Universitas Mercu Buana: Resmikan SIA Mobile, TA Online dan UMB Mail

Hari jumat kemarin (13 February 2015) adalah hari Jumat yang sibuk, ada berbagai hal yang harus dideliver dalam waktu yang bersamaan. Pertama di hari itu adalah pembukaan pendaftaran Innovative Academy 2.0 di UGM yang resmi dibuka pada salah satu kegiatan yang mengumpulkan anak UGM yang akan mengikuti Pekan Karya Ilmiah (PKM). Hingga jam 2 pagi saya harus tetap berada di depan komputer untuk koordinasi mengenai finalisasi poster dan website yang harus di-up. Hingga pagi haripun, koordinasi itu harus tetap dilakukan.
Kedua adalah mata kuliah Bisnis Berbasis Teknologi yang memang setiap hari jumat dilaksanakan di ITB. Jumat ini harus skip dulu ikut kelasnya karena harus menghadiri acara peresmian penggunakan Google Apps di Universitas Mercu Buana. Untuk yang ini sebetulnya tidak terlalu khawatir karena sudah didelegasi dengan baik kepada rekan jauh sebelumnya.
Hal yang ketiga tentu saja adalah acara kegiatan peresmian di Universitas Mercu Buana. Karena lokasi lumayan jauh dari kantor. Saya dan rekan merencanakan untuk pergi dari kantor sekitaran jam 6 pagi. Tapi karena baru saja tidur jam 3, maka ketika rekan saya sampai di kantor, saya masih tertidur lelap. Sial! Untung saja meski berangkat sekitaran jam 7, kami sampai tepat waktu di tujuan dan bahkan sempat untuk sarapan dulu.
Inilah beberapa hal yang menarik dari pengalaman menghadiri acara peresmian berbagai penerapan teknologi baru di kampus Universitas Mercu Buana.
Pertanyaan pertama rektor
Duduk di kursi empuk dengan jejeran petinggi univeristas mercu buana

Setelah bersalaman dan duduk di samping rekor, hal pertama yang ditanyakan rektor adalah “lulusan mana?” Entah kenapa harus pertanyaan itu yang dilontarkan. Setelah saya jawab “Saya masih kuliah pak di BSI”, dengan sedikit ragu dan bingung saat pertama kali mikir harus jawab apa. Kemudian entah apa yang dipikirkannya soal jawaban dari saya. Kemudian saya balik tanya “Apa visi dari Mercu Buana ini, pak?”, beliau menjawab dengan juga tidak begitu yakin, “Menekankan kepada mutu dan softskill, entrepreneur juga”. Saya hanya response dengan “Oh begitu pak”. Entah apa yang dipikirkannya sehingga harus menjawab pertanyaan saya dengan terlihat kurang begitu meyakinkan. Susana cair, saya semakin tenang karena keadaan sepertinya sudah seri. hehe
Belajar pake Jas
Keliatan caludih banget euy

Beberapa kali menghadiri acara persemian Google Apps for Education, saya biasanya hanya menggunakan kaos, atau paling bagus juga hanya menggunakan kemeja. Tapi ga tau kenapa kali ini pengen coba pake jas, sampe bela-belain minjem. Wah gpp deh jadi bahan bullyan di kantor karena pake jas seperti motivator yang dibayar puluhan juta per jamnya yang sering disindir saat berbincang dengan teman di kantor. Sebetulnya alasan yang lebih kuat untuk pake jas karena di acara kali ini saya benar-benar sendiri dan akan meresmikan langsung dengan rektornya. Saya kan emang rempong dan ga pedean, makanya coba berbagai hal untuk supaya at least meningkatkan pede. Jas berhasil sih bikin pede ga turun-turun amat, meski tetep nervous.
Terapkan Tugas Akhir Online
Pak Mujiono, Kepala IT UMB sedang memaparkan bagaimana TA Online bisa dijalankan

Universitas Mercu Buana (UMB) adalah salah satu kampus yang sangat kooperatif dalam hal kerjasama implementasi Google Apps ini. Kemudian bagian IT dan akademiknya juga bisa bekerja sama dengan baik yaitu dengan menerapkan bimbingan Tugas Akhir(TA) secara online mamnfaatkan Google Docs. Tidak usah terlalu sering bolak-balik ketemu sama dosen untuk hanya dicurat-coret. Cukup dengan Google Docs dan sistem komentar, maka hal tersebut menjadi mudah. Kampus Mercu mungkin menjadi salah satu yang menerapkan ini dengan serius di kampusnya.
Selain meresmikan penggunakan Google Apps dan TA Online, pada kegiatan hari ini juga diresmikan SIA Mobile, yaitu sebuah aplikasi sistem informasi akademik yang menggunakan apps native Android. Keren ga tuh?
Buku Pendiri Universitas Mercu Buana

Saat acara peresmian, saya dan rektor Universitas Mercu Buana bertukar cinderamata. Yang saya dapatkan adalah tempat minum, dasi yang dibranding dengan logo Universitas Mercu Buana. Serta buku mengeni pendiri Universitas Mercu Buana, yaitu Pak Probosutedjo – adiknya Pak Suharto – sebagai pendiri awal Universitas Mercu Buana. Saya tidak begitu tertarik membaca cerita dari dua tokoh pada buku tersebut, tapi lebih tertarik pada penulisnya yaitu Alberthiene Endah – salah satu penulis yang saya kagumi karena kepiawaiannya mengolah cerita tokoh ternama menjadi buku biografi yang penuh makna.
Sampai jumpa di kegiatan launching lainnya. Yang terdekat adalah Universitas Tarumanagara dan Esa Unggul

Berita di DailySocial

Yes! The Power is in You..

Sejak pindah ke Jakarta, topik mengenai entrepreneurship dan teknologi (digabung menjadi digital stratup) adalah menjadi topik yang setiap hari saya dengar dan baca. Karena banyak banget tuntutan pekerjaan yang membuat saya harus mempelajari hal tersebut.
Kiprash dunia digital startup tidak hanya menjadi dunianya para pria, tapi kini juga wanita. Salah satu yang paling giat yang saya kenal adalah mbak Aulia Halimatussadiah (Ollie), salah satu iniator dari StartupLokal.
Jauh sebelum ini saya mengenalnya lewat nulisbuku.com. Saya juga sering denger namanya karena beberapa bidang yang juga saya minati, yaitu blog/kepenulisan, edukasi dan teknologi. Nah karena mbak Ollie baru saja rilis buku barunya, saya jadi penasaran untuk baca salah satu bukunya. Beberapa hal yang menarik dari buku ini.
Designnya kece
Bulan ini saya secara gak sengaja beli 3 buku ringan dengan design yang bagus. Buat saya sih ini salah satu faktor penting selain konten dari bukunya yang musti menarik. Seperti juga buku Beasiswa 5 Benua dan Khilafah.
Anak muda banget
Bahasa dalam buku sangat anak muda dan mudah dipahami. Ya cocok lah untuk segmentasi anak mudah/remaja yang memang menjadi fokusnya publisher gagas media. Dari segi konten sebetulnya tidak ada yang baru, tapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana merealisasikan point-point tersebut. 
Work sheet
Pada setipa bagiannya ada semacam worksheet yang bisa dikerjakan. Metode seperti ini bagus supaya apa yang sudah dipelajari menjadi lebih diingat. Terakhir beli buku, worksheet yang seperti ini ada di buku Tuhan ini proposal hidupku. Saya sih ga ngerjain, tapi bikinna di Google Slide. hehee
5 Point Utama
Nah dibuku ini setidaknya dibahas 5 point utama, yang pertama yaitu Principle, membangun kebiasaan yang positif, mengambil tantangan dan mencari mentor. Kedua adalah On Track, menyusun schedule dan deadline, memfokuskan energi pada potensi maksimal. Selanjutnya adalah Work Smart, membiasakan rutinitas pagi dan bijaksana soal waktu. Keempat adalah Enthusiasm, bergabung dengan forum dan berbagi pengetahuan. Terakhir adalah Reliance, mencintai diri sendiri, menjadi individu yang positif dan memiliki serela humor.
Secara keseluruhan bukunya bagus dan positif. Meski memang tidak tterlalu banyak point baru tapi kita bisa mengambil inspirasi dari penulisnya. Saya rekomendasikan ini untuk dibaca oleh remaja Indonesia, supaya bisa menyadari potensi dirinya dan menghindari dari kegiatan yang hanya buang waktu, atau bahkan hanya menggalau. Buku ini cocok deh dihadiahkan untuk adik di rumah.

Khilafah *Remake: Episode Peradaban Dunia yang Ketiga

Saya termasuk orang yang ga terlalu suka membaca buku sejarah dengan bahasa yang sangat kaku dan minim visual. Soalnya membosankan! Ketika pertama kali tahu ada versi terbaru dari buku Khilafah yang bahas sedikit soal peradaban islam, terutama kekhalifahan, langsung tertarik untuk baca. Ya lumayan lah untuk memulai menyukai membaca sejarah dimulai dari yang ringan-ringan dulu saja.

Jadi apa aja yang dibahas di buku itu? Saya coba rangkum ya. Kan pepatah bilang “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Episode dunia

Colloseum


Bab pertama dari buku ini bahas mengenai pusat dunia dan pusat peradaban yang berada di timur tengah sejak peradaban manusia pertama, yaitu peradaban Mesopotamia. Kemudian dibahas setidaknya ada 3 episode peradaban. Episode pertama adalah imperium Persia yang selama ribuan tahun berkuasa dan meninggalkan banyak sekali jejak sejarah. Episode kedua adalah imperium Romawi, yang salah satu peninggalannya sampai sekarang kita kenal dengan Colloseum. Episode ketiga adalah peradaban Islam yang justru tidak banyak dikenal orang secara luas. Berbeda dengan peradaban Persia dan Romawi yang begitu terkenal.

Surat Rasulullah

Saya baru tahu bahwa ketika rasul sudah dakwah secara terang-terangan, atas perintah Allah, rasul mengirimkan surat ajakan bergabung dengan Islam kepada para petinggi Rasul. Termasuk mengirim surat ke Kaisar Heraklius, yang sedang menikmati kemenangan Romawi di peperangan dengan Persia.

Setelah mempelajari surat dari rasul, kaisar sempat memiliki keyakinan mengenai kebenaran ajaran dan ajakan dari rasul dan sempat berkata “Bila benar apa yang dikatakan orang-orang soal Muhammad, maka dia seorang Nabi yang dikatakan dalam kitab kami”. Tapi karena tekanan dari pejabat-pejabatnya, keyakinan itu kembali pudar demi mempertahankan kerajaannya yang sedang jaya.

Kegemilangan ilmu dan kemegahan peradaban islam


Lewat buku ini saya juga kembali mengingat mengenai kegemilangan ilmuan islam di masa lampau yang bahkan hingga saat ini tetap dijadikan rujukan oleh dunia Barat. Saya juga sempat bahas ini di postingan tahun lalu setelah membaca buku Muhammad sebagai Pedagang.

Dalam buku banyak sekali data yang dibikin seperti infographis yang bisa menambah pengetahuan dan membuat kagum waktu itu peradaban islam bisa sejauh itu.

Namun itu dulu, islam masa kini..
Keren amat pake tablet dan laptop

Sering diidentikan dengan teroris oleh berbagai media mainstream. Padahal jika ditelaah dengan data, George W. Bush pun bisa dikatan teroris ketika membunuh 500.000 manusia di Irak dengan tuduhan bahwa Irak memilik Mass Destruction Weapon, padahal tuduhan tidak terbukti hingga saat ini.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar justru sama sekali tidak menggambarkan bahwa paham islam pernah menjadi peradaban yang baik. Korupsi, kemiskinan, kriminal dan moral anak bangsa yang musti banyak diperbaiki. Kenapa?
3 Pilar penyokong kejayaan Islam

Yang pertama adalah dimulai dari individunya yang bertaqwa dan menjalankan nilai islam dengan baik. Setelah individunya yang baik, masyarakatnya juga harus yang bersatu dan berdakwah untuk kebaikan. Kemudian yang ketiga, yang menurut saya inti dari buku ini adalah Negara yang menerapkan syariah.
Saya sih masih musti banyak belajar mengenai penerapan syariah di negara, faktor mana saja yang memang akan membuat sistem ini akan menjadikan sebuah negara menjadi lebih baik.
Sebab runtuhnya Khilafah
Khilafah adalah sebuah kepemimpinan islam setelah wafatnya Rasul. Selama ratusan tahun berjaya. Kemudian apa yang menjadi penyebab runtuhnya khilafah ini? Ada jenis faktor yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal diantaranya adalah adanya pengaruh filsafat hindu dan yunani, kebangkitan Yahudi & Nasrani ditandai dengan mendirikan universitas, kemudian menjadi penguasa media, opini dan ekonomi. Keadaan itu ditambah dengan adanya revolusi Arab yang memisahkan diri dari khilafah juga adanya serangan fisik dari berbagai pihak.
Adapun faktor internal adalah karena bahasa arab yang mulai ditinggalkan, sehingga pemahaman terhadap ilmu dari peradaban menjadi berkurang. Kemudian munculnya pemahaman-pemahaman baru, salah satunya sekularisem, yang memisahkan aktivitas kenegaraan dengan agama. Yang terakhir dan yang paling berbahaya adalah sombong atau lupa diri. Karena berbagai kemenangan yang diraih, umat islam menjadi lupa diri dan berhenti memperbaiki diri.
Pentingnya berjamaah
Di buku ini juga ditekankan mengenai pentingnya berjamaah dalam hal kebaikan. Selain itu juga akan ada yang saling mengingatkan kita jika kita menuju jalan yang salah. Seperti dalam hadist

“Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i)

Ingin ada kebangkitan? Apa yang harus dilakukan

Saya percaya bahwa akan ada kebangkitan lagi dan mengembalikan kejayaan peradaban islam masa lampau. Hal yang bisa kita lakukukan adalah terus memperbaiki diri, melakukan kajian islam, melakukan dakwah (bahkan dimulai dari yang paling sederhana menurut saya), kemudian yang ga kalah penting adalah mempelajari penerapan syariah islam.
Buku sederhana dengan design yang fancy membuat saya menjadi lebih semangat untuk mempelajari sejarah islam dan kekhalifahan. Bagaimana dengan kamu?

Mengejar Beasiswa 5 Benua

Salah satu buku yang membuat saya kembali bersemangat ketika pernah menghadapi kegagalan adalah trilogi Negeri 5 Menara. Saya pernah baca buku ini kalo tidak saat masa-masa terakhir saya di tingkat SMK. Inti yang saya dapatkan adalah bahwa ketrbatasan itu jangan dijadikan hal yang ngeblok mental kita untuk mencapai hal yang besar. Karena kuncinya ada pada Man jadda wajada!
Saya begitu terkesan dengan cerita buku itu dan kagum juga sama penulisnya yang memang sebagian besar cerita dari buku ini diambil dari pengalaman Ahmad Fuadi. Setelahnya, saya beberapa kali mengiikuti bukunya yang lain seperti Menjadi Guru Inspiratif dan buku yang paling baru saya baca, yaitu Beasiswa 5 Benua. Apa saja yang menarik dari buku tersebut?
Design buku yang elegan
Berbeda dengan buku-buku A. Fuadi sebelumnya dengan design yang biasa. Kali ini bukunya dibuat sangat color full sehingga ga bosen untuk dibaca.
Format FAQ
Pembagian bab buku ini juga dibuat berurut seperti halnya saat akan mendaftar beasiswa. Seperti dimulai dari research, pendaftaran, wawancara hingga setelah diterima beasiswa. Selain pembagian seperti itu, tiap bagiannya dipisahkan dalam bentuk pertanyaan, mirip seperti FAQ di website-website.
Informasi beasiswa lintas negara dan tips
Pada buku ini juga dibahas beasiswa dari tiap negara dan harus kemana ketika kita ingin cari tahu lebih banyak soal beasiswa tersebut. Yang terpenting dari informasi tersebut adalah tips dan trik dari A. Fuadi yang memang sudah terbukti sebagai pengejar beasiswa dan pernah meraih 10 beasiswa.
***
Bahasan soal beasiswa dalah hal yang menarik buat saya. Meski saya sekarang sudah bekerja dan kuliah sambil kerja, tapi saya tetep yakin bahwa suatu saat saya bisa dapet beasiswa seperti itu.
Di cricle saya lumayan banyak banget yang juga para pemburu beasiswa, misalnya Ahmad Arib yang bahkan sudah pernah bikin buku soal beasiswa. 
Dikasih bukunya sama Arib waktu summit Google Student Ambassador
Dan juga temen-temen di Google Student Ambassador yang ga kalah aktifnya dalam mengejar berbagai kesempatan seperti beasiswa. Salah satu tokoh yang saya ikuti blognya adalah Made Andi Arsana (sekarang ketua international office di UGM), yang sering share soal beasiswa yang pernah didapatkannya.
Kamu juga mau mengejar beasiswa 5 benua? Good luck!

4 Jenis Konsumen Muslim. Kamu yang mana?

Islam buat saya adalah best practices pedoman hidup sejak berabad-abad yang lalu. Namun kadang banyak nilai-nilai yang sering menjadi kontroversi hati karena dianggap tidak sesuai dengan zaman sekarang. Kontroversi itu datang dari non muslim dan bahkan dari muslimnya sendiri.

Islam itu hanya satu, satu tuhannya, satu kitabnya. Justru kitalah yang berbeda-beda. Di akhir tahun 2014 saya menuntaskan untuk membaca buku “Marketing to the middle class muslim” karya Yuswohady. Buat saya judulnya sangat menarik, karena sesuai dengan fakta bahwa semakin banyak brand yang mentarget segmen tersebut. Misalnya brand e-commerce berry benka yang membuat sub brand hijabenka khusus untuk muslimah.

Nah dari buku tersebut saya jadi tahu 4 jenis konsumen muslim berikut.

Apathis “Emang gue pikirin?”
Jenis konsumen ini cenderung mempunyai pengetahuan, wawasan, tingkat ekonomi dan nilai kepatuhan yang rendah. Serta tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai produk dengan proposisi islam. Jenis ini tidak perduli apakah produk tersebut bermuatan nilai islam atau engga. Biasanya harga yang murah cenderung menjadi faktor yang utama untuk pengambilan keputusan mereka membeli suatu produk.

Rationalist “Gue dapet apa?”
Beda dengan jenis Apathis, jenis konsumen Rationalist memiliki pengetahuan yang cukup baik, open-mided dan berwawasan global. Tetapi memiliki kepatuhan pada nilai islam yang lebih rendah. Segmen ini sangat kritis dan pragmatis utk memilih produk berdasarkan perameter kemanfaatanya. Dalam membeli suatu produk jenis ini mengesampingkan aspek ketaatan pada islam. Nilai islam bukan konsider penting mengambil keputusan pembelian.

Comformist “Pokoknya harus Islam”
Kalo jenis conformist ini sangat taat beragama dan menjalankan nilai-nilai islam. Tetapi cenderung memiliki keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional. Kurang membuka diri terhadap nilai di luar islam, terutama nilai-nilai barat. Dalam mengambil keputusan, cenderung untuk memilih produk yg berlabel islam atau diendorsed oleh otoritas Islam. Bisa dibilang ini konsumen yang fanatik terhadap islam.

Universalist “Islam itu lebih penting”
Memiliki pengtahuan/wawasan luas serta teguh menjalankan nilai-nilai islam. Berpola pikir global dan melek teknologi. Cenderung lebih mau menerima perbedaan dan menerima perbedaan prang lain. Toleran, open-mided, dan inklusif terhadap nilai-nilai di luar islam. Biasanya ini adalah jenis konsumen muslim yang well educated dan tinggal di perkotaan.

Keempat jenis konsumen muslim tersebut saya rasa penting diketahui, apa lagi untuk yang mau berbisnis dan mentarget segmen menengah muslim. Jadi kamu adalah jenis konsumen muslim yang mana?

Thumbnail photo by: patheos.com

Google for Education Indonesia Summit 2014


Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Saya setuju banget sama quotenya Alm. Bapak Nelson Mandela yang itu. Sejalan juga dengan pepatah Arab yang mengatakan,

“Barangsiapa ingin sukses dunia akherat hendaklah diraih dengan ilmu”.

Karena keutamaan pendidikan dan ilmu yang merupakan dasar dari berbagai kejelimetan yang ada di dunia ini – terutama di Indonesia, bikin saya ingin berkontribusi terhadap dunia pendidikan. Meski kadang harus dihadapkan dengan berbagai birokrasi yang ga perlu!

Akhirnya kesempatan itu datang di tahun ketiga perjalan karir saya. Di Kibar saya dikasih kesempatan untuk gabung di divisi Edukasi. Ga tanggung-tanggung, divisi ini adalah partnernya program Education Go Digital punyanya Google yang dilead sama Mbak Pepita Gunawan yang cantik nan baik hatinya.

Di divisi ini kerjaan saya adalah mirip kaya Account Executive (AE), saya yang berhubungan dengan kampus/sekolah untuk bantu mereka implementasi Google Apps for Education. Karena emang backgroud saya technical, jadi ga terlau lama untuk bisa menguasai ‘arena’. Meski sampai sekarang masih ada beberapa part yang masih harus belajar.

Kumpulkan Pengambil Keputusan Penting

Yang datang adalah kepala yayasan, kepala sekolah, kepala IT dan guru/dosen.

Pada 4 Desember kemarin, Google bikin Google for Education Indonesia Summit yang mempertemukan para pengambil keputusan penting di sekolah dan kampus yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Termasuk dari Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Pontianak dan Makassar.

Topik yang dibahas adalah tentu saja seputar apa yang bisa institusi manfaatkan dari berbagai tools free yang ditawarkan Google. Di awal kegiatan lebih banyak bicara soal mindset dari yang semula tradisional menjadi serba kolaboratif dengan cloud technology. Di sesi siang, dibahas lagi lebih banyak soal infrastruktur dan best pratices.

Yang Dateng Membludak, Kursi  Aja Kurang

Seneng banget Pak sayang udang. Terima kasih sudah hadir 🙂

Mungkin karena kesuksesan (#eahh) saya di event-event sebelumnya yang berhubungan dengan calon peserta, makanya didaulat kembali untuk
pegang kepesertaan. Ini jadi tantangan baru lagi sih, karena musti datengin peserta yang niche dan massive. Selain bertanggung jawab kepesertaan, saya juga sebetulnya yang berhubungan langsung dengan Google untuk kegiatan ini.

Baru kali ini saya ngerasa khawatir kelebihan peserta. Karena saat persiapan kita hajar berbagai channel mulai dari minta rekomendasi dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta hingga minta bantuan partner seperti kesekolah.com. Dan ternyata benar, pas kegiatan yang dateng banyak banget. Ngantri coy, bahkan ada beberapa yang marah karena pengen buru-buru.

Ini antriannya belum seberapa!

Saking membludaknya, kursi yang disiapkan sekitar 450an, akhirnya harus nambah jadi 530an. Hal yang paling saya takuti sih komplen dari peserta yang hadir. Tapi untungnya ga banyak komplen!

Berbagai Kegiatan di Satu Waktu

Ini yang bikin seru sekaligus repot sih. Sesi di siang, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menghadiri kegiatan yang berbeda. Ada yang bahas lebih dalam soal infrstruktur dan ide integrasi.

Yang ketiga dari kiri divanya GSA!

Ada juga yang main-main di Demo Zone untuk dijelaskan berbagai produk yang bisa dimanfaatkan di kelas. Beberapa dari booth di sini dijelaskan sama Google Student Ambassador loh. Booth lainnya dijelaskan oleh partner.

Selain Demo Zone, adalah juga booth untuk partner. Di sana peserta yang dateng bisa berkonsultasi soal apapun yang berhubungan dengan produk yang dijelaskan, namun tiap partner punya spesialisasinya sendiri-sendiri.

Iya itu ada saya lagi, ganteng kan? Makasih!

Yeah! Tahun ini ditutup dengan event gede yang membanggakan dan banyak bisa diambil pelajarannya. Semoga tahun depan semakin oke. Amin.

Finally, BSI has Gone Google

Sebelum gabung sama Kibar, saya tahu kalo misalnya Kibar juga adalah salah satu partner Google untuk program Education Go Digital di Indonesia yang dimanage oleh Mbak Pepita Gunawan. Pas pertama kali masuk di Kibar sebetulnya saya sangat tertarik untuk masuk ke tim yang ngurusin program ini, tapi ternyata baru dikasih kesempatan baru beberapa bulan kebelakang.

Program Education Go Digital adalah inisiatif dari Google untuk mendorong pendidikan di seluruh dunia dengan memanfaatkan teknologi. Yang Google lakukan untuk program ini adalah membantu sekolah dan universitas dalam tiga hal, yaitu Access (infrastruktur dan co-investent dalam peningkatannya, Apps (Google Apps for Education) dan Support (dukung berupa training maupun online resource untuk access dan apps).

Sebagai partner, yang kami kerjakan di program ini adalah membantu kampus dalam tahap deployment atau pemasang apps hingga membantu sosialisasinya di kampus dan pelaksanaan launching. Ga mudah ternyata, terutama jika berkomunikasi dengan rekan-rekan di kampus karena harus menyesuaikan dengan jadwalnya mereka. Selama pegang program ini, yang sudah launching adalah Universitas Negeri Lampung (UNILA), Universitas Islam Negeri Syarifhidayatullah (UIN Jakarta) dan Bina Sarana Informatika (BSI). Yap termasuk BSI, karena judulnya soal BSI, jadi saya mau bahas spesifik dulu soal BSI.

Respon Yang Baik

Audiensnya banyak

BSI adalah salah satu kampus batch kedua yang diapproach oleh Google untuk program ini melalui kegiatan Education Leader Summit di berbagai kota besar di Indonesia termasuk Jakarta tentunya. Kampus batch ini adalah Universitas Tarumanegara (UNTAR), Universitas Mercu, Esa Unggul dan lainnya.

BSI jadi salah satu yang melanching aplikasi dan cepat deploymentnya. Bukan ada maksud tertentu karena saya ngampus di sini. Tapi lebih kepada response dari BSInya yang sangat baik. Saya awalnya ga begitu yakin responsenya akan seperti ini. Eh ternyata kepala IT nya sangat open minded dan akhirnya sepakat launching saat orientasi mahasiswa baru.

Panggung Megah & Ketemu Pak Naba

Noh sepanggung ama Pak Naba

Ini panggung terbesar yang saya naiki dengan jumlah audiensi yang sangat banyak. Bangga juga sih launchingnya Google Apps bisa dibikin semegah ini. Layar super besar di belakang bikin suasana kaya konser di RCTI #eaahh

Dari dulu banget saya pengen ketemu dengan yang namanya Pak Naba, direktur sekaligus salah satu pendiri BSI. Akhirnya lewat kegiatan ini saya bahkan bisa sepanggung langsung.

BSI has Gone Google, Terus?

Penampakan email dengan logo kampus

Ya karena sudah menggunakan Google Apps for Education, mahasiswa BSI akan dapet email dengan domain @bsi.ac.id dengan kapasitas penyimpanan yang unlimited (hampir 5 Tera lebih). Ga hanya email, tapi juga bisa pake Google Drive untuk penyimpanan dan untuk membuat dokumen berkolaborasi secara langsung.

Silahkan cek di portal mahasiwanya di bagian home, akan ada email kamu beserta password defaultnya. Email saya sutisna0105@bsi.ac.id, nah biasanya format emailnya adalah namadepan, tanggal lahir dan bulan lahir. Passwordnya tanggal lahir lengkap. Selamat mencoba ya!

Untuk saya, ini adalah permulaan dari PR yang masih banyak untuk membantu kampus di Indonesia memanfaat tools gratis dari Google ini. Mudah-mudahan diberikan kekuatan dan kelancaran. Amin.

Membawa Kejayaan Andalusia ke Andonesia

Andalusia adalah sebuah nama daerah di Spanyol dimana peradaban Islam pernah berkilau dan sangat maju selama 8 abad lamanya. Ilmu pengetahuan teknologi sangat berkembang pesat di sana dan melahirkan ilmuan seperti Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Ibnu Kaldun dalam bidang sosiologi dan Al-Farabi dalam bidang filsafat.

Kemakmuran peradaban tersebut, juga ditandai dengan damainya umat Muslim, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan di sana.

Ketertinggalan kini
Saya menjadi teringat kembali pelajaran sejarah mengenai islamic golden age, setelah membaca bagian pengantar buku Muhammad sebagai Pedagang karya Ippho Santosa yang beberapa minggu lalu saya beli di Gramedia.

Bagian pengantar itu menyajikan fakta yang menarik dan membuat saya kembali tersadar bahwa kini kejayaan Andalusia tinggal cerita peradaban yang menarik. Tak kalah menariknya ketika mengikuti perkembangan pusat peradaban sekarang.

Selama kurang lebih dalam kurun waktu 1000 tahun terakhir, dibanyak bidang seperti politik, budaya sain dan ekonomi, umat Muslim jauh tertinggal dibandingkan dengan umat yang lainnya. Tertinggal bukan main!

Hampir semua negara mayoritas Muslim yang maju disebabkan oleh sumber daya alamnya, seperti minyak, bukan disebabkan oleh sumber daya manusianya. Dari 56 negara mayoritas muslim, masing-masing memiliki rata-rata 10 universitas, yang berarti total lebih-kurang 600 universitas untuk 1,6 miliar penduduknya. Berbeda dengan India yang mempunyai 8.407 universitas dan Amerika Serikat yang punya 5.758 universitas.[1]

Dari 1,6 miliar umat Muslim di seluruh dunia, hanya menghasilkan 10 orang penerima nobel; 2 orang yang meraih Sastra, 1 orang yang meraih Kimia, 1 orang yang meraih Fisika, 6 orang yang meraih Perdamaian. Sedangkan bangsa Yahudi yang berjumlah hanya 13 juta di seluruh dunia, dapat menghasilkan 178 orang penerima hadiah nobel; 13 orang yang meraih Sastra, 30 orang yang meraih Kimia, 53 orang yang meraih Fisiologi atau Kedokteran, 49 orang yang meraih Fisika, 9 orang yang meraih Perdamaian, 24 orang yang meraih Ekonomi. [2]

Kondisi umat Muslim di Indonesia juga tak jauh berbeda dengan kondisi di atas, hingga kini masih banyak umat muslim yang termasuk kelompok yang marginal. Terutama di bidang ekonomi.

Masih adakah cahaya kebangkitan?

Cahaya itu ada. Sumber: thelegacyletters.com


Sebagai sebuah konsep, Islam adalah sistem yang universal yang mengatur segala aspek tatanan kehidupan umat manusia, baik yang berkenaan dengan akidah, ‘ubudiyah dan akhlak, maupun yang berkaitan dengan muamalah, sosial kemasyarakat, ekonomi, Iptek, pendidikan dan sebagainya.[3]

Sebagai bagian dari kemunduran ini, saya sadar bahwa saya jauh dari Islam. Saya berislam dan saya menjalankan rukunnya. Tapi mungkin belum kaffah, belum menyeluruh.

Tidak usahlah terlalu disibukkan dengan perbedaan antar sesama muslim, tidak usahlah kita menggungjing dan membenci umat lain. Ilmu adalah kunci untuk mengembalikan lagi kejayaan itu, saya harus turut menjadi bagian dari umat yang berilmu, Insha Allah.

Sudah adakah cahaya kebangkitan? Tentu saja. Saya turut bergembira dengan hadirnya banyak Muslim muda di Indonesia yang berkarya pada berbagai bidang. Seperti Pak Syafii Antonio, yang fokus di bidang ekonomi syariah dan Pak Habbiburrahman El-Shirazy di bidang sastra. Cahaya itu adalah hal yang harus diperjuangkan. Perjuangan ibarat mengembalikan kejayaan Andalusia di bumi Indonesia. Orang-orang Timur Tengah menyebut Indonesia dengan sebutan Andonesia. Selisih 3 huruf dengan Andalusia. Orang Timur Tengah percaya Indonesia adalah Andalusia masa depan. Amin.

[1] Bab pengantar Muhammad sebagai Pedagang, Ippho Santosa & Tim Khalifah
[2] Daftar Pemenang Hadiah Nobel Muslim VS Yahudi
[3] Indonesia, Islam dan Kebangkitan

Sumber foto thumbnail: Costamedi.com

Muhammad sebagai Pedagang: Pelajaran, Teladan dan Kebaikan

Hari kamis (10/7) kemarin, saya dan beberapa teman-teman ex-Google Student Ambassador  (GSA) 2013 berkumpul untuk iftar bareng, ditraktri sama Om Oscar yang lagi ulang tahun. Meskipun tidak semua puasa, tapi ini dijadikan ajang silturahim buat kita yang udah jarang ketemu. Acara kumpul-kumpul kaya gitu jadi hal yang langka, karena kesibukan masing-masing.

Setelah acara iftar bareng, saya mampir ke Gramedia. Dari awal saya emang punya rencana untuk mampir ke Gramedia, untuk beli beberapa buku dari list want to read di akun Goodreads saya. Buku utama yang mau saya beli sebetulnya Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin, tapi karena ini buku lumayan lama (2011), alhasil Gramed udah ga punya stok. Akhirnya saya memutuskan untuk beli Everyone Can Lead, buku pertamanya Pak Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata. Dan buku Muhammad sebagai Pedagang, karyanya Ippho Santosa & Tim Khalifa.

Awalnya galau untuk beli Muhammad sebagai Pedagang, karena itu ga ada di list saya sebetulnya. Tapi judulnya begitu menarik dan sinposis bagian belakangnya juga ciamik. Saya juga penasaran ingin tahu lebih banyak soal role Rasulllah SAW ketika menjadi pedagang.

Well, ini pendapat saya soal buku Muhammad sebagai Pedagang, setelah menamatkan membacanya selama 1 jam.

Pengantar yang bikin penasaran!
Buku ini dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu pengantar, 9 bab utama dan penutup. Pengantar buku ini kasih saya beberapa data mengenai kemunduran Islam hari ini. Membuat saya merenungi kembali dengan apa yang sudah lakukan dan apa yang bisa saya kontribusikan kepada umat.

Tidak hanya soal kemunduran, pada bagian pengantar ini juga memberikan harapan dengan munculnya banyak cendikiawan muslim di Indonesia yang menyeruak ke permukaan, seperti Syafii Antonio dan Habiburrahman El-Shirazy. Membaca pengantar yang disuguhkan, membuat saya semakin penasaran untuk meneruskan membaca.


9 Pelajaran, Teladan dan Kebaikan


Di awal bab, buku ini bahas soal otak kanan, khas beberapa buku Ippho sebelumnya. Lengkap dengan berbagai analogi dan hadist Nabi. Well, sedikit klise sih, tapi penting untuk menjadi pengingat memulai sesuatu dari kanan, dari visi dan misi, dari niat dan dari gambaran besar.

Bab selanjutnya berjudul “Setiap Orang adalah Pemimpin”. Dalam buku The 100, Michael Hart menobatkan Nabi Muhammad sebagai figur paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Penulis buku berpendapat bahwa hal itu karena Nabi menerapkan metode sintesis dan duplikasi.

Maksudnya sintesis ialah bahwa Nabi menempatkan dirinya sebagai generalis. Beliau pernah menjadi penggembala, menjadi entrepreneur, pernah menjadi orang miskin dan pernah menjadi orang kaya. Pernah menjadi orang biasa, pernah pula menjadi nabi. Pernah menjadi panglima perang, pernah pula menjadi kepala negara.

Dua bab selanjutnya, lebih dalam membahas Nabi sebagai pedagang. Bagaimana beliau memulai berdagang sejak kecil dan kesuksesannya di usia yang muda. Buku ini juga menekankan bahwa nabi, istrinya, dan para sahabatnya adalah pribadi yang kaya secara materi. Ini mematahkan pemahaman negatif soal berkelimpahan harta.

Kejujuran adalah nilai yang harus diangkat setinggi-tingginya, terutama dalam berdagang. Bab selanjutnya mencoba menggambarkan bagaimana Nabi, yang dijuluki sebagai Al-Amin (terpercaya) sukses berbisnis hingga ke berbagai negara. Di beberapa bagian buku ini juga memaparkan case study kekinian soal membangun kepercayaan untuk sebuah usaha.

Buku Marketing yang Memarketingkan
Di akhir bagian buku ini, lebih banyak berbicara mengenai teori marketing yang dikorelasikan dengan nilai-nilai Islam dan teladan Rasul. Pintarnya, di buku ini banyak sekali disisipi dengan promosi buku Ippho Santosa sebelumnya seperti buku jadul Marketing with Love dan buku andalan 7 Keajaiban Rezeki.

Harganya agak sedikit mahal sih untuk buku 100 halaman. Buku ini juga disertai Compact Disc. Awalnya saya ga kepikiran kalo isinya adalah lagu-lagu religi dari group musik Andalus (masih punyanya Ippho). Not bad lah lagu-lagunya, saya suka lagu yang judulnya sama dengan judul buku ini.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, sebetulnya tidak terlalu sesuai dengan ekspektasi saya. Saya berharap dapat hal baru yang komprehensif sekali mengenai role Rasul sebagai pedagang, tapi ternyata dibahas kurang begitu mendalam. Wajar sih karena bukunya emang tipis!
Tidak begitu banyak nilai-nilai baru yang saya dapatkan. Tapi ini cukup menjadi pengingat untuk banyak hal. Selain banyak hadist yang disisipkan, dibeberapa bab juga dilengkapi dengan kutipan tokoh modern, membuat pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat.

Menurut saya, penutupnya kurang klimaks. Terkesan buru-buru! Isinya hanya berupa list tips-tips yang biasanya diseminarkan oleh Ippho.

Buku ini cocok buat kamu yang ingin tahu soal Nabi Muhammad ketika berdagang dengan bahasan yang ringkas dan bahasa yang ringan.

Sumber foto sampul: bijakniaga.files.wordpress.com