Amerika: Tanah makmur yang tidak adil

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kesan awal saya terhadap Amerika adalah kemewahan, Hollywood, Broadway dan Silicon Valley. Namun ketika saya merasakan langsung, Amerika tidak bisa hanya dilihat dari sudut itu. Amerika adalah negara dengan GDP paling tinggi di dunia, namun mungkin banyak yang ga ngeh kalo Amerika juga adalah salah satu negara dengan ketidaksetaraan (inequality) paling tinggi di dunia, terutama dalam ukuran kesejahteraan. Artinya gap si kaya dan si miskinnya bagaikan moon to the earth back. Saya menyaksikan langsung satu area di Hartford, CT yang lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan, adalah area yang paling miskin. Ironis! Continue reading “Amerika: Tanah makmur yang tidak adil”

Cuma 3 dokumen ini, saya bisa ke 7 negara bagian Amerika gratis!

Bisa mengunjungi Amerika adalah salah satu bucket list saya. Ga usah dijelasin panjang lebar kali ya, kenapa saya pengen ke sana. Karena banyak orang juga pengen bisa mengunjungi negara super power itu. Buat saya, karena budaya (film, musik) dan teknologi yang sudah merajalela di kehidupan kita.

Sebelumnya saya pasang beberapa gambar tempat tekenal Amerika di kamar. Tapi belum tau kapan dan bagaimana bisa kesana. Eh.. ga nyangka bisa secepet dan semenyenangkan ini. Mungkin ngaruh juga kali ya ketika orang-orang di circle saya sudah pada ke sana semua, jadi doanya makin kuat. Continue reading “Cuma 3 dokumen ini, saya bisa ke 7 negara bagian Amerika gratis!”

BaFa’ BaFa’ : Memahami intercultural dengan aktivitas menyenangkan

18 Oktober 2016

Hari ini, salah satu kelas yang gw ikuti namanya adalah  “BaFá BaFá Group Exercise”. Pertama denger namanya aneh sih. Apaan tuh BaFá BaFá? Apakah itu pasangannya Ibfu Ibfu? (Bapa atuh itu mah ya).

Dan ternyata BaFa’ BaFa’ adalah sebuah aktivitas untuk mensimulasikan bagaimana dua kelompok yang berbeda kulturnya saling berinteraksi. Jadi tadi peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu alfa dan kelompok dua adalah beta. Gw tadi kebagian Beta. Continue reading “BaFa’ BaFa’ : Memahami intercultural dengan aktivitas menyenangkan”

Sarah’s Coffe House: #CoffeeForACause

Setelah beraktivitas seharian, trip terakhir kita hari ini adalah mengunjungi tempat coffee terdekat di sekitar Hartford downtown. Coffe house ini milik perempuan keterunan Vietnam. Kenapa kita berkunjung ke tempat ini, dibanding ke startbuck yang kita lebih familiar misalnya? Karena bisnis yang mereka jalankan sangat relevan dengan apa yang sedang kita pelajari di program YSEALI. Continue reading “Sarah’s Coffe House: #CoffeeForACause”

Napak Jagat Pasundan 2016: “Ngigeulan Jaman”, Kolaborasikan Budaya Daerah & Modern

Cross-posted with Sumedang Creative blog

Berbagai rangkaian kegiatan Milangkala Sumedang ke 438 akan terus berlangsung, bahkan hingga akhir bulan Mei ini. Salah satu kegiatan besar yang sudah digelar adalah Napak Jagat Pasundan (NJP) 2016 yang diselenggarakan oleh Coklat Kita pada 30 April 2016 di Alun-alun Sumedang.

Napak Jagat Pasundan adalah kegiatan yang mempertunjukkan gelaran seni dan budaya tatar pasundan. Tahun Ini adalah tahun keempat Coklat Kita menyelenggaraan kegiatan ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mengangkat tema “Ngideur Dayeuh Mapay Lembur”, tahun ini temanya adalah “Ngigeulan Jaman”. Berdasarkan keterangan dari Kang Boeas yang merupakan perwakilan Team Coklat Kita, tema tersebut diangkat untuk menekankan pada pesan utama yang ingin disampaikan dalam kegiatan ini, yaitu untuk membangkitkan kepedulian terhadap kekayaan budaya daerah dan memberikan gambaran budaya yang berkolaborasi dengan modernisasi, namun tidak menghilangkan dasar budaya yang sudah menjadi jati diri daerah. Continue reading “Napak Jagat Pasundan 2016: “Ngigeulan Jaman”, Kolaborasikan Budaya Daerah & Modern”

Carita Ngariung #2: Youth x Ethnic Culture

Cross-posted with Sumedang Creative blog

Hari minggu tanggal 17 april kemarin, Sumedang Creative Forum menyelenggarakan kegiatan meetup Ngariung untuk kedua kalinya. Kali ini kita diselenggarakan di Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Kunci, sengaja memilih tempat terbuka hijau supaya bisa mengundang lebih banyak komunitas untuk bisa menampilkan kreatifitas mereka. Komunitas yang hadir menampilkan unjuk kabisa diantaranya: Continue reading “Carita Ngariung #2: Youth x Ethnic Culture”

Life Event: Graduated from Bina Sarana Informatika

Yay! Akhirnya melewati fase ini. Banyak banget pengalaman dan perjalanan sebelum akhirnya lulus.
Sebelum lulus, gw sudah pernah bekerja secara professional di dua perusahaan. Pekerjaan pertama sebagai web developer selama 2 tahun di Bandung, pekerjaan yang menjadi mimpi gw sejak masih sekolah di SMK. Kemudian coba kerja ke Jakarta dengan role yang lebih general, sebagai project officer di Kibar. Pengalaman bekerja di Jakarta memberikan banyak pelajaran dan pandangan baru mengenai kehidupan dan karir yang akan terus bermanfaat buat gw. Continue reading “Life Event: Graduated from Bina Sarana Informatika”

Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World

Beberapa bulan yang lalu, temen saya Gilang pernah ngasih tau mengenai Blinkist.com, sebuah web yang menyediakan summary dari buku nonfiksi. Dengan Blinkist, kita menjadi lebih cepat mengambil intisari dari buku yang ingin kita baca. Salah satu rangkuman dari buku yang saya baca adalah bukunya Robert T. Kiyosaki, yaitu Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World dimana ia terkenal dengan sejak bukunya Rich Dad, Poor Dad yang rilis tahun 1998.

Continue reading “Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World”

Inilah kenapa financial literacy penting dipelajari sekarang!

Gw pernah denger mitos bahwa orang Sunda itu cenderung boros dan ga bisa nabung. Gengsinya tinggi dan mengutamakan penampilan. Makanya saking pengen gaya, ya ga ada uang buat ditabung. Tanpa bermaksud sara dan generalisasi tentunya, tapi gw memang mengiyakan mitos itu.

Dulu pas gw ngontrak di rumah sebelumnya, gw punya tetangga. Mereka adalah keluarga jawa yang merantau di Sumedang. Meski kita tetanggan, gaya hidup kita beda. Mereka serba berkecukupan tapi tetap sederhana, beda dengan gw yang gaya hidupnya udah daei dulu agak neko-neko. Seperti misal gadget harus standar terbaru dan baju harus dari distro. Tetangga saya itu adalah penjual bubur kacang dan punya usaha menyewakan becak tapi suami dan istri sudah naik haji. Beneran loh sinetron tukang bubur naik haji tuh kejadian sama tetangga gw. Nah keluarga gw sampe sekarang belum ada yang naik haji, atau setidaknya umroh lah. Belum ada!

Dari menarik kesimpulan pribadi bahwa, perbedaan itu ada karena perbedaan dari mengelola uang. Dan gw ingin keluar dari mitos orang Sunda diatas yang sempat gw yakini.

Pas berkunjung ke Big Bad Wolf Book Sales di ICE – BSD City, gw menemukan satu buku tipis dengan judul “Save Your Money!” Bebas Utang, Banyak Uang. Dari judulnya aja gw ga mikir lagi bahwa ini buku yang gw butuhkan.

Financial literacy (sederhananya melek soal finansial/keuangan) menjadi sangat penting buat gw, karena gw harus bisa menjaga cash flow perusahaan yang sedang dirintis. Meski dibantu sama istri, tetap saja pengetahuan kita soal keuangan dan akuntansi masih di bawah rata-rata. Ditambah gw juga harus ngerti gimana mengelola keuangan keluarga, management utang yang beberapa kasih harus dilunasi.

Buku yang gw beli 5000 rupiah ini memberikan tambahan insight buat gw belajar financial literacy, diantaranya:

1. Utang
itu ada dua jenis. Ada yang jenisnya konsumtif, ada yang produktif. Kalo komsumtif itu adalah sesuatu yang ketika lo beli, harganya akan terus turun. Misal gadget, elektronik, makanan, pakaian dll.

Kalo yang produktif, adalah yang bersifat investasi. Harganya kedepannya akan naik dan terus memberi manfaat. Seperti tanah, emas dll.

Beberapa barang yang gw punya, banyak yang hasil ngutang. Seperti Smartphone Nexus gw pas beli harga 5 juta, dicicil 12x, laptop Macbook Air harga 15 juta-an dicicil 4x. (Thanks to my prev bos to help me on these). Meski masuk ke barang konsumtif, itu tetep gw jadikan produktif, karena berdampak langsung sama produktivitas gw dalam bekerja. Bayangkan aja kalo misal gw masih pake laptop yang lama…

Kalo kita punya cicilan, jangan lebih dari 36% dari pendapat per bulannya supaya bisa stabil.

2. Pengeluaran
Ini juga jenis kan macem-macem ada yang wajib, primer, nabung/investasi, sekunder. Gw kadang uang habis di hal yang sekunder ketimbang konsisten dengan investasi.

Gw pribadi harus lebih bijak dan menimbang-nimbang ketika membeli sesuatu karena sadar gw harus merencanakan masa depan (dana pendidikan pribadi, anak, rumah, dana pensiun dsb). Jika tidak dikelola dari sekarang, gw tidak akan pernah merasa cukup, seberapa besarpun pendapatan gw.

3. Rencana Pelunasan Utang
Untuk yang satu ini, gw sudah agak mending. Karena dari sejak dulu gw punya tabel monitoring untuk utang. Jika lo belum punya bisa mulai bikin. Dengan begini, kita jadi punya gambaran jelas berapa lagi yang harus dibayar, kapan harus dilunasi dan jika mau mempercepat pelunasa harus seperti apa.

Karena gw anaknya Google banget, gw bikin monitoring utangnya di Spreadsheet. Sebetulnya kalo lo ga terbiasa, bisa juga cek aplikasi related to utang management seperti lunas.in misalnya.

Mudah-mudahan istikomah ya belajar financial literacy-nya.

Ditulis di bus Primajasa perjalanan Cileunyi-Lebak Bulus.
Cover photo: finlitkids.com