Banda: Pala, Kejayaan Masa Lampau dan Mental Terjajah

Banda the Dark Forgotten Trail

”Cita rasanya melayarkan ribuan kapal. Aromanya mengundang negara-negara Barat datang ke Nusantara”. Demikian Jack Turner menggambarkan bagaimana rempah Nusantara menggoda dan memikat dalam bukunya, Spice, The History of A Temptation (2004).

Akhirnya Sabtu kemarin bisa nonton film dokumenter Banda the Dark Forgotten Trail. Alasan final kenapa kekeuh mau nonton, karena saat Popcon Asia 2017, saya menghadiri talkshownya dan beli komik Bara — yang merupakan adaptasi dari dokumenter ini. Komik Bara yang digarap sama Kosmik ini, well executed banget dari segi penceritaan maupun visual. Jadinya bikin saya lebih penasaran untuk nonton filmnya. Continue reading “Banda: Pala, Kejayaan Masa Lampau dan Mental Terjajah”

Kingsman: The Secret Service

Saya bukan penggila film, yang selalu mengikuti perkembangan film setiap saat. Lihat saja betapa kosongnya posting blog ini tentang film. Di kantor, hampir semua orang gila film. Kadang kalo lagi ngobrol, saya hanya cukup menjadi pendengar setia.

Kalo orang-orang yang sering saya temui berkempul semua, Dennis, Putri, Yansen, Eunike dan Raisa. Saya speechless dan hanya bisa mengangguk kalo mereka ngobrol film. Mungkin selera film saya hanya 0,1% dari mereka.

Pernah suatu kali diajak nonton film yang menurut saya agak berat dan harus mikir ditengah-tengah film, yang pada akhirnya saya tidak merasa terhibur secara maksimal. Beda banget ketika nonton film ini, entertaining and mind-blowing!

Film dengan genre spy-action-comedy ini menceritakan tentang sebuah organisasi agen rahasia yang menyelamatkan dunia. Salah satu pemeran utama di film ini, Eggsy adalah anak dari salah satu anggota agen ini yang tewas di dalam sebuah misi di Timur Tengah. Harry, agen lain yang merasa berhutang budi kepada ayahnya Eggsy karena menyelalamtkan nyawanya, memberikan sebuah kalung kepada Eggsy saat ia masih kecil. Kalung itu punya sebuah nomor yang bisa ditelfon dengan kode tertentu yang bisa Eggsy gunakan jika membutuhkan bantuan apapun.

Eggsy diselamatkan Harry. foto: fbiradio.com

Singkat cerita Eggsy tertangkap oleh polisi dan menelepon nomor dibalik kalung itu. Eggsy bebas dan di sinilah Eggsy kembali bertemu dengan Harry setelah 17 tahun sejak pertama kali bertemu. Kemudian Harry melihat ada potensi yang besar dari Eggsy untuk bisa bergabung dengan tim agend rahasia-nya – Kingsman.

Eggsy haru mengikuti serangkaian training yang ultra-competitive untuk bisa akhirnya bergabung dengan agen tersebut. Sementara dalam waktu yang sama, Richmond Valentine – seseorang yang berlaga philanthropist, meluncurkan sebuah kebaikan palsu dengan membagikan SIM card dengan gratis telfon, SMS dan internet data yang bisa mengkacaukan otak manusia.

Orang-orang bisa dibuat kacau otaknya. foto: deadline.com

Well, kamu harus nonton gimana Kingsman beraksi lewat film ini. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya highlight dari film ini.

Teknologi, Alat Konspirasi yang Scalable
Yap, pernah ngebayangin ga sih kalo misalnya smartphone, free email, operating system dan sosial media yang kita pakai sekarang adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk menjalankan sebuah konspirasi? Saya jadi sempet takut ngelihat cerita dari film ini, bagaimana orang-orang bisa dikontrol lewat sebuah handphone.

Film spy-action lebih menghibur dengan lawakan


Saya kira film spy-action yang agen-agen seperti ini akan sangat serius dan harus berfikir keras ketika menonton. Tapi tidak dengan film ini. Justru yang makin menarik adalah karena film ini disuguhkan dengan alur yang unpredictable dan sangat menghibur. Saya sama sekali tidak kehilangan fokus.

Bahkan yang paling lucu dari film ini adalah di adegan yang paling serius ketika orang-orang penting yang diimplant SIM Card satu persatu mati dengan didramatisir seperti pesta tujuh belasan.

Dunia hanya dikuasi beberapa orang
Kita sering lah denger pernyataan bahwa dunia hanya dikuasi beberapa orang, ada yang bilang oleh Yahudi. Entah bener atau engga (tapi kayanya bener sih), film ini menggambarkan itu. Dimana Richmond Valentine mengontol semua petinggi dunia demi kesuksesan misi ‘mulia’ nya memusnahkan manusia-manusia yang menurutnya tidak berkontribusi positif untuk dunia.

Outstanding!

Well, saya bukan kritikus film, hanya penikmat film biasa yang tidak kritis terhadap plot ataupun karakter film. Yang jelas saya sangat terhibur di malam minggu ini. See ya!

“Manners maketh man. Do you know what that means? Then let me teach you a lesson.”

Thumbnail photo: latino-review.com

Indonesia Butuh Pemuda Berjiwa Pendekar Tongkat Emas

Saya tuh bukan orang yang film banget. Kurang begitu update sama film-film terbaru di bioskop. Cenderung selektif, hanya memilih film yang benar-benar punya message bagus atau seenganya entertaining. Bukan film-film khayalan ga jelas! Saya kaya gitu mungkin karena dulunya kalo nonton, musti naik bis atau angkot selama 1 jam dari rumah menuju ke Jatinangor – kota perbatasan Bandung-Sumedang, satu-satunya bioskop di Sumedang. Makanya musti selektif, karena berat di ongkos euy!

Menjelang akhir tahun, kaum urban dihebohkan dengan beberapa film yang ditunggu-tunggu. Yang paling menonjol adalah Doraemon Standy by Me yang kabarnya bahkan beli tiketnya musti ngantri dari pagi, udah macam pembagian daging kurban aja. Oke! Setelah nonton ternyata tidak seheboh ngantri tiket. Filmnya cukup bagus sih, tapi ga worth it aja kalo dibanding sama animo yang ada, dan untuk penutupan sebuah kenangan masa kecil tak terlupakan.

Ini pas lagi talkshow Pendekar Tongkat Emas di Popcon Asia 2014 bareng om Dennis

Film lain yang saya tunggu-tunggu tentu saja Pendekar Tongkat Emas. Pertama kali tahu soal film ini adalah pada saat Popcon Asia 2014 dimana ada sesi khusus untuk memperkenalkan Film garapan Mirles Production ini.

Okeh, saya nonton barengan anak Kibar saat pertama kali pemutaran filmnya. Ini adalah film Indonesia yang wajib ditonton di bioskop. Adegan laganya nyata, ga kaya film-film laga di salah satu stasiun televisi yang ada naga terbangnya. Settingnya ga becandaan, kalo kamu liat settingnya itu ga kaya di Indonesia. Saya jadi makin yakin Indonesia itu indah.

Tapi yang terpenting dari setelah nonton adalah merenungi pelajaran apa saja yang bisa diambil. Ini ga spoiler ya.

Siapa Saja Bisa Menjadi Lawan

Lawan bisa menjadi kawan. Kawan bisa menjadi lawan!

Diceritakan perguruan Tongkat Emas memiliki 4 murid yang dipimpin oleh Cempaka, sang pendekar tongkat emas. Teman seperguruan yang sudah dianggap keluarga malah menjadi lawan terbesar. Kekuasaan, keserakahan akan dengan sangat mudah melupakan semuanya. Hati-hati terhadap kawan, bisa saja menjadi lawan. Bukan tidak mungkin lawan akan menjadi kawan!

Kolaborasi, Hasilkan Kekuatan Tak Terkalahkan

Mereka berlatih untuk bersinergi

Tongkat emas memilki kekuatan terbesar yang tidak terkalahkan. Tapi tongkat emas hanya akan menjadi tongkat biasa jika tidak diguanakan secara berkolaborasi. Sebelum dapat menggunakan kekuatannya, pendekarnya harus mensinergikan kekuatan, pikiran dan emosinya.

Pendekar Sejati, Berkuasa dengan Hati 

Apakah aku penguasa yang sudah memilki hati?

Tidak berguna kita mempunya kekuatan dan kekuasaan, kalo tidak memiliki hati. Itulah jiwa pendekar, itulah jiwa ksatria, itulah jiwa pemuda Indonesia. Yang berkekuatan dan yang berkuasa serta memiliki hati adalah yang dirindukan bumi Indonesia. Kamukah?

Mudah-mudahan menjadi pelajaran untuk kita semua, setidaknya untuk saya pribadi. Salam pendekar tongkat emas!

Step Up All In: Berantem itu pake skill, bukan tawuran!

Hari ini emang udah saya niatin untuk ngerjain aktifitas personal, pengen nyari me time. Makanya saya ga ikut jalan-jalan bareng temen-temen Google Student Ambassador yang sebagian masih nginep di Kibar dan belum pulang ke kotanya masing-masing.

Akhirnya sekitar jam 2an jalan sendiri ke Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk nonton ini film, soalnya takut keburu ga tayang filmnya. Kaya filmnya Steve Job yang kelewat untuk nonton.

Saya ngikutin filmnya mulai dari seri pertama, waktu itu masih di SMP kalo ga salah. Makanya penasaran dan sayang banget kalo misalnya ga nonton yang ini. Karena di film yang ini karakter utamanya gabungan dari beberapa film sebelumnya. Di film ini ada Moose, Andie dan Sean. Sayangnya karakter utama di film yang pertama ga muncul.

Gampang banget nyari tim!


Sean, yang juga karakter pertama di film sebelumnya, bersama timnya ngadu nasib untuk berkarir sebagai dancer di Los Angeles. Tapi ga berjalan mulus, makanya temen-temenya balik ke Miami. Nah karena si Sean pengen ikutan lomba besar di Las Vegas, makanya dia nyari tim baru. Mungkin karena ini di film kali ya, nyari timnya tuh gampang banget. Tinggal ajak sana-sini langsung pada ngumpul dengan semangat yang pol.

Mungkin nyari tim yang cocok dengan kita untuk hal apapun itu agak susah dan ga secepet itu kali ya. Kebanyakn orang Indonesia kalo diajak untuk gabung ke hal yang ga ada duit di awal itu susah. Pasti deh kebanyakan nanya. Duitnya berapa? Hadiahnya apa? Jarang mikirin value dan impactnya kalo bikin atau ikutan sesuatu.

Nyari tim yang cocok bisa aja segampang di film itu, asal ngajak orang yang tepat, orang yang punya interest dan passion yang sama dengan kita. Networking yang luas dan berkualitas sangat ditentukan di sini.

Berantem itu pake skill, bukan tawuran!


Di scene awal-awal, langsung udah ada agedan yang memanas, berantem sama tim lain. Tapi bedanya, mereka berantem dengan skill dance mereka. Saling membuktikan kemampuan masing-masing! Bukan dengan cara kekerasan, bukan pula tawuran a la siswa di Indonesia. Mindsetnya harus diubah. Untuk hal-hal ga penting harusnya ga usah diributin, mending berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam melakukan) kebaikan” (QS al-Baqarah: 148 dan al-Maidah: 48).

Berbeda bukan berarti ga cocok!


Moose, karakter yang ada di tiga seri sebelumnya, istrinya itu bukan dancer. Dia gadis cantik yang lugu dan anggun. Saat nyusul Moose ke vegas, dia mergokin Moose lagi dance dengan salah satu cewe dan ga sengaja cewenya cium si Moose. Istirnya marah dan pulang. Moose nyusul pulang dan ga ikut babak semi final di lomba itu.

Saat ketemu lagi, istrinya bilang

“Aku tidak hanya cemburu kepada wanita itu, tapi juga kepadamu. Kamu sedang berbahagia dan melakukan hal yang kamu sukai disana. Tapi aku ga jadi bagian dari itu. Aku merasa bersalah tidak bisa dance seperti wanita itu.”

Moose jelaskan bahwa kedua hal, dance dan istrinya sama-sama membuat bahagia dan bisa dijalankan keduanya.

Ga tau kenapa part ini engage banget buat saya. Pada momen bahagia di karir/kerjaan, dia selalu merasa cemburu tidak menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Harusnya sih ga mikir kaya gitu. Saya cuma mau bilang

“Kamu tidak harus berada dalam kebahagiaan yang ini, kebahagiaan yang sederhana bersamamu adalah hal tak tergantikan.”

Buat yang ngikutin beberapa seri Step Up sebelumnya, film yang ini jangan sampe ketinggalan. Filmnya makin seru, performance dancenya juga makin kreatif dan keren.

Silicon Valley Series: Film Komedi, Untuk yang Geeky

Mulai dari akhir Juni hingga bulan ini, banyak banget peristiwa penting. Mulai dari pemilihan presiden, dimana gue gagal milih setelah modar mandir ke beberapa TPS di daerah menteng. Ada juga piala dunia, yang sebetulnya ga ngaruh banyak buat gue, ga pernah nonton juga. Yang paling penting buat gue sih, Google I/O. Yap!

Google I/O kali ini beda, karena ada 3 orang dari kantor yang menghadiri langsung kegiatannya di sana, dan gue jadi pembawa acara dadakan di Google I/O Extended Jakarta.

Sepulangnya koh Yansen, Mbak Putri dan mas Benny, banyak banget cerita yang dibawa dari Silicon Valley, lo bisa akses beberapa ceritanya mereka di Ziliun.

Meskipun perjalanan mereka di Silicon Valley sudah berminggu-minggu yang lalu, demamnya masih berasa di kantor. Hari Jumat kemarin di kantor, mas Benny bikin workshop Design Sprint. Malamnya abis buka puasa, kita nonton bareng Sillicon Valley series yang setiap hari Minggu malam diputer di HBO.

Pied Piper dan Kejenakaannya
Dilihat dari judulnya, yaitu Sillicon Valley. Tergambar jelas bahwa series ini menceritakan mengenai startup, dimana disanalah markas dari berbagai startup yang mendunia.

Series ini menceritakan Richard Hendriks, seorang programmer pemalu dan tertutup yang bekerja di sebuah perusahaan raksasa bernama Hooli, di dunia nyata perusahaan itu ibarat Google. Selain kerja, dia dan teman-temannya bikin startup di sebuah inkubasi yang dikelola oleh Erlich Bachman. Mereka juga semua tinggal di sana, jadi inkubasinya tuh kaya sekalian tempat kosan. Inkubasi di Indonesia kayanya belum banyak tuh yang kaya gitu.

Produk yang mereka kembangkan adalah sebuah music app yang mereka kasih nama Pied Piper. Susah banget dan aneh kan namanya?

Richard menunjukan appnya ke brogrammernya di Hooli. Sempet juga picthing ke Peter Gregory, salah satu investor terkenal di sana.

Suasana kantor khas startup dengan work board dan meja berantakan

Singkat cerita, CEOnya Hooli yaitu Gavin Belson dan Peter Gregory tertarik sama konsepnya Pied Piper. Terlebih pada algoritma kompresi data yang dimilik app tersebut, yang mereka yakinin sebagai terobosan baru dari algoritma kompersi yang sudah ada sekarang.

Akhirnya Pied Piper ditawar oleh Gavin seharga $10 million dengan sistem jual lepas. Di sisi lain, Peter Gregory juga nawar itu startup seharga $200,000 nilai investasi dengan 5% saham untuk Richard.

Setelah galau berkepanjangan, akhirnya Richard memilih tawaran $200,000 dengan berfikir bahwa dia akan terus menumbuhkan Pied Piper bersama-sama dengan kawannya. Tapi Gavin tidak tinggal diam, ternyata dengan penolakan dari Richard, dia dan timnya mengembangkan produk yang sama persis dan mencuri algoritma Pied Piper dari pre-release app yang pernah dikasihkan ke temennya sewaktu di Hooli.

Di akhir-akhir episode, persaingan raksasa Holli dan startup baru Pied Piper semakin panas. Apalagi dipertemukan di sebuah event yang sama dimana Holli merilis produk data kompresinya. Apa yang terjadi pada event itu? Dan bagaimana nasib mereka? Tonton sendiri ya. Biar penasaran kalo nonton. Simak deh trailernya, pasti lo jadi pengen nonton.

2 Pelajaran Tentang Manajemen

Ini adegan di episode terakhir, bukannya malah tegang, ini malah bahas mastrubasi. Tapi keren sih, dihubungkan dengan matematika gitu. 


Filmnya dikemas sangat konyol. Disetiap episode pasti pada ketawa. Pun begitu, ada nilai-nilai penting yang bisa diambil dari series ini. Apa sajakah itu?

Bikin Startup, Bukan Soal Produk

Mungkin banyak dari kita berfikir bahwa bikin produk bagus saja cukup untuk jadikan startup kita sukses. Tapi ternyata tidak! Pied Piper dengan terobosan algoritma data kompresinya yang begitu luar biasa saja, masih tetep banyak yang harus diurusin.

Bahkan Richard harus melewati beberapa episode dulu hingga dia benar-bener terlihat siap untuk menerima funding itu dan mulai menjalankan startupnya.

Jangan Sembarangan Hire Teman dan Keluarga

Di series ini, Richard diceritakan punya sohib yang juga sama-sama kerja di Hooli. Mendengar kalo Richard baru aja dapet investor, sohibnya yang sering dipanggil Bighead, secara tidak langsung ingin bergabung di startup tersebut. Richard menyambutnya dengan senang hati meskipun dia tahu kalo Bighead tidak terlalu dibutuhkan karena tidak ada job desc yang jelas.

Richard dan Bighead

Setelah berdiksusi panjang, akhirnya Bighead dikeluarkan demi menjaga struktur organisasi yang baik. Beruntungnya, Bighead akhirnya dihire oleh Hooli untuk project saingannya Pied Piper.

Terkadang kita mungkin galau dengan kondisi seperti itu, tapi kita harus profesional dan tegas untuk kebaikan organisasi kita juga.

Selain dua hal diatas, ada term baru yang saya tahu dari film ini. Yaitu, Scrum. Singkatnya, itu adalah sebuah metodologi dalam pengembangan software yang mendorong tiap individu dapat bekerja secara bersama-sama menuju tujuan yang sama.

Kalo dilihat dari cuplikannya mereka, mereka kaya bikin daily todo gitu di work board menggunkan post-it. Ketika kerjaannya udah selesai, post-itnya dipindahkan. Mereka kaya bekerja dengan modul yang dibagi-bagi, jadi tidak bekerja secara sequential dan tidak saling menunggu.

Di season satu ini, ada 8 episode. Waktu kemarin, kita langsung beresin semua episodenya. Nonton deh, seru, geeky, menghibur, juga sarat akan pelajaran penting. Apalagi buat lo yang mau bikin startup!

How to Train Your Dragon 2: Sebuah Penantian yang Layak!

Saat menonton film ini pertama kalinya, saya masih sekolah SMK di Sumedang. Karena jauh dari bioskop, ya alhasil cuma bisa nonton pake DVD bajakan yang biasa saya beli di deket taman endog. Waktu itu hampir tiap minggu saya beli DVD, sampai-sampai yang jualnya hafal saya.

Kalo lagi ga bisa beli, biasanya saya juga rental DVD di Video Ezy. Sayangnya sekarang sudah tutup. Padahal saya salah satu customer setianya loh, sampai-sampai pernah dapet jam dinding segala karena dapet point banyak banget. Jadi kangen masa-masa itu euy!

Sehabis pulang ngampus, saya ga langsung pulang ke kantor. Saya mampir dulu ke 21 Cinema yang ada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya wujudkan untuk nonton film ini malam itu juga, karena takutnya ketunda-tunda terus dan takutnya malah jadi ga terwujud. Soalnya ini film sudah saya tunggu sejak lama sekali. Dan.. inilah film kedua dari petualangan Hiccup & Toothless.

Mother of Dragon Master!

Ibunya Hiccup juga adalah dragon master


Film kedua ini diceritakan 5 tahun kedepan dari film sebelumnya dimana kondisi Berk, tempat tinggalnya para viking, hidup damai berdampingan dengan naga. Hiccup tidak lagi terlihat sebagai seorang anak kecil, kini dia tumbuh menjadi remaja.

Satu hal yang tidak pernah berubah dari Hiccup adalah sifat keras kepalanya. Kalo kata orang sunda, Hiccup itu sangat neugtreug. Tapi justru karena sikapnya yang keras kepala, dengan tidak sengaja dia bertemu dengan Ibunya yang dikirannya sudah meninggal. 20 tahun yang lalu, Ibunya (Valhallarama) hilang dicuri oleh Cloudjumper, seekor naga yang kini terus menemaninya.

Ibunya ternyata selama ini tinggal di sarang naga raksasa yang dapat menyemburkan es, dimana para naga-naga kecil juga hidup tentram di sana. Ibunya sangat tipikal dengan Hiccup, pemberani dan baik hati.

New Dragons

Cloudjumper, naga yang menculik Ibunya Hiccup

Banyak sekali naga baru yang muncul dengan berbagai warna dan bentuk. Salah satunya Cloudjumper yang memisahkan Val dengan keluarganya yang pada akhirnya menjadi sahabat Val.

Ada juga Seadragonus Giganticus Maximus, naga yang ukurannya super besar, mungkin seukuran gunung. Naga ini bisa menyemburkan es. Diceritakan ada dua Seadragonus berwarna terang dan gelap. Pada saat pertempuran, Seadragonus putih ‘mati syahid’ setelah berjuang menyelematkan ribuan naga dari kekejaman Drago.

Yang tak kalah luar biasa, Val dapat membuat Toothless mengeluarkan sirip tajamnya setelah dapet pijitan rahasia. Di perang yang terakhir, Toothles berubah menjadi biru menyala pada beberapa bagian tubuhnya. Terlihat sangat tangguh!

Goodby Papa, Welcome New Chieftain

Ibu yang hilang, tapi tidak tertukar ko!


Stoick juga akhirnya bertemu kembali dengan Val. Scene drama ini sangat menyentuh, bak adegan-adegan sinteron Indonesia. Tapi pertemuannya dengan Val sangat singkat, karena pada akhirnya Stoick juga harus mati syahid demi menyelamatkan Hiccup dari semburan Toothless yang sedang dikuasi perintah jahat Drago.

Goodbye great papa!

Strong Desire for Peace

Berk kembali aman dan berbahagia

Dinamika filmnya dapet banget. Saya makin antusias dengan cerita-ceritanya mereka. Seru kali ya kalo nyoba baca novelnya juga. Jadi ga sabar juga untuk nonton film ke-3nya yang direncanakan rilis tahun 2016.

Inti dari film ini sebagian besar masih sama dengan film sebelumnya, mengenai Hiccup yang terus percaya dan bersikeras untuk melakukan perubahan pradigma manusia mengenai perdamaian  naga dan manusia. Di akhir film ini, Hiccup dapat membuktikan untuk kesekian kalinya.

Seperti dikehidupan nyata kita, perubahan yang baik bukanlah hal yang mudah. Pasti selalu ada tantangan. Yang harus kita lakukan adalah yakin dan ikhtiar!