsung secara fisik. 
    Jadi selalu jaga keseimbangan relationship yang bagus dengan keluarga, teman dan komunitas/masyarakat sekitar.
    Konsep ini juga sejalan dengan yang konsep Islam mengenai hubungan antar sesama manusia (habluminannas) seperti yang diterangkan dalam QS Al-Hujurat ayat 10 dengan penggalan terjemahan. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu…”
    The good life is built with good relationship!

    Sukses Jadi Coach !

    Tinggal beberapa hari lagi, kita bakal menjalani tahun baru. Belum memasuki tahun baru sekalipun, gw sudah sudah memutuskan untuk menjalani hari yang baru. Memberanikan diri untuk coba merintis usaha sendiri. Gw yakin ini keputusan yang tepat dan akan membawa kebaikan untuk diri gw dan orang-orang di sekitar gw.

    Karena pas masih kerja dan bertugas di Surabaya gw kurang bisa mengatur waktu, alhasil bagi waktu buat baca buku itu rasanya berat banget. Karena mumpung pas sudah resign punya lebih banyak, gw melampiaskan nafsu untuk beli banyak buku sekaligus.
    Salah satu buku yang gw beli adalah Sukses Jadi Coach. Pertama kali liat bukunya langsung tertarik buat baca, berhubung pas beli gw baru aja pulang ikutan camp I Am Gifted sebagai coach. Program ini dibikin sama Adam Khoo Learning Technnology Group (AKLTG). Program ini berasal dari Singapore, namun sudah diselenggarakan di Indonesia selama belasan tahun.
    Gw bersyukur banget bisa memanfaatkan opprortunity untuk bisa ikut program ini. Dari program ini gw jadi lebih ngeh soal istilah coaching. Yang masih bertanya apa itu coaching. Mari kita tanyakan ke kakak WIkipedia.

    Coaching is training or development in which a person called a coach supports a learner in achieving a specific personal or professional goal.

    Kalo yang gw pribadi maknai, coaching itu proses mendevelop seseorang menjadi lebih baik untuk tujuan yang baik pula. Untuk konteks campnya I Am Gifted, seorang coach menjadi role model-nya participants camp mengenai semua materi yang disampaikan oleh trainer. Materi yang dibahas lebih ke arah bagaimana menjadi super student yang mendorong pembelajaran yang lebih efektif dan penuh passion.
    I Am Gifted: me & participants
    Ini pengalaman pertama gw ikut camp itu dan langsung harus menangangi 6 anak yang diamanahkan orang tuanya selama 4 hari di program ini. Dengan berbagai harapan setelah program ini mereka menjadi siswa yang lebih baik. Gw akan cerita lebih banyak soal campnya di posting terpisah ya!

    Sukses Jadi Coach Book Review

    Oke. Kembali ke buku yang baru gw selesaikan. Penulis dari buku ini adalah Ibu Eileen Rachman yang merupakan pendiri Experd Consultant, adalah konsultan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), cocok lah nulis buku yang seperti ini, karena pada dasarnya kan proses coaching adalah untuk mendevelop SDM. Coaching dalam konteks ini lebih banyak membahas antara atasan dan anggota timnya.
    Di awal-awal chapter, gw merasa kehilangan inti dari buku ini. Ekspektasi gw di awal, buku ini bakal bahas secara komprehensif mengenai seluk beluk coaching dan bagaimana menjadi coach yang sukses. Di awal chapter dan di kebanyakan chapter lebih membahas mengenai manajemen sebuah organisasi dan bagaimana menjadi pemimpin sebuah perusahan. Beberapa contoh yang diambil di buku ini lebih banyak ke perusahaan penjual produk dan bagaimana meningkatkan penjualan. Sepertinya penulis sering memberikan training ke jenis perusahaan seperti itu.
    Meskipun seperti kehilangan arah di awal-awal chapter, tapi buku ini memberikan banyak referensi untuk buku bagus yang baru saja gw tambahkan ke akun Goodreads gw.

    Why Coaching?

    To be effective leader, you must be an effective coach

    Mungkin kalian bertanya. Emang kenapa kalo coaching anggota tim di organisasi? Nambah kerjaan aja! Di dalam sebuah perusahaan, kita sama-sama sepakat bahwa manusia adalah asset terpenting sebuah perusahaan. Secanggih apapun mesin atau komputer, tidak bisa menggantikan kehadiran manusia. Karena yang kita hadapai adalah manusia yang mempunyai hati dan rasa, maka ketika mengelola manusia, juga harus menggunakan rasa dan melakukan pendekatan manusiawi secara sungguh-sungguh.
    Pemimpin yang baik, meskipun bukan yang ahli dalam pengelolaan SDM, harus tetap dapat melakukan pendekatan yang baik terhadap manusianya. Memberikan komunikasi dan emotional bonding yang positif.
    Di dalam mencapai tujuan suatu perusahaan/organisasi, tentu kita mengharapkan anggota tim kita terus bekerja secara produktif. Nah, kita sebagai pemimpin apakah sudah menghadirkan suasana produktif itu? Ibarat sebuah tanah untuk menanam benih. Jika tanah liat dan keras, apalabila ditanam benih paling hanya akan tumbuh sampai tunasnya saja. Berbeda dengan ketika kita menanam benih di tanah gembur. Pertumbuhannya pasti akan lebih baik. Dan ketika dikasih pupuk, tumbuhan itu akan semakin cepat dan menghasilkan buah yang terbaik. Begitu juga dengan suasana di perusahaan/organisasi.
    Organisasi yang sehat adalah ketika individunya merasa bersemangat dan merasa emotionaly & spiritual happy dan feel proud berada di lingkungan itu.
    Survey juga menyatakan 93% pentingnya coaching untuk mendevelop manusia di dalam sebuah organisasi. Ketika manusianya lebih baik, maka semakin baik juga implikasinya pada produktifitas perusahaan. Dengan begitu, empowerment perlu menjadi agenda penting dalaman membina anggota tim.
    Sebagai coach, ibarat seperti superman. Pepatah mengatakan coach itu “They good, you care. They bad, you care. They fail, you are there.”

    Build Rapport

    Build Rapport
    Mulai di chapter 13, pembahasan mengenai coachingnya mulai berasa. Pas camp I Am Gifted. Gw pertama kali mengenal istilah Rapport. 

    Rapport is a close and harmonious relationship in which the people or groups concerned understand each other’s feelings or ideas and communicate well.

    Itu pengertian dari Rapport menurut kakak Wikipedia. Intinya sih gimana caranya kita bisa mengenal lebih dalam seorang individu. Di camp dikasih trik untuk membangun rapport, bisa dimulai dengan obrolan kesamaan hobby. Hal ini memang langkah awal yang harus dilakukan untuk melakukan coaching.
    Sebagai pemimpin, kitalah yang harus menyesuaikan frekuensi dengan anggota team. Kita harus terlebih dahulu menghilangkan ke aku-an dalam diri kita. Ibarat Ibu jari, ia harus yang mendekat ke kelingking untuk bisa saling bertemu, tidak bisa kelingking yang mendekat.
    Langkah awal yang harus dilakukan dalam melakukan coahing ke anggota tim adalah kita harus pandai melakukan identifikasi talent, sebelum membukakan opportunity untuk membiarkan mereka tumbuh. Dengan berbagai kebutuhan ini, kita juga belajar mengasah interpersonal skill kita.

    Tango

    Coach bagai menari Tango
    Di chapter 15 menganalogikan bahwa hubungan pemimpin dengan timnya harus bisa selaras seperti halnya pasangan yang sedang menari Tango. Untuk bisa selaras mengenai hal yang dilakukan, tentu harus dibarengin dengan komunikasi yang baik oleh atasannya. 
    Di chapter ini, penulis juga mengungkapkan, pemimpin yang baik adalah yang down to earth. Di samping perannya yang strategis dan visioner, ia juga harus mampu melakukan akses ke grass root. Gw sih sepakat. Apalagi sekarang kita lihat banyak pemimpin daerah seperti Bu Risma, Pak Ahok, Pak Jokowi yang lebih menunjukan aksinya blusukan. Menurut gw itu bukan hanya semata-mata pencitraan, tapi membuktikan bahwa pemimpin daerah setinggi itupun bisa melakukan hal kaya gitu. Dimana sebelumnya jarang sekali kita menemui pemimpin daerah yang melakukan hal itu.

    Parameter Kesuksesan Coach

    Sukses Jadi Coach
    Kita sering mendengar istilah seorang pemimpin bisa dikatakan berhasil apabila yang dipimpinnya juga sukses. Begitu juga dengan coaching. Jika yang dicoach bisa sukses, berarti kemungkinan besar apa yang kita upayakan berhasil.
    Coach yang berhasil juga adalah yang menjadikan coachee nya bisa melakukan refleksi terhadap dirinya. Coachee menjadi terdorong untuk berubah tanpa merasa dirubah. Merasa dibimbing tanpa merasa digurui. Merasa tumbuh tanpa dikerdilkan.

    Kata Pengantar dan Cetakan

    Ini bukan buku pertamanya Bu Eileen, tapi saya baru pertama kali membaca bukunya. Tapi kata pengantar buku ini kurang begitu ‘mengantar’ pembaca barunya mengenai buku ini. Meskipun buku ini lebih ke manajemen, tapi pegemasan bukunya sangat anak muda dan kekinian.
    Yang paling gw suka dari cetakan buku ini adalah keyword, quotes dan bagian penting diemphasis sangat jelas. Jadi kita ga khawatir kelewat inti sari dari tiap chapter yang ingin disampaikan penulis. Tapi sayang gw ga terlalu suka sama typography-nya. Menurut gw kekecilan untuk bagian utama tulisan dan subheading chapternya.
    ***
    Dari pengalaman yang sudah gw alami di camp I Am Gifted dan hasil membaca buku ini, gw disadarkan kembali akan pentingnya empowerment anggota tim. Since gw akan punya banyak anggota tim, gw harus akan menerapkan mindset, melatih untuk menumbuhkan coaching culture mulai dari sekarang.
    Siap menjadi coaching untuk anggota tim kamu? Yes!

    Belajar Mengenai Kehidupan dari 2 Youtube Channel Ini

    Hari senin-jumat itu waktunya kerja, kadang sih kalo gw bisa kerja senin-minggu kalo lagi sibuk banget. Kalo lagi lumayan kosong, hari minggu biasanya gw manfaatkan untuk me time. Seringnya beresin baca buku pinjeman dan Youtube-an kalo ada internet kenceng.

    Ada dua channel Youtube yang lagi gw suka kunjungi untuk belajar mengenai kehidupan.

    The School Life

    Banyak video yang membuka pikirian untuk berbagai pertanyaan dasar seperti “What is Philosophy for?”“Why Some Countries Are Poor and Others Rich?” dan What’s wrong with the media. Dari video-videnya, gw dapet berbagai informasi baru yang bersumber dari The Book of Life. Silahkan subscribe untuk dapet pelajaran hidup yang mungkin ga pernah dibahas di sekolah formal.

    Kok Bisa?

    Gw suka banget channelnya The School of Life dan cara pengemasannya lewat video. Harusnya ada konten lokal yang juga dikemasi semenarik itu. Dan ternyata ada! Gw baru inget kalo misalnya ada channel YouTube Kok Bisa, yang juga salah satu partnernya Layaria. Beberapa video yang menjawab pertanyaan mendasar seperti Mana Yang Duluan, Ayam Atau Telur? atau Kenapa Air Laut Rasanya Asin?.  Penggarapan videonya sangat serius, tapi kontennya dibawa santai, ga serius amat.

    Sebenernya guru di sekolah bisa loh pake konten-konten dari mereka. Sehingga pembelajarannya jadi tidak terlalu monoton.

    Ditulis di Jogja, pas lagi setengah kerja-setengah liburan.

    Buat apa kuliah kalo hasilnya kaya gini nih!

    Kuliah tuh buat apa sih? Menuntut ilmu! Semua orang pasti jawab gitu. Klise banget lah. Tapi.. buat rakyat miskin kaya gue, kuliah itu buat memperbaiki hidup. Kuliah biar dapet skill, terus bisa diterima kerja, dapet gaji agak gedean, biar bisa makan! Biar ga kaya Bapak gue yang tamatan SMP dan berakhir jadi tukang becak dan nyambi jadi tukang parkir. Mau makan terus dari recehan? Makan tuh receh!

    Tujuan kuliah buat gue dan kebanyakan orang emang sedangkal itu. Terus kalo selesai kuliah ga dapet skill gimana? Ya ga kerja! Memang sih banyak yang beruntung tetep dapet kerja, tapi paling ya kerjanya ga nyambung sama apa yang dipelajari pas kuliah, kaya semacam sia-sia gitu ga sih.

    Ya gpp sih gpp. Banyak orang berpendapat akan situasi itu bilang “Ya ga ada ruginya, kan di kuliah kita belajar hal yang lain seperti bersosialisasi misalnya”. Ga kuliah juga bisa kali kaya gitu mah! Ngapain bayar tiap  semester untuk hanya bersosialisasi cantik.

    Itulah kenapa orang kita tuh jarang punya expertise. Ya kuliahnya apa, ya kerjanya apa. Tapi kan Chairul Tanjung aja kuliah kedokteran akhirnya jadi pengusaha sukses dan jadi menko ekonomi? Berapa banyak sih yang bisa kaya gitu bro?

    Gw sih yakin ya, lebih banyak orang yang pas lulus kuliah kelabakan bingung karena ga punya skill menonjol yang bisa dipake, karena ga dapet apa-apa pas kuliah.

    Ya gimana ga mau dapet apa-apa. Jadwal mata kuliah ngoding yang seharusnya jadi yang paling utama, yang dateng cuma asisten dosen dan cuma disuruh ngetik kodingan di proyektor. Lah ngana pikir aja, di kelas gue itu ga semuanya pinter. Kalo disuruh kaya gitu mah kaga ngarti lah. Skill ngoding tuh kudu terlebih dahulu dipaparkan konsepnya, jadi ntu mahasiswa bisa ngarti.

    Ditambah lagi mahasiswa karyawan yang sibuk kerja, ditambah bawaan lahir yang ga kebiasa untuk eksplore sesuatu. Udah deh lengkap, selesai kuliah IT kaga ngarti apa-apaan.

    Buat Bapak/Ibu Dosen. Tanggung jawab Anda memang berat, saya mengerti Bapak/Ibu juga jelimet dengan urusan pribadi dan gaji yang nyaris ga mencukupi. Tapi kepedulian lebih kepada mahasiswanya bakal bikin generasi muda ga makan dari recehan terus. Ga usah muluk-muluk, ajarin mahasiswanya supaya bisa belajar sendiri, eksplor sendiri.

    Buat orangtua, liatin deh anaknya. Bakat dan minat anak tuh diarahkan dari kecil. Jadi ga salah ngambil kuliah yang sia-sia. Itu tanggung jawab kalian juga! Dan pikir ulang utk maksain anak kudu masuk jurusan apa.

    Buat lo Mahasiswa yang ngerasain kondisi kaya gitu, jangan cuma nerimo. Lo ga bakal dapet apa-apa kalo lo ga berusaha lebih buat masa depan lo. Yang bisa nolong cuma diri lo.

    Buat mahasiswa yang kuliah di kampus berkualitas, lo beruntung punya semua akses itu, yang ga didapet sama rakyat miskin kaya gue. Semua fasilitas lo lengkap, jadi ga usah belagu untuk pake waktu lo cuma buat nongkrong-nongkrong ga jelas! Kalo lo ngerasa salah jurusan dan udah nanggung, go ahead dan cari expertise lo!

    Buat mahasiswa yang dapet beasiswa di kampus yang bagus, bukan yang gagal dapet beasiswa kaya gue, seharusnya lo lebih ngerti gimana supaya ga mensia-siakan kesempatan ini. Go to extra miles, please! Inget kita miskin. Ikutan kegiatan diluar kelas, eksplorasi sampe lo nemu strength lo, pick your battle, build your expertise.

    Buat gue, yang agak beruntung punya self-driven dan lebih eksploratif cuma menyayangkan aja kalo banyak temen gue yang ga dapet apa-apa pas kuliah.

    Tapi tenang, gue ga mau cuma kritik doang ko. Gue akan mulai do something untuk usaha bikin ini semua lebih baik. Sesimpel ngasih tau ke temen gue untuk lebih eksploratif!

    Ini kritik dan juga renungan buat gue sendiri ko!
    Terima kasih

    Kuliah Nyasar: MBA ITB – Knowledge Management for Innovation


    Hubungan Kibar dengan beberapa kampus terjalin sudah cukup lama sejak menjalankan program Google for Education. Salah satu kampus yang hubungannya terjaga hingga saat ini adalah ITB. Meskipun hingga saat ini sebetulnya secara keseluruhan ITB belum Gone Google tapi setidaknya SBM ITB sudah.

    Dekorasi di ruang tunggu SBM ITB Jakarta, Googley pisa euy!

    Hubungannya Kibar dengan ITB semakin terjalin intensif juga karena adanya kerjasama mata kuliah Tech Based Business yang terselenggara tiap hari jumat. Nah ternyata selain di Bandung, ITB juga kampusnya ada di Jakarta. Kampusnya lebih kecil dan lebih ekslusif gitu, kayanya dua kali lebih mahal deh kalo kuliah di sini. #eehh

    Beberapa minggu sebelum saya berkunjung ke kampusnya, saya dicontact oleh salah satunya timnya MBA ITB Jakarta untuk minta dihubungkan dengan Googler yang bisa ngisi sebagai dosen tamu yang bisa menyampaikan mengenai UKM. Karena produk yang lagi hot di Google adalah Google Bisnisku, yang juga untuk UKM, maka yang paling cocok untuk ditawari ngisi adalah Mbak Mira Sumanti, selaku Product Marketing Manager SMB untuk Google Indonesia.

    Jadi saya ceritanya nyasar ke sini untuk sebagai bridging aja antara ITB dan Mbak Miranya. Ga enak kan kalo sebagai connector kalo ga hadir. *padahal supaya ada alasan keluar kantor #ehh

    Jadi sambil nunggu kelasnya dimulai, saya dan Mbak Mira nunggu di loungenya kampus. Wah ini sih sudah kaya restoran ala-ala, bukan kaya kantin kampus.


    Jadi ini mata kuliah adalah Knowledge Management for Innovation, mahasiswanya adalah tingkat pertama S2 MBA yang 80% dari mereka adalah mahasiswa terusan dari S1 langsung, alias ga kerja ato cuti dulu. Tapi hampir semua dari mereka sudah running bisnis sendiri.

    Sedikit cerita soal Mbak Miranya, dia itu lulusan The Hague University of Applied Sciences di Belanda. Mbak Mira ngambil program Bachelor  untuk European Studies. Selama kuliah pernah magang di Adidas sampai akhirnya full time setelah lulus. Sebelum pindah ke Google, jabatan terakhirnya adalah Global Digital Marketing Manager. Global men! Kebayang ga sih lo..

    Mengawali kelasnya

    Untuk mengawali kelasnya, Mbak Mira cerita soal pengalamannya selama di Belanda. Dan ngerasain bedanya waktu di sana dan di Indonesia. Beda banget kalo soal searching data UKM di internet terkadang ga akurat, sesimpel alamat, jam buka dan tutup. Nah makanya lewat project Google Bisnisku yang sedang dikerjakannya, Mbak Mira berusaha untuk memecahkan permasalahan tersebut.

    Mahaiswanya ga terlalu banyak, ideal banget untuk belajar

    Dari keseluruhan kelasnya yang mengasyikan, setidaknya ada 3 point penting yang disampaikan oleh Mbak Mira. Yaitu soal customer knowledge, market knowledge & industry knowledge. Dari masing-masing point itu juga dijelaskan tools dari Google yang bisa dimanfaatkan. Yaitu Google Bisnisku, Google Trend dan Analytics.

    Saya ikutan seneng juga ketika Mbak Mira mendemokan tools tersebut, mahasiswanya kaya amaze banget gitu!

    Oh ya tambahan aja nih. Dari sosoknya yang humble dan smart ini, Mbak Mira juga seorang DJ yang jago. Wah balance deh antara kerjaan da hobinya.


    Sampai jumpa di kuliah nyasar berikutnya!

    Tech Based Business: Cerita Agate Studio!

    Kalo seminggu sebelumnya saya di Bandung untuk ITB InMove, nah seminggu setelahnya (27 Maret) saya ke Bandung lagi untuk ikut kelasnya salah satu mata kuliah paling kece di ITB, yaitu Bisnis Berbasis Teknologi (Tech Based Business). Itu loh mata kuliah yang dibikin atas kerjasama ITB dengan Kibar.

    Saya dari awal memang terlibat banyak dalam project ini, dimulai dari approach awal untuk pembuatan silabus hingga sampai proses sekarang dimana mereka sudah punya ide dan sedang membuat produknya.

    Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio

    Jadi mata kuliah ini tentang apa sih? Mungkin dari judulnya kamu sudah bisa menebak. Intinya melalui mata kuliah ini, Kibar ingin mendorong anak-anak ITB yang keren-keren ini supaya bikin startup yang secara bersamaan solve masalah yang ada. Tentu ini sejalan dengan visinya ITB untuk menjadikan kampusnya sebagai entrepreneurs university.

    Mata kuliah ini adalah mata kuliah pilihan yang bisa diikuti oleh semua mahasiswa ITB dari jurusan apapun. Mahasiswa yang sekarang ada yang berasal dari fakultas design, teknik dan manejemen. Bahkan ada yang dari jurusan kelautan juga!

    Materi yang diberikan di mata kuliah ini mulai dari ideation, bisnis model, promotion hingga expansion plan untuk startupnya mereka. Dosen tetep untuk mata kuliah ini tentu saja Chief Executivenya Kibar, Yansen Kamto yang kemarin ceritanya masuk Hitam Putih bareng Putri Tanjung.

    Karena materinya beragam, dimulai dari mindset hingga teknikal ke pengembangan produknya, maka mata kuliah ini sering undang dosen tamu. Nah minggu ini kebetulan yang menjadi dosen tamunya adalah dari Agate Studio.

    Sesi pertama disampaikan mengenai prototyping di development game, meski begitu tips-trik yang disampaikan masih relevan dan dapat diterapkan untuk pengembangan aplikasi non-game. Yang menyampaikan sesi ini adalah Mas Zaki, salah satu producernya Agate Studio. Inti dari bahasan soal prototyping menurut saya adalah kalo mau bikin prototype harus cermat pilih fitur unggulan yang mau dibikin duluan.

    Jangan cari saya! Saya yang foto soalnya 😀

    Sesinya kemudian dilanjutkan oleh Mas Arief. Sesinya seru banget sumpah. Asik banget denger cerita-ceritanya beliau saat pertama kali merintis Agate Studio bareng temen-temennya. Sampe cerita saat dia ditelfon TU ITB untuk lanjut kuliah ato engga.

    Ceritanya mas Arief selalu menggunakan filosofi, yang which is bikin kita (saya pribadi) merasa mudah menerima maksud dari pesan yang ingin disampaikannya. Terus dia juga cerita soal pentingnya pendidikan/kuliah. “Jangan salah kaprah, saya tidak melanjutkan kuliah bukan karena saya malas belajar. Saya hanya tidak menggambil gelarnya. Nilai saya selalu bagus”, begitu kata mas Arief.

    Kadang kita suka salah kaprah memang soal tokoh sukses yang drop out. Media mainstream kadang suka mengkesankan bahwa drop out itu bisa sesukses tokoh itu. Yang lebih penting adalah kemauan utk tidak berhenti belajarnya yang musti ditiru. Meski ga di formal education, belajar terus menerus tetep suatu kewajiban!

    Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat (pepatah Arab)

    Saya sebagai yang minat terhadap edtechpreneur, seneng banget bisa dilibatkan dalam project ini. Mudah-mudahan lancar ya sampe akhir semester. Amin..

    Global Startup Youth Asean 2015: Futurising Asean Entrepreneurs

    Bulan Maret selalu paling sibuk, saking so sibuknya ga ada satupun posting blog yang saya tulis di bulan itu, Seakan lupa sama berbagai resolusi menulis yang ditetapkan sendiri di awal tahun. Karena ini long weekend, saya coba tebus beberapa hutang posting yang seharusnya saya tulis di bulan Maret.

    Banyak banget yang saya alami di bulan Maret. Saya mulai cerita dari keikutsertaan saya di Global Startup Youth 2015 kalo gitu.

    Global Startup Youth (GSY) bisa dibilang acarnya mirip-mirip dengan startup weekend, semacam bootcamp untuk para hustler, hipster dan coder berkumpul untuk bikin sesuatu yang menyelesaikan masalah sekitar. Saya tahu kegiatan ini dari temen Google Student Ambassador saya yang emang tahun lalu pernah ikutan. Tapi sayangnya kegiatan tahun sekarang hanya dalam lingkup ASEAN.

    Karena kebetulan di kantor terlibat beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan startup, saya pikir ga ada salahnya untuk coba apply. Harapannya bisa dapet ilmu baru soal startup, apalagi setingkat Regional. Akhirnya saya iseng apply!

    Daftar melalui YouNoodle
    Kegiatan GSY ini adalah salah satu programnya organisasi non-profit, StartupMalaysia.org. Pendaftaran untuk program ini agak berbeda, karena mereka bekerjasama dengan YouNoodle.com, sebuah platform kompetisi yang berhubungan dengan startup. Saya baru tahu kalo misalnya ada platform semacam itu. Menambah ilmu dan ide baru nih!

    Deadliners organizer
    Ternyata bukan hanya Indonesia yang suka ngerjain sesuatu mepet-mepet. Bahkan di regionalpun, hal itu masih terjadi. Pada saat pengumuman pertama kali, saya tidak mendapatkan email pemberitahuan apapun. Oh oke! Ga diterima berati. Belum rezeki. Tapi beberapa hari setelahnya saya dapet email bahwa saya berhasil lolos dari waiting list ke berapa. Pengumuman itu dikirim hari Minggu, padahal hari Rabu harus sudah berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia lokasi dimana kegiatan tersebut diselenggarakan.

    Alhasil harus serba dadakan izin ngantor, finalisasi kerjaan sebelum pergi dan sampe dadakan pinjem uang ke orangtua buat uang saku ke sana. hehe

    Karena serba dadakan kaya gitu, sempet dikomplain sama orang kantor karena lagi banyak kerjaan malah harus cuti ikutan acara ini.

    Little bit messy

    Sesi pitch awal


    Entah karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi terhadap kegiatan ini atau entah apa. Tapi saya merasa kalo kegiatan ini masih bisa dimaksimalkan. Venuenya terlalu sempit untuk 300an orang, saat harus pitching dan mencari tim yang cocok, bahkan sampai harus berdesak-desakan kaya di pasar malam.

    Di sesi awal-awal, kita disuruh bikin kelompok. Kemudian disuruh voting ide. Yang paling banyak sticker akan masuk ke tahap selanjutnya. Nah diproses ini agak ga fair sih, soalnya beberapa kelompok jadi fokus ke stickernya, buka ke idenya.

    Terus mungkin kedepannya ada semacam badge yang mencirikan minat tertentu. Misalnya minat peserta ke bidang pendidikan ada bagde warna apa gitu. Dan juga badge untuk mencirikan bahwa seseorang itu hustler, hipster atau coder.

    Bagian dari Asean Entrepreneurship Summit

    Tan Sri Dr. Mohd Irwan Serigar Abdullah


    Nah ternyata Global Startup Youth kali ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Asean Entrepreneurship Summit 2015 yang merupakan program dari kementrian keuangan Malaysia. Di hari kedua kegiatan GSY, perwaklian dari kementerian keuangannya hadir, yaitu Tan Sri Dr. Mohd Irwan Serigar Abdullah.

    Beliau sangat berjiwa muda sekali dan terlihat sangat semangat menyambut para future leader dan future entrepreneur dari ASEAN. Saya jadi envy berharap kalo orang-orang dari pemerintahan Indonesia juga banyak yang bisa senafsu itu.

    Kesimpulan

    Temen satu tim di Asean Hub+


    Secara keseluruhan acaranya boleh lah, apalagi saya dibayarin tiket pesawat dan hotel. Dapet uang saku pula. hehe Yang terpenting buat saya kalo acara yang kaya gini adalah networkignnya, dari acara ini akhirnya saya punya temen baru dari Myanmar, Kamboja dan Laos!