Kecerdasan emosi itu dipraktekin

Salah satu yang menurut gw harus terus dipelajari dan ditingkatan seiring kita dewasa adalah Emotional Intelligence (EQ):

The capacity to be aware of, control and express one’s emotions, and to handle interpersonal relationships judiciously and emphatically.

Nah kebetulan pas lagi ke Bandung dan jalan-jalan ke Gramed, gw menemukan satu buku yang kece. Judulnya “Emotional Intelegence itu dipraktekin”. Judulnya catchy dan terkesan sangat casual. Dan setelah baca, bukunya emang bagus. Sebuah bacaan ringan namun banyak makna.

Nah di post kali ini, gw pengen merangkum dan mengutip beberapa bagian yang menurut gw menarik di buku ini. Ya seperti biasa sih, tujuannya buat kalo kedepannya butuh infonya, gw tinggal cek di blog dan mudah-mudahan bermanfaat buat yang baca blog.

So, kecerdasaan emosi itu apaan sih?

Kalo dari definisi di atas. Kecerdasan emosi itu suatu keterampilan untuk mengenali perasaan-perasaan dan mengatur emosi kita.

Terus kenapa keterampilan ini penting? Karena kecerdasan emosi yang lebih baik, akan memaksimalkan potensi sukses kita di dalam hidup. Meski memang untuk sukses,  ada banyak faktor pendukung lainnya.

Misal nih, ada seorang aktris (sebut saja Rubela) yang cantik menawan bak mimi peri puteri dongeng dan kemampuan aktingnya luar biasa. Tapi Rubela kurang cerdas secara emosi. Banyak produser dan sutradara yang tidak nyaman bekerja dengannya karena attitudenya yang kurang baik. Seperti ga bisa mengontrol emosi, memaki lawan main dan gampang marah-marah.

Rubela
Rubela. Credit: @mimi.peri/Hipwe

Terus ada satu lagi aktris tandingannya Rubela, sebut saja Analiza. Yang kemampuannya setara dengan Rubela, namun kalah cantik misal. Tapi Analiza memiliki kecerdasan emosi lebih baik. Banyak produser dan sutradara yang nyaman bekerjasama dengan Analiza.

Akhirnya, Analiza lah yang sering mendapatkan peran bagus bersama produksi film terbaik di negerinya.

Itu contoh sederhana saja bahwa kecerdasan emosi yang dampak terlihatnya terhadap sikap kita, menjadi salah satu faktor apakah kita dapat memaksimalkan potensi sukses kita atau malah membahayakan potensi itu.

Daniel Goleman menyebutkan 5 area yang termasuk ke dalam kemampuan EQ:

  1. mengenal emosi Anda
  2. mengatur emosi Anda
  3. memotivasi diri
  4. mengenal dan memahami emosi orang lain, dan
  5. merawat hubungan (relationship)

“People with well developed emotional skills are also more likely to be content and effective in their lives, mastering the habits of mind that foster their own productivity” – Daniel Goleman

Seperti itulah pentingnya kecerdasan emosi!

Emosi yang baik

Emosi yang baik itu seperti apa? Emosi yang baik itu, ditentukan oleh kualitas tujuan hidup kita. Terus tujuan hidup yang baik itu yang gimana?

Gw suka bagian dari buku ini yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tujuan hidup yang baik adalah yang mendekati ke hal-hal yang bersifat: alturistis (mendatangkan kebaikan bagi banyak orang) dan transdental (memperoleh kedamaian dan ketenangan abadi).

Nah apakah tujuan hidup kita sudah alurstis dan transdental? Mudah-mudahan ya. Amin

Kebahagiaan yang otentik

Ngomongin soal emosi-emosian, ini erat kaitannya dengan mood dan kebahagiaan kita. Nah di buku ini, dijelaskan kembali apa sih arti dan kelompok kebahagiaan itu.

Kebahagiaan
Credit: designedtoblossom.com

Menurut Seligman, ada 3 jenis kebahagiaan:

  1. Hidup yang menyenangkan (pleasant life). Ini soal kesenangan instan, terkesan hedonistis. Hasrat yang sesaat, segera terpenuhi, biasanya seputar kebutuhan-kebutuhan dasar, dan kesenangan-kesenangan emosional.
  2. Hidup yang baik (good life). Kondisi dimana seseorang meraih hal-hal yang diinginkan. Seperti cita-cita terpendam, hasrat untuk meraih ketenaran, atau karir, biasanya terpenuhi dalam hidup semacam ini.
  3. Hidup yang bermakna (meaningful life). Kondisi ketika seseoarang tergabung dalam sesuatu yang lebih besar dan lebih bernilai, ketimbang kenikmatan dan hasrat dirinya sendiri.

Kebahagian otentik adalah kalo kita punya 3 kombinasi itu. 3 hal itu bukan tingkatan, karena kadang bisa berjalan selaras. Dari 3 hal diatas, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kebahagiaan  hidup bukan hanya sebatas hedonisme.

Jadi harus gimana?

Kita sama-sama sepakat bahwa kecerdasan emosi yang baik adalah segala sesuatu yang positif. Di post ini gw coba bahas beberapa point pentingnya menggunakan quotes yang ada di buku itu. Untuk penjelasan yang lebih detail, kalian bisa baca di bukunya ya.

Ini bukunya

“Promise yourself: to look at the sunny side of everything and make your optimism come true” – Anne Frank

Apapun kondisi yang sedang kita hadapi. Berusahalah untuk selalu melihat dari sisi positif, sekecil apapun itu.

“Your greatness is here and now. Your happines is here and now” – Napoleon Hill

Bahagian yang sederhana dibangun oleh syukur yang tak berkesudahakan atas hal-hal yang mendasar. Bahagia itu di sini dan sekarang.

“We first make our habits, then our habits make us” – John Dryden

“All generalisations are falls; including this one.” – Mark Twain

Kadang menyamaratakan suatu hal tidak baik. Apalagi disertai dengan asumsi negatif.

“Every saint has a past, and every sinner has a future” – Oscar Wilde

“All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think, we become” – Buddha

Segala sesuatunya dimulai dari apa yang kita pikirkan.

“Sometimes your joy is the source of your smile, but sometimes your smile can be the source of your joy” – Buddha

“The word LISTEN contains the same leter as the word SILENT” – Alfred Brendel

“Go and make yourself useful, since you are too big to be ornamental” – Louisa May Alcott

“Peace is not the absence of the conflict but the ability to cope with it.” -Dorothy Thomas

“Forget past mistakes. Forget failures. Forget everything except what you’re going to do now, and do it” – William Durant

Mari praktekin. Good luck!

 

Featured image credit: huffpost.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *