WIT 2014: Kita Butuh Banyak Pemain Lokal !

Ini adalah satu bukti lagi bahwa teknologi merubah banyak hal, termasuk merubah travel/toursim industry. Web in Travel (WIT) dinisiasi pertama kali oleh Shiw Hoon pada tahun 2005 dalam bentuk conference. Kini WIT Conference sudah diselenggarakan di Singapore, Thailand, Indonesia, Japan, Australia, Vietnam, Cambodia, Malaysia dan Philippines. Konferensinya bahasa soal travel technology,  juga disturbusi dan marketingnya.

Tahun ini (23/04), adalah tahun kedua WIT Conference diselenggarakan. Dan ini juga tahun kedua, Kibar menjadi local partner untuk penyelenggaraan kegiatan ini. Tapi, ini kali pertama saya terlibat dalam project WIT. Meskipun tidak terlalu banyak terlibat, tapi banyak banget insight baru yang saya dapat.

Lebih Banyak Bule!
Event ini sangat berbeda buat saya. Pertama, jumlah pembicaranya yang luar biasa banyak. Bayangkan! Jumlah pembicara mencapai hampir 50 orang. Bentuk kegiatan selang seling antara presentasi dan discussion panel. Setiap sesinya ga lebih dari 30 menit, makanya ga heran pembicaranya banyak

Yang menjadi pembicara dikegiatan ini didominasi oleh bule yang memang sudah lama berkecimpung di bidang ini. Pesertanya juga kebanyakan yang hadir adalah bule. Melihat kondisi seperti itu saya menjadi berpikiri dan berspekulasi. Jika yang datang ke kegiatan semalah segede dan sebergengsi ini kebanyakan bule, berarti industri pariwisata kita juga didominasi oleh bule dong?

WIT Indonesia dibuka dengan tari piring

Mhhh.. sepertinya saya tidak berspekulasi! Dari data yang saya dapatkan, Bali saja yang merupakan primadona pariwisata Indonesia, 80% investasi pariwisatanya dikuasai asing. Ya liat aja kalo pas ke Bali, sana-sini hotel yang berdiri megah sumegah adalah hotel-hotel dengan merk asing. Ya tidak heran sih, saat ini asing punya kekuatan modal yang gede.

Sebagai rakyat biasa, saya berharap kalo nanti industri pariwisata kita, juga bisa kita sendiri yang menguasai. Kita butuh banyak pemain lokal !

Peran pemerintah *pemilu mode on* sangat penting di sini, bagaimana memperkuat industri pariwisat di negeri sendiri. Lagi-lagi kita butuh pemimpin yang peduli !

Perfectionist!

Sesi yang paling asyik menurut saya sih sesinya bu Noni Purnomo, CEO nya Blue Bird Group

Venue kegiatan ini di Pullman Central Park. Hotelnya lebih megah dari hotel-hotel yang pernah saya kunjungi. Ga heran lah, acaranya internasional kan.

Pas kegiatan, paginya saya bantu di bagian registrasi. Bantu untuk print tagname karena banyak peserta yang name tagnya masih blank. Dari malam sebelumnya, saya sudah persiapkan template untuk diprintnya. Bikin templatenya agak susah sih karena ngira-ngira dan printernya beda dari printer yang biasa dipake. Eh.. paginya disuruh ganti sama orang WITnya, karena template kurang mirip dengan yang asli katanya. Saya kira ga bakal komentar sedetail itu!

Abis bantu diregistrasi, saya bantu di bagian FOH untuk bantu setting timer. Bukan pekerjaan yang sulit sih, tapi tantangannya adalah menahan (lagi-lagi) rasa kantuk.

Oh no! Muka ngantuk saya terdokumentasi. Sebelah saya yang pake jas adalah General Managernya WIT, rangkap jadi mandor timer juga. :p

Secara keseluruhan acaranya rapih sih. Dan saya salut sama timnya WIT, mereka itu timnya sedikit loh tapi bisa bikin acara segede, serapih dan bisa ngundang speaker hebat sebanyak itu. Mereka sangat detail untuk mencapai kesempuraan, saya harus belajar soal itu dari mereka!

Code for Vote Challenge 2.0: Kontribusi Developer untuk Pemilu 2014!

Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden adalah event yang sangat penting untuk rakyat Indonesia. Betapa tidak, hanya dalam satu hari saja nasib bangsa ini ditentukan.

Dalam rangka menyambut pesta demokrasi ini, Perludem dan GDG Jakarta menginisiasi Code for Vote Challenge 2.0 untuk mengajak para developer aplikasi untuk membuat sebuah karya yang bertujuan membantu para pemilih mengenal calon presiden dan wakil presiden.

Langkah yang dilakukan perludem dan GDG menurut saya sangat tepat, karena pada pemilu kali ini, 40% diantaranya adalah pemilih muda & pemula. Seperti saya sendiri, ini adalah pemilu presiden pertama saya. Maka diperlukan sebuah informasi yang dikemas dalam bentuk web/apps, sesuai dengan trend kekinian.

Big Enthusiast!
Sejak diumukan mengenai kompetisi ini, kurang lebih ada 107 tim yang mendaftar. Angka segitu menurut saya sudah cukup membuktikan bahwa antusiasi para developer Indonesia sangat tinggi.

Antusiasnya mereka mudah-mudahan tidak hanya didorong oleh hadiahnya saja, tapi juga memang benar-benar ingin berkontribusi untuk bangsa.

Demo Day!

Tim Akupilih.com dari Yogyakarta sedang ngoding


Yang hadir pada demo day 14 Desember 2014 lalu adalah 62 peserta terpilih yang sebelumnya telah diseleksi dari ratusan pendaftar. Peserta yang datang berasal dari berbagai kota besar, diantaranya dari Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.

Kegiatan yang dipandu oleh mas Yohan Totting ini dibuka oleh Bu Titi Anggraini dari Perludem, Putri Izzati dari GDG Jakarta, Shinto Nugroho perwakilan dari Google Indonesia dan Amit Chopra selaku Developer Relation dari Google Singapore.

Amit Chopra, Developer Relation SEA dari Google Singapore sedang memberikan sambutan

Pada kegiatan demo day ini, juri melakukan review terhadap aplikasi mereka. Kemudian peserta bisa melakukan beberapa perbaikan sebelum tim juri memberikan penilaian.

Setelah juri melakukan penilaian dan mengumumkan peserta yang masuk 16 besar, peserta terpilih melakukan presentasi aplikasinya. Kemudian juri memberikan komentar terhadap hasil akhir dari karya yang dipresentasikan.

The Winners!

Juara pertama diraih tim Ice Barbel dari Bandung dengan aplikasi Pemiluman-nya


Setelah semua peserta terpilih melakukan presentasi, daaannn… inilah pemenang dari kegiatan Code for Vote Challenge 2.0. Selamat ya untuk para pemenang! Apalagi untuk pemenang pertama akan jalan-jalan gratis ke kantornya Google di Singapore. Woho!

Pemenang pertama diraih oleh tim Ice Barbel dengan aplikasi berbasi Android, yaitu PemilumanPemimpin Kita, website yang menggunakan Google Cloud Platform berhasil meraih juara kedua. Ayo Nyoblos yang merupakan karya temen-temen FemaleDev ini berhasil meraih juara tiga sekaligus best all female team. Pelita dan Analisis Capres 2014 berhasil meraih posisi runner up satu dan dua.

Silahkan download aplikasi diatas melalui Google Play. Beberapa dari aplikasi di atas berbasis web, sehingga kamu tidak perlu download, hanya tinggal mengaksesnya.

Press Conference

Pak Rudy Ramawy sedang memberikan sambutan


Pada 19 Juni 2014 yang lalu, seluruh pemenang juga diundang untuk menghadiri press conference yang diadakan di Media Center Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ini kali pertama saya masuk ke kantor KPU, kalo sebelumnya hanya nonton lewat tipi aja.

Sebetulnya pada kegiatan yang ini, saya tidak wajib datang. Tapi karena penasaran akhirnya datang dan mendakak menjadi photografer daripada tidak ada kerjaan sama sekali. Haahaa

I was part of this initiative!


Saya ikut bergabung menjadi bagian dari initiative ini dan mempersiapkan sebelum kegiatan, pada saat kegiatan dan sesudah kegiatan. Waktu persiapannya ga banyak sih, makanya deg-degan banget kalo misalnya peserta yang submit tidak mencapai target yang kita harapkan. Tapi ternyata alhamdulillah banyak yang submit!

Dari berbagai persiapan yang menguras hati waktu, pada saat pengumuman dan para pemenang naik ke panggung, saya merasa ikut bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka. Pecah! Akhirnya selesai juga. Hehe

Youtube Fans Meet & Greet: Era Digital, Eranya Youtube!

Pada kegiatan GSA Summit 2014 di Cebu, Phillipines. Beberapa Indonesian Googler yang tersebar di berbagai negara datang untuk menjadi salah satu pengisi sesi. Saya sempat ngobrol dengan mereka, beberapa dari mereka diantaranya Niken Sasmaya, Isabella Wibowo dan Wilfred Halim.

Saya sempet berbincang dengan Mbak Niken soal YouTube Fanfest yang belum lama digelar untuk pertama kalinya di Singapore. Salah satu hal yang saya tanyakan adalah “kapan mau ngadain event serupa di Indonesia? ya jangan gede dulu lah. Yang penting ada YouTuber terkenalnya.”. Mbak Niken hanya bilang “Tunggu aja ya, kita lihat nanti.”. Udah ga lama dari itu.. bum! Saya langsung dapet infonya mengenai kegiatan YouTube Fans Meet & Greet.

50 Lucky People!
Dari jam 3an lebih, saya udah ketar-ketir untuk buru-buru cabut dari kantor. Meski acaranya dimulai jam 4.30 dan jarak dari kantor ke daerah Sudirman tidak terlalu jauh, tetep aja macet Jakarta selalu bikin khawatir. Saya pergi bareng dengan rombongan anak-anak Layaria.

Meski sempet padat merayap di jalan, akhirnya bisa datang tepat waktu. Saat datang ke lokasi, udah banyak anak-anak cewe yang mungkin sedikit labil sedang teriak-teriak karena lihat salah satu YouTuber yang masuk ke venue.

Ini antriann yang sudah dirapihin. Awalnya padet banget

Bukannya masuk ke antiran, kita malah langsung masuk ke registrasi. Ga tau kenapa ga ada yang menggubris, mungkin securitynya lagi lelah dan teralihkan oleh bludakan remaja cewe yang berteriak-teriak bak anak ayam yang sedang kelaparan. Haaaha

Karena hasil nyelonong, akhirnya kita bisa dapet gelang merah. Ko seneng dapet gelang merah? Karena gelang merah artinya mendapatkan priority access untuk bisa naik ke panggung, temu langsung dengan para YouTuber dan bisa foto-foto.

Nah gimana ga beruntung bisa foto bareng dengan creator YouTube seterkenal ini. Envy heh? Pls dont hate me!

Selain Sam Tsui & Kurt Hugo Schneider, yang juga hadir dalam kegiatan ini adalah YouTuber papan atas Indonesia seperti Jakarta Beat Box, GAC, Aaron Sahab, Adera dan creator lainnya yang kebanyakan saya ga kenal.

Setelah kegiatan foto-foto untuk 50 orang yang beruntung, mereka semua bernyanyi silih berganti. Yang menurut saya penampilannya bagus adalah Adera, GAC Jakarta Beat Box. Kurt dan Sam ga usah disebutlah ya. Soalnya udah kebutki karya mereka bagus-bagus.

Digital Era, Youtube Era

Secara keseluruhan, acaranya baik. Dekorasinya bagus dan runtutan acara berjalan dengan lancar. Meskipun di tengah-tengah kegiatan sudio mendung-dengung lumayan lama.

Dengan hadirnya saya di kegiatan ini, saya semakin berpikir-pikir. Gila banget ini YouTube! Dengan adanya kegiatan ini, YouTube membuktikan lagi bahwa ia menjadi platoform yang powerful dan akan terus berkembang.

Banyangkan! Ada 1 milliar orang mengunjungi YouTube setiap bulannya. YouTube telah mengubah banyak hal dan melahirkan banyak bintang baru. Mungkin kamu bintang baru selanjutnya? Let’s create!

How to Train Your Dragon 2: Sebuah Penantian yang Layak!

Saat menonton film ini pertama kalinya, saya masih sekolah SMK di Sumedang. Karena jauh dari bioskop, ya alhasil cuma bisa nonton pake DVD bajakan yang biasa saya beli di deket taman endog. Waktu itu hampir tiap minggu saya beli DVD, sampai-sampai yang jualnya hafal saya.

Kalo lagi ga bisa beli, biasanya saya juga rental DVD di Video Ezy. Sayangnya sekarang sudah tutup. Padahal saya salah satu customer setianya loh, sampai-sampai pernah dapet jam dinding segala karena dapet point banyak banget. Jadi kangen masa-masa itu euy!

Sehabis pulang ngampus, saya ga langsung pulang ke kantor. Saya mampir dulu ke 21 Cinema yang ada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya wujudkan untuk nonton film ini malam itu juga, karena takutnya ketunda-tunda terus dan takutnya malah jadi ga terwujud. Soalnya ini film sudah saya tunggu sejak lama sekali. Dan.. inilah film kedua dari petualangan Hiccup & Toothless.

Mother of Dragon Master!

Ibunya Hiccup juga adalah dragon master


Film kedua ini diceritakan 5 tahun kedepan dari film sebelumnya dimana kondisi Berk, tempat tinggalnya para viking, hidup damai berdampingan dengan naga. Hiccup tidak lagi terlihat sebagai seorang anak kecil, kini dia tumbuh menjadi remaja.

Satu hal yang tidak pernah berubah dari Hiccup adalah sifat keras kepalanya. Kalo kata orang sunda, Hiccup itu sangat neugtreug. Tapi justru karena sikapnya yang keras kepala, dengan tidak sengaja dia bertemu dengan Ibunya yang dikirannya sudah meninggal. 20 tahun yang lalu, Ibunya (Valhallarama) hilang dicuri oleh Cloudjumper, seekor naga yang kini terus menemaninya.

Ibunya ternyata selama ini tinggal di sarang naga raksasa yang dapat menyemburkan es, dimana para naga-naga kecil juga hidup tentram di sana. Ibunya sangat tipikal dengan Hiccup, pemberani dan baik hati.

New Dragons

Cloudjumper, naga yang menculik Ibunya Hiccup

Banyak sekali naga baru yang muncul dengan berbagai warna dan bentuk. Salah satunya Cloudjumper yang memisahkan Val dengan keluarganya yang pada akhirnya menjadi sahabat Val.

Ada juga Seadragonus Giganticus Maximus, naga yang ukurannya super besar, mungkin seukuran gunung. Naga ini bisa menyemburkan es. Diceritakan ada dua Seadragonus berwarna terang dan gelap. Pada saat pertempuran, Seadragonus putih ‘mati syahid’ setelah berjuang menyelematkan ribuan naga dari kekejaman Drago.

Yang tak kalah luar biasa, Val dapat membuat Toothless mengeluarkan sirip tajamnya setelah dapet pijitan rahasia. Di perang yang terakhir, Toothles berubah menjadi biru menyala pada beberapa bagian tubuhnya. Terlihat sangat tangguh!

Goodby Papa, Welcome New Chieftain

Ibu yang hilang, tapi tidak tertukar ko!


Stoick juga akhirnya bertemu kembali dengan Val. Scene drama ini sangat menyentuh, bak adegan-adegan sinteron Indonesia. Tapi pertemuannya dengan Val sangat singkat, karena pada akhirnya Stoick juga harus mati syahid demi menyelamatkan Hiccup dari semburan Toothless yang sedang dikuasi perintah jahat Drago.

Goodbye great papa!

Strong Desire for Peace

Berk kembali aman dan berbahagia

Dinamika filmnya dapet banget. Saya makin antusias dengan cerita-ceritanya mereka. Seru kali ya kalo nyoba baca novelnya juga. Jadi ga sabar juga untuk nonton film ke-3nya yang direncanakan rilis tahun 2016.

Inti dari film ini sebagian besar masih sama dengan film sebelumnya, mengenai Hiccup yang terus percaya dan bersikeras untuk melakukan perubahan pradigma manusia mengenai perdamaian  naga dan manusia. Di akhir film ini, Hiccup dapat membuktikan untuk kesekian kalinya.

Seperti dikehidupan nyata kita, perubahan yang baik bukanlah hal yang mudah. Pasti selalu ada tantangan. Yang harus kita lakukan adalah yakin dan ikhtiar!

Mabuhay Pilipinas: Perjalanan Kawan 4 Kebangsaan

Sebetulnya saya kurang begitu suka jalan-jalan, karena bikin cape (dasar males!). Ga terlalu suka aja, apalagi kalo jalan-jalannya di Jakarta. Wah, abis waktu di jalan itu mah.
Nah, pada saat akan ke Philippines pun, awalnya saya tidak pernah kepikiran untuk jalan-jalan di sana. Saya malah berfikir untuk ikut semua sesi di Summit tersebut, padahal tidak wajib untuk saya yang notabene sudah pensiun sebagai Google Student Ambassador (GSA).
Namun semuanya berubah setelah Negara Api menyerang saya bertemu dengan kawan-kawan lama yang juga sama-sama GSA periode sebelumnya. Yaitu Touchanon Del Castillo dari Thailand, biasanya dipanggil Robot. Liew Jun Tung dari Malaysia, susah ya bacanya? Panggil saja dia JT. Dan Shad Roi de la Cruz yang merupakan orang local, Philippines. Panggil saja dia Shad.
Dibandingkan dengan saya, mereka lebih punya ambisi besar untuk jalan-jalan. Karena saat di sana saya lebih banyak berkumpul dengan mereka, saya akhirnya memutuskan untuk ikut berbagai agenda jalan-jalan mereka. Petualangan Sherina Kawan 4 Kebangsaan dikawitan1!

Petualangan tidak dibuat berurutan, karena saya lupa urutannya euy.

SM: Kerajaan Supermall Philippines
Bagian depan SM Supermall di Cebu City

Hotel dimana semua peserta GSA Summit 2014 menginap, lokasinya bersebelahan dengan salah satu mall besar di kota Cebu. Nama mallnya SM. Informasi dari beberapa teman Filipino, SM sangat terkenal di sana dan ada kurang lebih 43 mall sejenis di berbagai kota di Philippines.

Isinya sih ga terlalu berbeda dengan mall yang ada di Indonesia. Orang-orangnya juga tidak terlihat asing. Yang paling membedakan adalah jarang sekali saya temui wanita yang memakai kerudung. Jelas lah, karena Cebu adalah kota yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk katolik.

Gabii Sa Kabilin: Blusukan Sejarah

Salah satu ruangan di sebuah rumah tua bersejarah yang dijadikan museum di Cebu City. (Photo: Robot)


Setelah berbagai kegiatan yang padat di hari pertama GSA Summit 2014, salah satu Filipino yang baru saja saya kenal, yaitu Pamela Pañares yang merupakan Manager Google Educator Group(GEG) Cebu City, memberikan penawaran yang luar biasa membahagiakan. Dia mengajak saya dan teman-teman untuk menghadiri Gabii Sa Kabilin, kegiatan untuk menelusuri warisan budaya Philippines!

Event Gabii Sa Kabilin dilakukan sekali setiap tahunnya untuk memperingati hari warisan budaya nasional Philippines dan hari museum internasional. Saya dan teman-teman sangat beruntung bisa menghadiri event ini, karena timingnya sangat tepat.

Kita cukup mengeluarkan uang sekitar 150 Peso Philippines untuk dapat menikmati tur tempat-tempat bersejarah di sekitar Cebu City dan sekitarnya. Setelah kita dapat tiket, kita bisa masuk ke belasan museum yang berada di Cebu City, Lapu-Lapu City, Mandau City, dan Talisay City. Dengan tiket yang sudah kita beli, kita bisa menggunakan bus atau kendaraan semacam delman untuk menuju bangunan satu ke bangunan lainnya. Dan ada becak gratis juga!

Ini saat menelusuri bangunan bersejarah di kota tetangganya Cebu, yaitu Mandaue City (Photo: Pamela Pañares)

Kebanyakan dari museum yang saya kunjungi adalah rumah tua peninggalan saat Philippines dijajah oleh Spanyol selama 265 tahun lamanya. Tak heran kalau di berbagai bangunannya sangat kental dengan aksen-aksen gereja cantik a la Spanyol.

Salah satu ruang ibadah di rumah peninggalan bersejarah

Selain gereja tua, saya dan teman-teman juga mengunjungi salah satu gereja baru dan modern. Nama gerejanya San Pedro Salungsod. Nama itu diambil dari salah satu tokoh agama tersohor disana, Pedro Salungsod. Ini adalah kali pertamanya saya masuk ke gereja. Awalnya ragu sih untuk masuk, tapi berhubung ini niatnya hanya untuk berwisata akhirnya masuk saja. Lagian kan saya masuk bukan untuk mengikuti prosesi apapun.

Setelah bangunan bersejarah, pada kegiatan ini juga ada pentas seni yang ditampilkan oleh anak-anak kuliahan. Seni peran ini menceritakan mengenai sejarah singkat Philippines saat para penguasa Spanyol datang dan merebut kekuasaan. Seru! Di akhir penampilannya mereka nari-nari lucu gitu.

Penampilan seni peran mengenai sejarah singkat Philippines

Setelah jalan-jalan panjang hingga lintas kota, perut mulai rewel. Akhirnya sesampainya di Talisay City, kita menemukan pengganjal perut. Sayang, semua menu makanan yang tersedia hanya ada babi. Alhasil, hanya makanan sejenis ketupat saja yang bisa saya makan. Tapi gpp lah, saya cuma lihat teman-teman semangat makan juga sudah bikin kenyang ko! #bohongah

Tak apalah hanya dengan ketupat, meski sebetulnya tidak kenyang

Perjalan Gabii Sa Kabilin ini begitu berkesan, saya seperti benar-benar pergi berlibur. Saya sangat merasa bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang local yang mengerti betul harus membawa tamu asing ke tempat yang tepat. Suatu saat jika ada teman saya ke Indonesia, saya juga mau seperti mereka. Hal itu juga yang mendorong saya untuk lebih mengenai Indonesia, untuk bisa mengenalkannya dengan baik kepada yang lain. Petualangan kawan 4 kebangsaan tidak berhenti sampai di sini. Ada apalagi? Jangan kemana-mana dulu pemirsa!

Lapu-Lapu City: Tak Ada Pantai, Kolam-pun Jadi
Di hari kedua kegiatan Summit 2014, saya dan teman-teman GSA periode sebelumnya benar-benar free. Tidak ada tanggung jawab untuk ikut sesi manapun, makanya saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk laying on the bed. Sesekali keluar kamar dan ke venue kegiatan jika merasa lapar, untuk cari makanan.

Sore harinya Chelle Gray memberikan penawaran yang sangat menarik, yaitu jalan-jalan ke pantai di Lapu-lapu City. Letaknya tidak terlalu jauh dari Cebu. Kita pergi ke Costabella Resort, dimana salah satu kenalannya Chelle sedang ada di sana.

Ini pantai di depan Costabella Resort

Di perjalanan menuju kesana, banyak sekali hal yang diperbincangkan. Mulai dari hal yang serius, sampai hal yang sama sekali tidak penting. Keseruan perjalanan juga ditambah dengan cerita-cerita seru dari Wayne Manuel yang juga menjadi salah satu pembicara mengenai Map Maker pada kegiatan GSA Summit.

Sesampainnya di sana, ternyata pantai sedang surut. Jadi kondisi pantainya sangat jauh dan tidak ada orang. Karena langit juga sudah gelap, akhirnya kita memutuskan untuk berenang di kolam saja. Tak jadi pantai, kolam pun jadi.

Akhirnya berakhir di kolam renang saja








Begitu selesai berenang, kita langsung disuguhkan dengan kebahagiaan(baca: makanan). Kita juga ngucapin makasih banget untuk seluruh kebahagiaan ini kepada Anne Michelle Santos yang sudah berbaik hati mengajak kita ke tempat dimana dia sedang berlibur. Anne adalah salah satu orang yang banyak berkontribusi pada aktivitas komunitas Google di Philppines dan juga berkontribusi terhadap acara liburan kita. hehe

Menghabiskan kebahagiaan dengan tambahan groupie












Snorkeling with whale sharks!
Di hari ketiga, kita juga masih totaly free, jadi masih punya banyak waktu untuk ngebolang di sekitar Philippines. Ide perjalanan selanjutnya, tercetus dari Robot. Dia yang paling semangat untuk membuat ide itu terwujud. Idenya adalah pergi ke Oslob untuk snorkeling dengan whale sharks.

Jam 3 pagi saya ditelfon Shad untuk turun ke lobby supaya siap-siap berangkat ke Oslob. Awalnya saya ragu dan bilang ke mereka ga akan ikut. Ragu karena tempatnya lumayan jauh dan sebetulnya saya khawatir peso saya ga cukup. Tapi mereka maksanya minta ampun dan akhirnya ikut juga!

Perjalanan di bus saya habiskan untuk lihat-lihat suasana jalan. Suasana sekitar sangat tipikal dengan kebanyakan daerah di Indonesia. Sedangkan Shad, Robot dan JT Liew tertidur pulas, mungkin karena kelelahan sehabis main dari night club.

Si hitam bintik putihh ini beneran loh





Cukup dengan beli tiket 500 peso, kita bisa berdekat-dekatan dengan Butanding (panggilan untuk whale shark di sana). Seru banget, takjub sekaligus takut sih awalnya. Kalo mau mengenal lebih dekat butanding, cek deh video yang direkam sama Robot. Petualangan kawan 4 kebangsaan  di Philippines berakhir di Oslob.

Perjalanan saya kali ini sangat unik dan berkesan. Petualangan ini seperti ajang silaturahmi antara 4 negara berbeda, yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia dan Phillipines. Terima kasih Philippines untuk pengalaman luar negeri pertama saya yang luar biasa berkesan. Tunggu saya kembali! Amin.

Kawan 4 Kebangsaan


Reference:
[1] Kata yang berasal dari Bahasa Sunda yang artinya dimulai

GSA Summit 2014: Panggung Internasional Pertama Saya

Waktu berjalan sangat cepat, perasaan baru kemarin deh saya ngerasa kaget sekaligus seneng ketika menerima email kalo saya diterima menjadi salah satu Google Student Ambassador (GSA) 2013 untuk regional Southeast Asia. Eh sekarang sudah pensiun dan GSA baru pun sudah siap untuk berkarya.

Setahun bersama Google, rasanya luar biasa euy! Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapet, yang rasanya sulit untuk terwujud jika saya tidak ada di dalam circle ini. Menjadi GSA adalah salah satu turning point penting dalam perjalanan saya!

Google menjanjikan untuk mengundang top 3 GSA 2013 untuk hadir di Summit 2014, ekspektasi saya tidak terlalu tinggu waktu itu. Karena saya sadar bahwa di akhir periode program ini, saya tidak begitu aktif. Mungkin saya begitu terlarut dengan berbagai kegiatan di pekerjaan baru saya. Tapi rezeki itu ternyata tetap diberikan kepada saya, saya akhirnya pergi ke Philippines (28 Mei-1 Juni 2014) untuk presentasi dan share mengenai pengalaman saya selama setahun sebagai GSA. Mabuhay Pilipinas! 

I prepared it well !
Ini adalah moment sangat penting untuk saya. Saya tidak mau memperlakukan moment ini dengan cara yang biasa saya lakukan. Saya hindari untuk menggunakan sistem kebut semalam yang biasanya saya pake untuk ngapalin ujian, ngapalin presentasi kampus pun bikin paper.

Saya mulai mempersiapkan kontennya kurang lebih dari seminggu sebelum berangkat. Mulai dari mencari ide konten, cari data, bikin kerangkanya, bikin slide hingga bikin skrip presentasi saya usahkan yang terbaik. Alhasil, beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah hafal dengan apa yang ingin saya sampaikan dan begitu percaya diri dengan slide presentasi yang akan saya bawakan.

Saya ucapkan terima kasih untuk semua temen-temen yang sudah bantuin saya mempersiapkan ini dengan baik. Makasih Nisa dan Mbak Put untuk revisian redaksi slide dan skrip presentasi. Terima kasih koh Yansen untuk berbagai masukan yang luar biasa bermanfaat. Makasih Badur untuk bantu revisi design dan layouting presentasinya. Makasih loh Livana and the gank yang rela sempetin waktu buat merhatiin saya latihan di kantor. Makasih juga buat kang Herry untuk tips public speaking dan prinsip dasar slide presentasinya. Ga lupa saya juga ngucapin makasih buat Mamah yang tidak pernah berhenti untuk do’anya yang ijabah. Dan juga makasih buat calon istri saya yang selalu bikin saya rindu terhadap Bandung. #eahhh

Rehearsal with Aileen

Paling kiri Aileen Apolo (Education Outreach, Google), Robot (GSA Thailand 2013), Kamu! Iya betul itu saya, JT (GSA Malaysia 2013), Franz (GSA Philippines/GSA Program Coordinator)

Aileen dan timnya, memilih saya dari Bina Sarana Informatika sebagai perwakilan dari Indonesia, Robot dari Bangkok University sebagai perwakilan dari Thailand dan JT Liew dari Asia Pasific University Collage sebagai perwakilan Malaysia. Ketiganya adalah top GSA 2013 untuk masing-masing negara.

Saya tidak terlalu mengenal mereka sebelumnya, tapi pada momen tersebut akhirnya bisa mengenal masing-masing mereka dan menggali hal inspiratif dan bermanfaat dari mereka.

Niat saya setibanya di Philippines adalah latihan dan merasakan atmosfer panggung di mana saya akan presentasi. Nah ternyata memang ada agenda khusus dari Aileen untuk supaya kita bisa rehersal terlebih dahulu.

Awalnya deg-degan sih, takut banget kalo saya jadi blank setelah perjalanan cukup panjang Jakarta-Singapore-Cebu(Philippine). Tapi akhirnya bisa menunjukannya dengan sangat baik dan saya dengan percaya diri menawarkan untuk tampil pertama kali pada pelaksanaan, sebelum Robot dan JT.

The presentation!

Akhirnya tiba juga momen penting ini. Perasaan nervouse tetap terasa, tapi saya sangat merasa tenang di atas panggung. Mungkin ini efek dari persiapan yang cukup baik. Nah video diatas sedikit cuplikan dari presentasi saya di GSA Summit 2014 di Philippines. Makasih loh Bani Syahroni udah ngerekamin!

Discussion Panel with other Communities

Setelah presentasi tersebut, saya dan 2 GSA 2013 yang lain mendapatkan kesempatan untuk bergabung di sesi diskusi panel yang melibatkan berbagai komunitas Google seperti Google Business Group (GBG), Google Developer Group (GDG), Google Educator Group (GEG) dan dari Top Contributor Program.

Sesi ini adalah sesi yang paling bikin saya khawatir. Karena saya tidak bisa mempersiapkan sematang saya persiapkan untuk presentasi. Karena bentuknya diskusi dan berdasarkan pertanyaan dari moderator. Saya khawatir ga bisa nangkep apa yang ditanya sama moderator. Hehe

Setelah dijalanin, ternyata ga seserem yang dibayangkan. Saya begitu tenang ngejalaninnya dan berasa santai. Meskipun tidak se-talk active yang lain, tapi setidaknya saya bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang tidak terlalu ngaco!

Yang menjadi moderator pada sesi ini adalah Chelle Gray yang kemudian setelah sesi ini ngajak saya dan teman yang lainnya untuk jalan-jalan ke Lapu-Lapu City untuk ke pantai. Lalu ada juga Pamela Pañares sekalu GEG Manager untuk Cebu City dan Vince Tabor selaku GBG Manager untuk Baguio City. Saya bangga menjadi wakil Indonesia di panel tersebut.

Sungguh pengalaman yang luar biasa! Anak kampung akhirnya bisa menapakan kakinya di negeri orang. Saya yakin ini adalah awal dari momen-momen yang akan jauh luar biasa lagi. Saya akan terus memperbaiki diri dan terus belajar!

Google Jawara Training: 2 Hari Penuh Permainan!

Sejak pindah ke Jakarta, saya jadi seakan lupa sama kuliah. Bayangkan, dalam satu semester ini saya hanya baru masuk satu kali. Alasan pertama adalah ribet harus pake kendaraan umum ke kampusnya, motor masih ada di rumah. Jam sore adalah jam gila di Jakarta! Baru ngampus sekali aja stressnya susah hilang.
Alasan kedua adalah karena di sini lebih sibuk. Bukan hanya sibuk kerja terus, tapi juga karena sibuk belajar. Loh ko belajar? Iya.  Belajar kan ga harus di kampus, bro. 
Di Kibar, ada banyak sekali program yang sangat bermanfaat. Tiap hari selasa, kita ada kelas bahasa Inggris bareng Mbak Tiwi, salah satu youtuber yang juga partnernya Layaria. Mbak Tiwi kini sedang mengembangkan channel Bagi-Bagi Bahasa. Sok subscribe !
Hari Kamis/Jumat, ada kelas public speaking/presentasi bareng Mbak Novita, ex-Googler yang juga menjadi trainer di Google Partners Academy beberapa waktu yang lalu. How lucky I am coba, bisa dapet mentoring eksklusif dari individu berpengalaman seperti Mbak Novita.
Selain kelas rutin mingguan, terkadang kita menjelajah ke tempat-tempat inspiratif. Seperti berkunjung ke kantornya Badr Interactive dengan orang-orangnya yang luar biasa hebat. Terkadang juga ada training-training eksklusif lainnya seperti training Google Jawara pada Kamis dan Jumat kemarin.

Yeay! Wendy Gorton Lagi

Google Jawara Training adalah training untuk trainer. Jadi kita yang diikutkan pada training ini diproyeksikan untuk menjadi tariner yang akan memberikan training ke Jawara. Jawara adalah sebutan untuk mereka yang terpilih menjadi pioneer untuk menggunakan Google Apps for Education di kampus. Jawara bisa itu siswa/mahasiswa maupun guru/dosen.
Training ini diikuti oleh perwakilan dari partner-partnernya Google di Indonesia untuk Google for Education. Diantaranya yang datang adalah Adam Khoo Learning Technology Group (AKLTG) dan Primagain yang beberapa kali terlibat project bareng dengan Kibar.

Selfie with Wendy
Awalnya parno dan ga terlalu confident untuk ikutan trainingnya, secara peserta yang datang adalah yang sudah berpengalaman soal training-trainingan. Tapi kesempatan ini ga bisa dilewatkan! Apalagi mentornya Wendy Gorton, yang sudah langlang buana ke berbagai negara untuk memberikan training, terutama yang berhubungan dengan Google for Education. Wendy juga adalah bagian dari EdTech Team, sebuah global network yang berfokus pada bidang edcuational technologists.
Tahun lalu, Wendy juga menjadi salah satu pemateri pada kegiatan Search Summit with Google di Yogyakarta. 

Dibanjiri Games Seru!

Saat menjadi pemateri di Search Summit with Google, Wendy memberikan banyak games saat menjelaskan. Wendy menjelaskan satu persatu produk Google Apps for Education dengan diselangi games. Seru banget! Presentasinya menjadi tidak membosankan.
Begitu juga dengan training Jawara ini. Diawal kegiatan, kita langsung diajak untuk maen game. Nama gamenya lupa. Pokonya intinya kita dikasih kertas untuk dituliskan rintangan kita saat memberikan training. Kertas itu ditempelkan pada suatu kain putih. Semua peserta harus menginjak kain dan membalikannya tanpa keluar dari kain. Setelah itu ambil kertas yang ditempel oleh orang lain, nyari orang tersebut dan ngobrol mengenai apa yang ditulisnya.

Pegel banget. Seru, meskipun kalah!

Salah satu game yang paling seru adalah game twister ini. Yang bertahan paling lama dan bisa menginjak warna sesuai instruksi, dia yang menang. Sayang saya harus kalah di awal permainan. Padahal hadiahnya Chrome Cast bo. Lumayan! 
Agenda dari training ini adalah soal change management Google Apps for Education. Tapi buat saya, ilmu yang paling bermanfaat dari training ini adalah gamenya. Saya kagum dengan cara Wendy mengajar yang penuh dengan kegembiraan, game, dan kreatifitas, tanpa menanggalkan inti dari materi yang disampaikan.
Dengan caranya, Wendy menunjukan dengan secara jelas bagaimana guru bisa memanfaatkan teknologi terutama Google Apps for Education di dalam kelas.

Saat main game lagi nih.

Jika semua guru di Indonesia seseru dan sekreatif Wendy, maju tenan lah anak Indonesia. Sekolah akan menjadi sangat berkesan untuk anak. Jika suatu saat saya menjadi pendidik, saya ingin seasyik dan sekreatif Wendy. Amin.

New Zealand, I’m Coming !

Beberapa hari yang lalu, sempat ada perbincangan singkat antara saya, teman-teman di kantor dan koh Yansen Kamto, atasan saya di kantor sekaligus mentor saya dalam berbagai hal. 
Saya bercerita kepada beliau bahwa saya juga ingin bisa berkuliah di Australia, seperti yang pernah dialaminya tahunan yang lalu. Koh Yansen bilang bahwa kuliah di sini dan di luar negeri sama saja. Saya iyakan untuk beberapa hal. Tapi tetap saja, saya ingin merasakan bisa menuntut ilmu di tempat yang benar-benar berbeda, orang-orang berbeda dan budaya yang berbeda.
Saya tahu bahwa di Indonesia sekalipun saya belum bisa berkuliah di universitas unggulan. Saya tahu bahwa saya baru bisa menempuh pendidikan Diploma, itupun harus ‘partime’. Tapi saya juga tahu bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama! 
Untuk berkuliah di sini saja, orangtua saya belum mampu. Apalagi jika minta dikuliahkan di luar negeri. Ngimpi maneh! Satu-satunya jalan benar untuk bisa mewujudkan itu adalah dengan beasiswa, betul?  

New Zealand Education Fair

Sekitar satu minggu yang lalu saya menemukan sebuah iklan di Facebook mengenai kegiatan New Zealand Education Fair. Saya ingat bahwa saya pernah membaca beberapa artikel yang membahas mengenai kualitas pendidikan di New Zealand yang bagus. Saya tertarik untuk ikut dan langsung daftar karena kebetulan pelaksanaannya (16/3/2014) di hari libur dan lokasinya sangat dekat dari Kantor. Lokasinya di Grand Hyatt Jakarta.
Foto di lokasi ada sih, tapi kualitasnya jelek. Jadi foto ini saja ya!

Seperti halnya education fair yang lain, banyak booth sekolah, universitas dan lembaga training yang siap memuaskan rasa penasaran orang yang datang. Karena memang saya tidak tahu mengenai kampus-kampus disana, saya hanya lewat dan lihat-lihat sebentar. Tapi yang paling menarik adalah booth New Zealand Asean Scholars Awards. Aha!

New Zealand, I’m Coming

Perjalanan ini masih sangat jauh dan panjang. Entah kapan saya bisa mengupayakan keinginan untuk bisa apply di program tersebut. Pun begitu, saya selalu berusaha nyicil untuk terus memantaskan dan memperbaiki diri untuk mewujudkan cita-cita mulia ini. #eaahh
Saya belum berangkat ke New Zealand sekarang ko. Mungkin 3 atau 4 tahun kedepan. Doanya ya!

Google Partners Academy: Jadi Agency Dadakan!

Saat pertama kali diinformasikan bahwa Kibar akan menyelenggarakan Google Partners Academy, saya langsung penasaran dan menjanjikan kepada diri sendiri untuk terlibat di kegiatan tersebut. Kenapa ya? Penasaran aja! Karena ini seperti sesuatu yang baru yang bisa saya pelajari dari Google.
Kegiatannya dilaksanakan di Art Hotel Jakarta pada tanggal 4 Maret 2014. Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi Kibar dan Adspecta, sebuah perusahaan konsultan digital yang dirintis oleh Mbak Novita Jong yang notabene adalah Ex-Googler yang berkantor di Singapore.

Tempatnya Oke Beud!

Sebetulnya alasan lain untuk kekeuh mau hadir di kegiatan ini adalah karena kegiatannya dilaksanakan di Art Hotel yang menurut saya konsep dari hotelnya sangat keren dan berbeda. Meskipun sebelumnya pernah singgah sebentar ke sini untuk cek ruangan, tapi rasanya belum puas sih kalo belum ubek-ubek dan kalo belum dapet foto selfie di semua spot yang keren #ehh

Peserta sedang makan siang! Di beberapa sudut ruangan juga ada muralnya.

Sesuai dengan namanya, tempat ini menonjolkan kemegahannya lewat seni yang artistik. Tampak depan hotel ini dihias dengan mural dan interior yang unik.

Bekerja, Belajar dan Bermain

Karena memang ini adalah bagian dari pekerjaan, saya harus datang lebih awal dari peserta dan membantu menyiapkan beberapa hal. Membantu di meja registrasi dan support peserta saat sesi diskusi. Ya lumayan lah, hitung-hitung dapat tiket gratis untuk bisa ikut training yang tarifnya lumayan besar untuk tiap sesinya (untuk partner Google diskon 90%).

Persiapan di meja registrasi sebelum kegiatan dimulai, bantu Mbak Kiki dan Mbak Cahya

Disela istirahat, saya sempatkan bermain untuk menelusuri beberapa spot menarik di tempat tersebut. Di lift, di ruang kosong menuju toilet sampai di toiletpun design interiornya keren banget. Tapi sayang, kebanyakan hotel yang pernah saya temui tidak begitu memperhatikan tempat ibadah, termasuk disini. Ruangannya besar sih, tapi ekspektasi saya ruangannya sekeren ruangan lain. Tapi yaudahlah ya!
Jadi Agency Dadakan
Peserta dari kegiatan ini adalah orang-orang perwakilan dari agency iklan yang sudah atau akan mulai menjadi Google Partners. Karena berhubungan dengan iklan, tentu saja produk Google yang dibahas juga seputar iklan, yaitu Google AdWords, Google Display Nework, Mobile Ads dan Youtube Ads.
Setelah bertugas di awal kegiatan, saya langsung menjadi peserta dadakan, menjadi agency dadakan berbaur dengan peserta lainnya sambil tetap bertugas menjadi kuncen microphone untuk memastikan peserta dapat melontarkan pertanyaannya denga suara lantang.
Materi yang disampaikan oleh Mbak Novita adalah seputar best practices yang diharapkan dapat diikuti oleh (calon) Google Partners agar dapat memaksimalkan campaign yang dibuat menggunakan tools dari Google Ads.
Saya buka website Google Partners ko. Bukan yang lain!
Meskipun belum terlalu banyak tahu soal Google Ads, materi yang disampaikan Mbak Novita sangat mudah dimengerti dan jelas. Untuk peserta yang sudah terbiasa dengan Adwords, mereka malah lebih asyik ngotak-ngatik dashboard Adwords ketimbang memperhatikan ke depan. Mungkin materinya terlalu basic kali ya untuk dia (lirik samping).
Secara keseluruhan konten acaranya menarik dan sempat terlintas dipikiran saya untuk mendalami Adwords. Karena saya yakin tools ini akan semakin banyak digunakan orang dan ya supaya ketika nanti punya usaha sendiri sudah mahir buat digital campaign pake Adwords.
Godaan terbesar dari kegiatan ini adalah kantuk yang tak kunjung pergi karena hasil bergadang di malam harinya. Kebiasaan dasar!

Search Summit with Google: Sebuah Awal Perjalanan Baru

Selama dua bulanan ini, banyak sekali hal baru yang saya alami. Dimulai dari keputusan untuk resign dari pekerjaan pertama saya, sampai dengan hijrah dari Bandung ke Jakarta untuk sesuatu yang lebih besar.
Saya kini menjalankan aktifitas harian disebuah perusahaan movement di Jakarta yang meskipun belum lama bergabung, saya mendapatkan banyak sekali values dan point of view yang baru dan yang saya inginkan.
Awal dari perjalanan baru ini adalah kegiatan Search Summit with Google yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 20 Juli – 22 Juli 2013. Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai kegiatan tersebut dan beberapa hal yang berkesan untuk saya.

Search Summit

Setelah terpilih menjadi salah satu Google Student Ambassador (GSA) 2013/2014, kami dikumpulkan dalam sebuah kegiatan untuk diberikan pelatihan mengenai produk-produk Google dan mengenai program itu sendiri.
Berbeda dengan summit GSA tahun lalu yang diselenggarakan di kantornya Google di Singapore, kali ini kegiatannya dilakukan di Yogyakarta. Meskipun batal untuk sekalian jalan-jalan ke luar negeri, tapi tidak mengurangi antusias saya untuk hadir pada summit yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai negara di Asia Tenggara ini.
GBG Managers Southeast Asia
Yang membuat summit kali ini lebih spesial adalah karena kali ini semua komunitas Google seperti Google Bussines Group (GBG), Google Developer Group (GDG) dan Maps Maker juga turut bergabung melakukan summit di waktu dan tempat yang sama.

I don’t Understand Your English!

Ini adalah kegiatan internasional pertama saya. Ketakutan saya tentu saja soal komunikasi dengan peserta yang berasal dari negara lain. Meskipun nilai pelajaran bahasa inggris saya saat di SMK tidak mengecewakan, tapi itu tidak menjamin bahwa saya bisa sukses berkomunikasi dengan mereka. Terlebih, mereka tidak mengerti Sunglish (Sunda English) yang sangat fasih saya bawakan.
Di hari ketiga kegiatan summit, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat presentasi perencanaan kegiatan yang akan kami buat setelah pulang kembali ke daerah masing-masing. Saya dikumpulkan bersama Nurul Basyiroh & Michael Diharja dari Indonesia, Franz Sarmiento & Christine Balili dari Phillipines, Chamini dari Sri Lanka, Nexus Chay dari Malaysia dan 2 peserta dari Pakistan yang saya lupa namanya. Kami menyebut nama kelompok kami dengan Fantastic 4 (Kelompok 4) !
Waktu itu hampir jam 3, tetapi semua masih bisa berbaik hati dengan kamera
Setelah dicoba dan dibiasakan, ternyata tidak sesukar yang saya pikirkan sebelumnya. Saya bisa berkontribusi meskipun dengan kemampuan bahasa inggris ngepas, intinya harus percaya diri dulu. Tetapi saya tetap tidak bisa mengerti dengan jelas ketika teman dari Pakistan menyampaikan pendapatnya. “Pardon, I don’t understand your english!”, sampai-sampai saya harus menanyakan berulang kali apa yang dia maksud. 
Seharian harus berbahasa inggris, membuat saya tidak tahan untuk segera mengobrol dengan Bahasa Sunda!

Sing, Dance and Dangdutan

Salah satu agenda yang menarik dari kegiatan Search Summit untuk saya adalah kegiatan Cultural Performace. Setiap negara harus menampilkan sebuah kesenian entah itu menyayi, menari atau melawak.
Peserta dari Indonesia sepakat bahwa semua peserta harus terlibat dalam penampilan ini. Kami memutuskan untuk membawakan cabe-cabean tari-tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan waktu latihan yang tidak banyak, kami latihan semaksimal mungkin hingga tengah malam.
Meskipun diawal sedikit berantakan karena banyak yang hadir latihan tidak tepat waktu dan kurang serius, kami semua puas dengan hasil akhir yang didapat. Saya merinding ketika semua penonton terlarut dalam tarian sinanggar tulo dan ikut berdendang. Inilah Indonesia, meskipun banyak berantakannya, kita bisa jika kita menyatukan kekuatan bersama! 
Sing penting joget !
Penampilan dari Indonesia ditutup dengan musik khas Indonesia yang membuat semua penonton mulai menggila. Yaudah sih!

Learn from Googler

Saya sangat menggilai produk-produk Google. Jauh sebelum saya tahu mengenai program Google Student Ambassador, saya follow banyak sekali blog produknya untuk sekedar mengetahui berita teranyar.
Saya selalu terkesan dengan dedikasi Google terhadap pendidikan yang dilakukannya secara berkelanjutan. Semisal Google Apps for Education dan melalui program Google Student Ambassador ini.
Ini menjadi pengalaman yang luar biasa, untuk bisa belajar banyak hal baru langsung dari para Googler yang datang dari berbagai penjuru dunia. Bahkan ada Googler yang datang langsung dari Mountaint View.
Wendy Gorton, Google Apps for Edu Expert

The dots just connected

Bayangkan, dalam kegiatan seperti ini kita akan bertemu dengan banyak orang baru dari negara berbeda dan latar belakang yang berbeda. Ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk menambah teman dan networking dari berbagai negara
Awal mula dari rutinitasi saya disebuah movement ini adalah dari kegiatan dan program Google Student Ambassador. Kegiatan ini sudah terbukti membukakan jalan untuk kesempatan-kesempatan baru, setidaknya untuk saya pribadi.

Go and learn!