Mengintip Moma, Intranetnya Google

Sebagai Google Student Ambassador, kita harus melakukan pelaporan setiap event/kegiatan yang dilakukan. Tapi sudah beberapa minggu ini, portal laporan tersebut tidak bisa diakses sehingga ada beberapa event saya seperti Google+ Batiknisasi Challenge dan Library+ Weeks yang belum dientry di portal tersebut. Agak geregetan sih, karena kalo belum tuntas seperti itu rasanya ada yang mengganjal. hehe

Semalam saya menerima email balasan dari NeeKhern C. (Program Manager Google Student Ambassador Program, South East Asia) mengenai kegiatan terbaru saya yaitu Welcoming Muharram yang baru saja disetujui. Sejak portal pelaporan tidak bisa diakses, beliau menambahkan informasi tersebut beserta link portal di signature emailnya. Saya iseng klik link menuju ke portal tersebut.

Tebak apa yang saya dapatkan? Tidak seperti biasanya, saya mendapatkan tampilan login Moma!

Di bawah tulisan Moma, ada tulisan inside Google. Saya langsung berfikir ini adalah aplikasi internal Google dan mungkin tidak sengaja ditampilkan oleh salah satu Googler(sebutan untuk karyawan Google) yang sedang memperbaiki portal pelaporan untuk Google Student Ambassador.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari arsip blog Google Blogoscoped tahun 2007, Moma adalah sebuah intarnet di Google. Sederhananya, Moma adalah sebuah aplikasi berbasis web yang dibuat untuk kebutuhan internal di Google.

Di bagian footer Moma, dituliskan misi dari aplikasi ini yaitu “Organize Google’s information and make it accessible and useful to Googlers.”. Dari misinya saja sudah menjadi jelas apa kegunaan dari Moma ini. Yang sampai saat ini belum jelas adalah arti dari kata Moma yang dipakai oleh Google untuk aplikasi ini.

Homepage Moma, Sumber: http://goo.gl/hMFLJD

Lalu apa saja yang bisa dilakukan di Moma? Masih data dari Google Blogscoped yang mereka kutip dari blognya Doug Edwards (Xoggler/mantan karyawan Google yang juga penulis buku I’m Feeling Lucky ), bahwa dengan menggunakan Moma mereka dapat melakukan pencarian data karyawan, status project yang sedang dikerjakan dan berita internal terbaru.

Data karyawan disajikan komplit dengan daftar nomor telepon, email dan project yang sedang/pernah/akan dikerjakan. Untuk sebuah perusahaan sebesar Google yang karyawannya ribuan dan tersebar di seluruh dunia, aplikasi seperti ini memang sangat diperlukan.

Kalo suatu saat saya punya aplikasi internal untuk perusahaan, saya akan kasih nama Bopa saja ah. Bagaimana dengan kamu? 🙂

Google Hummingbird? Algoritma Apalagi Ini?
























“You give me that hummingbird heartbeat. Spread my wings and make me fly.” – Katy Perry, Hummingbird Heartbeat
Ketika pertama kali mendengar bahwa Google melakukan perbaharuan(lagi) pada algoritma pencariannya, yang langsung terpikir di benak saya adalah penggalan lirik Hummingbird Heartbeat-nya Katy Perry.
Setelah sebelumnya Google juga memperkenalkan algoritma Panda yang mengingatkan saya kepada film animasi Kungfu Panda dan Penguin yang mengingatkan saya kepada film animasi Happy Feet. Yang menjadi pertanyaan adalah, binatang apa lagi yang akan digunakan oleh Google pada alrogritma selanjutnya? Oke, abaikan dulu pertanyaan tersebut karena saya tidak akan bahas binatang disini. Hehe

Apa itu Algoritma Pencarian?

Sederhananya, algoritma pencarian adalah sebuah mekanisme yang digunakan oleh mesin pencari Google untuk mengumpulkan informasi dari miliaran halaman web dan mengurutkannya berdasarkan informasi yang dirasa paling sesuai dengan kebutuhan pengguna. Jika semisal kita mengetikan “Sumedang” (nama kampung halaman saya anyway. hehe) pada isian pencairan, maka Google akan mengumpulkan web yang relevan dengan “Sumedang”, mengurutkannya lalu menampilkannya ke pengguna.
Sumedang Tandang Nyandang Kahayang

Google Hummingbird, Sang Penjawab

Pada ulang tahunnya yang ke-15, Google mengumumkan algoritma pencariannya yang baru, yang disebut dengan algoritma Hummingbird. Google mengatakan bahwa pada algoritma yang baru ini, mereka ingin memberikan hasil pencarian berdasarkan makna dari query yang ditulis secara keseluruhan ketimbang mengartikannya per-kata. Yang kemudian algoritma ini bisa kita sebut dengan Conversational Search.
Semisal ketika kita mengetikan query pada Google, “Dimanakah tempat terdekat untuk membeli Nexus?”. Dengan algoritma sebelumnya, mesin pencari mungkin akan terfokus pada kata “tempat” atau “nexus”. Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada manusia, maka jawabannya adalah suatu tempat yang menjual Nexus.
Google mencoba melakukan pedekatan tersebut. Pendekatan yang lebih human firendly pada hasil pencairannya.

Tanya Google Saja!

Hasil pencairan Manchester United
Seiring dengan algoritma baru yang sudah mulai Google gunakan pada bulan lalu, ada beberapa hal baru yang juga bisa kamu coba. Semisal dengan gadget jadwal pertandingan NBA, Premier League, Manchester United atau Formula 1. Ketikan saja kata kunci tersebut, maka Google tidak hanya akan menampilkan hasil pencairan, tapi juga gadget berupa jadwal pertandingan. Kini Google bukan hanya sekedar mesin pencari, tapi juga mesin penjawab, right?
Lalu apa keuntungan perbaharuan algoritma ini untuk kita sebagai pengguna mesin pencari Google? Tentu saja pada kualitas konten yang akan kita dapatkan teman. Kita tidak harus terlalu dipusingkan dengan munculnya hasil pencarian yang tidak berkualitas!
Sumber:
Posting ini sudah pernah dipublikasikan untuk Blognya Google Student Ambassador Bina Sarana Informatika.

Inilah yang Paling Populer di Google+

Sejak pertama kali dirilis pada tahun 2011, Google+ mengalami perkembangan pengguna aktif yang cepat (sekarang menggeser twitter). Bahkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Search Metrics, diperkirakan pada tahun 2016, Google+ akan membabat habis tahta Facebook sebagai rajanya social media hingga saat ini.

Pertumbuhan Google+ di Indonesia, mulai semakin terasa ketika Pak Susilo Bambang Yudhoyono mulai aktif di Google+ dan sempat melakukan rapat koordinasi melalui Google+ Hangout. Tidak sampai disitu, program-program yang dibuat oleh Google Indonesia, seperti Share The Stage juga semakin menambah ramainya pertumbuhan Google+ di Indonesia.

Share The Stage sendiri adalah sebuah proyek hasil kolaborasi Google Indonesia dengan beberapa perusahaan rekaman seperti PT Warner Music Indonesia, PT Musica Studio’s, PT Sony Music Entertainment Indonesia, Majalah HAI dan Gen FM. Proyek ini menyasar segmentasi anak muda yang menyukai musik. Sasaran yang tepat dimana anak muda akan lebih adaptif terhadap platform social media yang masih terbilang baru seperti Google+.

Britney Spears, Primadona Google+

Britney Spears Populer di Google+

Berdasarkan data dari GPlusData, website yang menyediakan informasi komprehensif mengenai trends dan statistika yang terjadi di Google+, mencatat bahwa Britney Spears adalah orang yang paling banyak difollow di Google+. Tercatat sebanyak 7.996.413 yang menambahkan Britney Spears ke dalam lingakarannya. Sedangkan posisi kedua ditempati Lady Gaga dengan jumlah followers sebanyak 7.868.641.

Duo Google Guys, yaitu Larry Page dan Sergey Brin juga masuk ke dalam jajaran 20 besar orang yang paling banyak difollow. Larry Page berada si posisi ke-3 sedangkan Sergey ada diposisi ke-19.

Pada GPlusData, selain informasi orang yang paling banyak di follow, juga ada informasi mengenai page yang paling sering difollow, page yang pertumbuhan followernya paling cepat hingga Google+ Community dengan member terbanyak.

Bagaimana di Indonesia?

Jika Britney Spears adalah orang yang paling banyak difollow di Google+, lalu siapa orang Indonesia yang paling banyak difollow di Google+ ? Apakah juga selebritis seperti Britney?

Ternyata tidak! Adalah Enda Nasution yang menjadi orang Indonesia yang paling banyak di follow. Beliau adalah blogger senior yang sudah memulai blogging di tahun 2001. Meskipun bukan selebritis seperti Britney, beliau terkenal karena sering mengisi berbagai seminar dan workshop. Tidak heran kalo begitu jika kang Enda Nasution menjadi yang paling banyak difollow.

Jajaran 20 besar (di Indonesia) didominasi oleh blogger dan praktisi dunia digital seperti Daniel Tumiwa (Penggiat E-Commerce), Benazio Rizki (Blogger), Natali Ardianto (Co-Founder Tiket.com), Christian Sugiono (Founder MalesBanget.com). Sedangkan Pak Susilo Bambang Yudhoyono masih betah di posisi 14 (makin lama makin mirip VJ MTV nih gue. Hehe)

Terlihatkan pertumbuhan Google+ di dunia maupun di Indonesia? Siapkan diri kamu untuk tidak ketinggalan bersosial di social media masa depan.

Posting ini sudah pernah dipublikasikan untuk Blognya Google Student Ambassador Bina Sarana Informatika.

Almost Everything Comes from Nothing

Faktanya memang seperti itu, hampir semua hal berawal dari tidak ada dan bukan bukan apa-apa. Untuk mewujudkan nothing to something mungkin akan ada banyak hal yang harus dilalui, tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita percaya. Posting ini memang nothing, tapi mudah-mudahan menjadi awal untuk sesuatu yang lebih besar, right?
Lewat blog ini saya akan berbagai mengenai petualangan coding, project yang sedang dikerjakan atau sesuatu yang mungkin kurang penting. Selain alasan berbagi, blog ini akan menjadi semacam dokumentasi dari apa yang sudah, sedang dan akan saya pelajari.